Teungku Sayyid Deqy: Perjalanan Panjang Menyusun Korpus Mapur

 
Bahasa Indonesia/ English
 
Semangat meneliti dan menulis suatu karya ilmiah secara sistematis di Indonesia terbilang masih sangat rendah, terlebih jika penelitian tersebut dilakukan tanpa dukungan dana dari suatu instansi atau lembaga. Pun, bila ada penelitian mandiri sering kali dilakukan pada suatu bidang keilmuan tertentu, yaitu bidang keilmuan eksakta. Mengingat minat yang rendah terhadap penelitian ilmu sosial budaya, maka hampir-hampir tidak ada orang yang melakukan penelitian mandiri.
 
Penelitian ataupun kajian-kajian sosial budaya penting untuk dilakukan, suatu masyarakat dan dinamika-dinamika sosial yang terjadi didalamnya perlu dipahami sehingga pengambilan kebijakan dalam pembangunan masyarakat menjadi tepat sasaran. Penelitian sosial budaya juga merupakan suatu bagian dari upaya besar pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan budaya yang didalamnya terdapat nilai-nilai luhur dan agung. Teungku Sayyid Muhammad Deqy Baraqbah, merupakan satu dari sedikit orang tersebut yang telah berhasil melakukan suatu penelitian sosial budaya secara mandiri dan menerbitkannya dalam satu karya buku, Korpus Mapur dalam Islamisasi Bangka.
 
Didikan Keras Ayah
 
Deqy dilahirkan di Belinyu, 20 Mei 1982, anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Teungku Sayyid Muhammad Tharmyn Baraqbah dan Engku Syarifah Rusmiaty Ishaq. Keluarga Deqy merupakan keturunan dari campuran Arab. Ayahnya, Teungku Sayyid Muhammad Tharmyn Baraqbah merupakan keturunan Arab Aceh Bangka. Sementara itu ibunya, Engku Syarifah Rusmiaty Ishaq merupakan keturunan Arab Betawi Bangka. Meski berdarah Arab, Deqy dibesarkan dalam kultur Melayu yang kental akan nilai-nilai agama Islamnya. Ia didik dengan sangat keras dan disiplin tinggi oleh ayahnya.
 
Ayah Deqy bekerja di kapal keruk milik PT Timah, ia hanya pulang ke rumah selama tiga hari setiap sepuluh hari kerja. Kegiatan sehari-hari Deqy beserta kakak dan adiknya dijadwal dengan sangat ketat. Mereka harus mengikuti jadwal yang telah ditulis tangan dan ditempel di dinding oleh ayah mereka, mulai dari bangun pagi dan sholat subuh, sekolah, mengaji, membantu pekerjaan ibu, hingga tidur di malam hari. Begitu pula dengan porsi makan, Deqy beserta kakak dan adiknya dilarang untuk makan berlebih bahkan bila hari sudah malam, mereka dilarang untuk makan.
 
Sosok ayah bagi Deqy dan kakaknya saat mereka masih kecil merupakan sosok yang menakutkan. Selalu ada hukuman bagi mereka jika melanggar aturan yang dibuat oleh sang ayah. Pernah suatu kali Deqy mendapat hukuman dikurung di kandang ayam tanpa diberi makan karena ia bermain dorong-dorongan meja yang baru dibeli hingga tanpa sengaja  membuat adiknya terluka. Deqy dan saudara-saudaranya dididik keras untuk menjadi pribadi yang survive yang mampu bertahan dalam segala keadaan. Kerasnya didikan ayah digambarkan melalui salah satu pengalaman Deqy dan kakaknya belajar berenang di sungai bersama dengan ayah mereka sampai akhirnya kakaknya koma selama dua hari.
 
Deqy dan Rubuk Kepiting
Deqy kecil sangat jarang bermain dengan teman-teman sebayanya. Ia dan keluarganya tinggal di tanah perkebunan milik kakeknya yang luas di Pasir Merah, yang letaknya agak terpencil dari Dusun Bukit Tani, Belinyu. Oleh karena itu, Deqy beserta kakak dan adik-adiknya memiliki tanggung jawab untuk menjaga perkebunan milik kakek, rumah dan ibu, mengingat ayahnya yang jarang pulang ke rumah. Dengan tanggung jawab yang besar itu Deqy dan kakaknya diajarkan dengan keras oleh ayah mereka cara-cara untuk bertahan dan melindungi diri.
 
Agar dapat bertahan dan melindungi diri, Deqy dan kakaknya diajarkan cara untuk menggunakan senjata, baik cara memanah maupun cara menembak dengan senapan. Bahkan, keluarga Deqy memiliki lapangan di halaman rumah mereka untuk berlatih menembak dan memanah. Selain belajar menggunakan senjata, Deqy dan kakaknya diajarkan juga cara berburu seperti belapun atau merepas burung oleh ayah mereka. Karena itulah kehidupan Deqy kecil sangat dekat dengan alam, sehingga ia mencintai alam dan senang berpetualang di hutan-hutan.
 
Keterampilan Deqy dalam menggunakan senjata juga didapat dari kakeknya. Kakek merupakan figur ayah bagi Deqy beserta kakak dan adik-adiknya manakala sang ayah jauh dari mereka. Kakek memberikan kasih sayangnya pada Deqy beserta kakak dan adik-adiknya pada saat mereka membutuhkannya. Setiap hari kakek Deqy datang mengunjungi mereka dan mengajari mereka banyak hal, terutama nilai-nilai agama. Pelajaran tentang kemandirian dan kemampuan untuk bertahan serta melindungi diri yang telah diajarkan oleh ayah Deqy juga diperkuat oleh kakeknya. Meskipun demikian, cara sang kakek dalam mendidik mereka tentu saja berbeda dengan cara sang ayah. Didikan kakek dapat digambarkan melalui sebuah pepatah “kasih kakek kepada cucunya lebih besar daripada kasih pada anaknya sendiri”.
 
Banyak hal yang dipelajari Deqy dari kakeknya, baik itu belajar silat, membuat prakarya dari kayu, menggambar, hingga belajar bahasa asing. Dari kakek, Deqy mempelajari bahasa Jepang dan bahasa Inggris sementara dari ayah ia juga belajar bahasa Arab dan bahasa Belanda. Meskipun demikian, bahasa yang sering Deqy gunakan adalah bahasa Arab pasar campur Melayu saat ia berkumpul dengan keluarga besarnya. Selain belajar itu, Deqy juga belajar berdagang dari kakeknya dengan ikut berjualan pasir kuarsa. Pada waktu itu kakek Deqy memiliki sebuah mobil truk. Mobil itu digunakannya untuk mengantarkan pasir yang telah dipesan oleh pembeli. Deqy dan kakaknya sering ikut membantu kakeknya mengantarkan pasir kepada pembeli dan ia mendapatkan upah dengan membantu kakeknya. Ketika musim buah telah tiba, Deqy sering kali menjual buah dari kebunnya ke pasar dan hasil penjualannya itu selalu ditabungnya.
 
Masa-masa dari SD hingga SMP, karena suatu keharusan, Deqy memang tidak memiliki waktu luang yang banyak dengan ayahnya. Namun semua itu berubah ketika Deqy SMA, sosok ayah yang menakutkan perlahan berubah seiring Deqy tumbuh dewasa dan mampu melihat suatu masalah dari sisi yang berbeda. Deqy mulai melihat sisi baik didikan sang ayah dan memahami alasan dibalik cara ayahnya mendidik mereka. Semasa kecil penilaian Deqy masih sangat sempit terlebih ia jarang bertemu dengan ayahnya, namun setelah ayahnya pindah ke kantor Timah Belinyu dan sering menghabiskan waktu bersama, Deqy pun mulai melihat sisi baik dan kelembutan dari ayahnya. Bahkan ayahnya menjadi sumber dari segala inspirasi dan sahabat sejati bagi Deqy.
 
Jalan Yang Tak Terduga
 
Ayah sebagai orang yang memiliki peran penting dalam kehidupan Deqy memiliki pengaruh yang besar dalam karir Deqy, meskipun pada dasarnya ia tak pernah menentukan jenis pekerjaan yang harus Deqy jalani. Setelah menamatkan pendidikannya dari bangku SMA, Deqy melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Selama Deqy berkuliah, karena ketertarikannya pada dunia otomotif, ia bekerja lepas waktu di salah satu perusahaan otomotif sebagai desainer mobil. Dengan bekerja lepas waktu sebagai desainer mobil, Deqy dapat sedikit meringankan beban orang tua untuk menyekolahkannya. Oleh karena itu ia tidak terlalu bergantung pada uang yang dikirimkan oleh orang tuanya.
 
Kemampuan Deqy mendesain mobil didapat dari ayah dan kakeknya. Deqy memang memiliki darah seni dari ayahnya. Ayah Deqy, Tharmyn adalah seorang pemain saksofon, selain mengajarkan anak-anaknya cara menggunakan senjata ia juga mengajarkan anak-anaknya bermain musik dan menggambar. Hampir semua anak-anak Tharmyn dapat memainkan alat musik seperti gitar, seksofon, biola hingga piano, kecuali anak ke duanya, Deqy. Deqy ingat, setiap kali ayahnya pulang ke rumah mereka selalu mengadakan perayaan dengan bermain musik untuk menyambut kepulangan ayah mereka. Ibu bernyanyi, kakaknya memainkan piano, adiknya memainkan biola, dan ia karena tak pandai bermain musik, hanya memainkan hadrah.
 
Minat terhadap musik dalam diri Deqy mungkin lebih sedikit dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, namun dalam berkesenian ia memiliki kepandaian dalam menggambar. Deqy memiliki hobi menggambar desain mobil. Ketertarikan Deqy terhadap dunia otomotif semakin besar saat ia duduk di bangku SMA, waktu itu ia sering mengirimkan desain mobil ke rubik-rubik otomotif di Kebon Jeruk, Jakarta. Setiap minggu desain mobil Deqy ditampilkan dalam rubik desain otomotif tersebut dan ia dibayar sebesar seratus ribu rupiah setiap kali desainnya di tampilkan—jumlah uang yang besar pada saat itu bagi anak SMA seusia Deqy.
 
Keahlian Deqy dalam mendesain mobil terus dikembangkannya selama ia kuliah di Yogyakarta. Deqy belajar mendesain mobil di Modern School of Desain Yogyakarta, namun pihak perusahaan otomotif sepert PT. Astra Motor lebih menyukai desain mobil dengan pola tangan dibandingkan dengan gambar grafis komputer. Pada akhirnya Deqy lebih mendalami desain mobil dengan pola tangan. Keahlian Deqy dalam mendesain mobil teruji saat ia berhasil memenangkan lomba desain mobil yang diselenggarakan oleh PT Astra Motor. Desain mobilnya tersebut kemudian dikirimkan ke Jepang dan ia mendapat kontrak sebagai tenaga desain lepas waktu di PT Astra Motor, Honda Prospect Motor (HPM) dan Daihatsu. Setiap desain mobil yang dibuat oleh Deqy dihargai sebesar dua juta rupiah. Akan tetapi Deqy kemudian mendapatkan nasihat penting dari seorang profesor bernama Prof. Suparto Soejatmo, Direktur PT Indo Techno Mandiri. Nasihat yang didapat yaitu nasihat tentang penghargaan atas karya yang dibuat oleh Deqy yaitu bahwasannya karya yang ia buat tidak boleh hanya dihargai dengan uang akan tetapi juga harus memiliki hak paten. Deqy akhirnya bekerja pada PT Indo Techno Mandiri, ia membuat desain eksterior-interior mobil untuk perkebunan kelapa sawit di lahan gambut di Kalimantan. Deqy banyak mengirimkan desain mobil untuk PT Indo Techno Mandiri namun, hanya satu desainnya yang pernah digunakan, meskipun demikian Deqy tetap mengirimkan desain-desainnya sembari menimba ilmu dari perusahaan ini dan juga menyelesaikan pendidikannya di fakultas ekonomi. 
 
Setelah mendapatkan gelar sarjana ekonominya tahun 2004, Deqy mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikannya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu strata dua. Ia mendaftar ke UPN dengan memilih fakultas pertambangan dan karena ia memiliki gelar sarjana ekonomi, maka Deqy hanya boleh memilih jurusan AMDAL. Di semester pertama, Deqy memiliki IPK yang cukup baik untuk mahasiswa yang tidak memiliki ilmu dasar pertambangan bahkan jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain yang memiliki ilmu dasar pertambangan. Deqy ingat tugas pertamanya di jurusan AMDAL yaitu membuat reservoir pasir sedimentologi dimana ia mendapatkan nilai A, meskipun demikian ia tidak dapat mempelajari ilmu pertambangan secara spesifik dikarenakan ia tidak memiliki dasar ilmu pertambangan. Pada semester ke tiga Deqy memutuskan untuk berhenti kuliah dan melamar pekerjaan di Pusyandik Bakti Timah di Pangkalpinang yang sekarang telah berubah menjadi PT. RS Bakti Timah. Hingga saat ini Deqy telah bekerja di PT. RS Bakti Timah selama sepuluh tahun dan sekarang menjabat sebagai Ka. Rumenerasi SDM disamping ia bekerja sebagai desainer mobil.
 
Dorongan Menulis
 
Sebelum menulis buku Korpus Mapur: Islamisasi di Pulau Bangka, Deqy tak pernah mengira bahwa dirinya akan melakukan penelitian ilmiah dan menulis sebuah buku. Semuanya berawal dari permintaan sang ayah kepada Deqy untuk membuat sebuah tulisan tentang Mapur. Ayah Deqy memiliki banyak kumpulan naskah-naskah kuno yang berisi sejarah di Pulau Bangka baik naskah yang berbahasa Belanda maupun yang bertuliskan huruf Arab. Pada mulanya Deqy sama sekali tidak memiliki minat untuk menulis, terlebih-lebih menulis tentang Mapur. Hingga saat ini meskipun masyarakatnya telah terbuka terhadap budaya luar, akan tetapi stereotipe yang melekat pada orang Lom Mapur dan lingkungan Mapur tetap menjadikan mereka sebagai kelompok marginal. Anggapan bahwa Mapur merupakan tempat yang sarat akan ilmu hitam (black magic) dan hal-hal gaib yang menjauhkan interaksi kelompok mayoritas terhadap mereka.
 
Dorongan agar Deqy mau menulis tentang Mapur dari ayah semakin kuat. Hampir setiap kali Deqy pulang ke rumahnya di Belinyu, ayahnya selalu menanyakan apakah Deqy sudah mulai menulis tentang Mapur. Hingga pada suatu hari Deqy diajak oleh ayahnya untuk berkunjung ke Mapur. Dari kunjungannya tersebut Deqy banyak menemukan hal-hal baru yang menarik perhatian Deqy. Ayah Deqy melihat bahwa anaknya memiliki apa yang ia sebut sebagai ketajaman batin, ia percaya bahwa anaknya lebih peka terhadap situasi sosial di sekelilingnya sehingga ia mendorongnya untuk membuat sebuah tulisan.
 
Ayah Deqy menganjurkan agar Deqy melakukan penelitian mengenai masuknya agama Islam di Pulau Bangka. Keluarga Deqy memiliki silsilah keluarga dari Cermin Jati yang di dalam naskah milik ayah Deqy disebutkan bahwa Cermin Jati merupakan orang yang menyebarkan agama Islam di Gunung Pelawan. Pertanyaan pertama pun muncul di dalam benak Deqy, tentang jati diri Cermin Jati tersebut. Deqy kemudian mengumpulkan beberapa informasi dari orang-orang tua yang ada di Mapur dan dukun-dukun di Mapur mengenai identitas Cermin Jati. Dari informasi awal yang di dapat tersebut kemudian Deqy memutuskan untuk menulis tentang sejarah Islam yang berawal dari Cermin Jati. Cermin Jati merupakan tokoh yang pernah hidup di Gunung Pelawan dan di Mapur.
 
Pengumpulan data mengenai sejarah Islam dan kaitannya dengan tokoh Cermin Jati dilakukan oleh Deqy selama hampir dua tahun dari tahun 2006. Selama itu ia melalukan perjalanan untuk mendatangi tempat-tempat yang diduga memiliki kaitannya dengan penelitian yang dilakukan, alhasil perjalanan tersebut membuat Deqy berkeliling-kelilingi Pulau Bangka. Setelah data terkumpul cukup banyak Deqy mulai menemui masalah pertamanya, yaitu masalah pengelolaan data yang telah ia peroleh selama dua tahun. Harus diingat bahwa Deqy sama sekali tidak memiliki bekal keilmuan yang tepat untuk melakukan sebuah penelitian sejarah dan budaya. Deqy kemudian mendapat petunjuk untuk pergi ke Palembang dan melakukan konsultasi ke Badan Arkeologi Palembang.  
 
Deqy menceritakan secara panjang lebar tentang penelitiannya kepada Badan Arkeologi Palembang. Dari Badan Arkeologi Palembang, Deqy diarahkan ke Universitas Gajah Mada dan disana ia bertemu dengan seorang dosen dari Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sejarah, yaitu Prof. Dr. Bambang Purwanto. Melalui penelitian ini, Deqy banyak berkenalan dengan pakar-pakar yang menjadi tempat baginya untuk berkonsultasi mengenai penelitiannya. Beberapa pakar yang membantu penelitian Deqy antara lainnya adalah Prof. DR. Dien Majid dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. DR. Ahmad Syafi’i Ma’arif dari Yogyakarta, dan ke Prof. DR. Jalaluddin Mahmuddin dari IAIN Raden Fatah Palembang, yang tak lain adalah kakek Deqy sendiri dari sebelah ibu. Deqy merasa sangat bersyukur karena ia mendapat banyak dukungan dan apresiasi terhadap penelitiannya dari pakar-pakar yang ia temui tersebut. Melalui para pakar tersebut Deqy mendapat arahan mengenai teori-teori yang dapat Deqy gunakan dalam penelitiannya. Alhasil, Deqy pun mempelajari berbagai macam disiplin ilmu seperti ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, sastra, arkeologi, arsitektur, kaligrafi, dan epigraphi.
 
Dukungan untuk melakukan penelitian dan menulisnya menjadi sebuah buku yang berkualitas tidak hanya dibutuhkan oleh Deqy pada masa-masa awal penelitian, akan tetapi ia membutuhkannya hampir disepanjang masa penelitian. Pernah satu kali Deqy menemui sebuah masalah yang membuatnya berhenti melakukan penelitian selama enam bulan. Ayah Deqy yang semenjak awal adalah orang yang paling mendukung anaknya melakukan penelitian pun datang menemuinya di Pangkalpinang. Ia mengingatkan Deqy bahwa dirinya telah banyak membantu Deqy melakukan penelitian oleh karena itu Deqy tidak boleh berhenti begitu saja dan membuat usaha yang telah dilakukan dan usaha dari orang-orang yang pernah membantunya menjadi sia-sia. Deqy harus bisa mengatasi kebuntuannya dan menghargai orang-orang yang telah menolongnya dengan melanjutkan penelitiannya hingga selesai.
 
Deqy saat melakukan pengambilan sampel

 

Semangat untuk menyelesaikan penelitian juga ditemukan Deqy dari pengalamannya bertemu dengan salah seorang informan di daerah Pupus, Belinyu yang bernama Atuk (sebutan untuk orang tua) Yakub seorang dukun patah tulang. Pengalaman ini agak tidak biasa bagi Deqy karena pada saat bertemu untuk yang pertama kalinya, Atuk Yakub mengemukakan bahwa dirinya telah belasan tahun mengenal Deqy dan menanti kedatangannya meskipun sebenarnya mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Atuk Yakub mengakui bahwa seharusnya hari itu ia pergi ke Gunung Maras, namun ia mendapat bisikan agar mengurungkan niatnya karena akan bertemu dengan orang serupa Arab yang tak lain adalah cucunya. Atuk Yakub pun mengetahui bahwa Deqy sedang melakukan penelitian yang ia sebut sekrepsi dalam bahasanya, akan tetapi ia berpesan kepada Deqy agar penelitiannya berhasil maka Deqy pertama-tama harus mendapatkan restu dari “yang memiliki Bangka” yaitu ulama yang mendiami Gunung Maras, Cermin Jati. Kemudian Atuk Yakub memeluk Deqy, mengucapkan salam, dan mengajaknya untuk mufakat. Dengan perasaan yang aneh dan tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, Deqy setuju untuk melakukan mufakat dan mendapatkan restu. Meskipun itu adalah peristiwa yang aneh bagi Deqy, akan tetapi ia tidak menyangkal bahwa dirinya merasa lebih bersemangat dalam melaksanakan penelitiannya. “Hanya lebih bersemangat saja”, ia menekankan.
 
Tahun-Tahun Berat
 
Penelitian yang dilakukan Deqy mengharuskannya untuk mengunjungi tempat-tempat yang di duga memiliki kaitan dengan masuknya agama Islam di Bangka. Oleh karena itu, di tahun kedua hingga tahun ke enam penelitiannya, sembari melakukan konsultasi ke beberapa pakar Deqy juga berusaha untuk mengumpulkan data-data baik di Bangka Belitung, Yogyakarta, Banten, Demak, Cirebon, Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Pekanbaru-Siak, Aceh, dan Barus-Medan. Penelitian yang dilakukan Deqy menuntutnya untuk meluangkan banyak waktu, baik waktu untuk pengumpulan data, waktu untuk berkonsultasi dan mempelajari teori-teori yang mendukung penelitiannya, serta waktu untuk menyusun, menganalisis dan menulis. Sementara itu, Deqy memiliki kewajiban terhadap pekerjaan utamanya yaitu sebagai karyawan PT. RSBT.
 
Deqy menyadari bahwa dirinya harus memiliki manajemen waktu yang baik agar ia dapat melaksanakan penelitiannya tanpa melalaikan tugas. Deqy menggunakan hari-hari liburnya seperti hari Sabtu dan hari Minggu untuk berkeliling Pulau Bangka mencari data-data. Terkadang bila dirasakan penting, Deqy juga mengajukan izin untuk mengumpulkan data kepada atasannya. Sementara untuk mengumpulkan data di tempat-tempat di luar Pulau Bangka, Deqy menggunakan waktu cuti tahunannya. Deqy bahkan diperbolehkan untuk mengambil hak cuti di tahun berikutnya untuk melakukan perjalanan ke luar daerah.
 
Deqy beruntung, ia memiliki atasan yang mengerti akan apa yang sedang dilakukan olehnya sehingga ia mendapatkan kemudahan untuk menjalankan penelitiannya. Ibu Mariama, atasan Deqy berpesan padanya bahwa ia akan memberikan kemudahan yang dibutuhkan Deqy selama Deqy melakukan penelitian dengan bersungguh-sungguh, namun bila ia menemukan Deqy tidak serius dengan penelitiannya maka ia akan menindaklanjuti dan menganggap Deqy sebagai karyawan yang tidak disiplin. Oleh karena itu, setiap kali Deqy mengajukan izin untuk melakukan penelitian, ia harus menyampaikan laporan penelitiannya kepada atasannya.
 
Selama mengerjakan penelitiannya, Deqy selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap detik waktu yang ia miliki. Ia hanya memiliki empat atau lima jam saja untuk beristirahat di malam hari. Setelah pulang dari kantor pukul lima sore, Deqy bersiap untuk sholat Magrib lalu setelah ia menunaikan sholat Isa ia akan pergi tidur. Biasanya pukul dua belas malam atau satu dini hari Deqy terbangun dan mengerjakan penelitiannya hingga subuh. Saat waktu Subuh tiba, Deqy segera menunaikan sholat Subuh dan bersiap untuk bekerja. Kadang kala, bila di kantornya ia tidak memiliki banyak pekerjaan maka Deqy diperbolehkan untuk mengerjakan penelitiannya di kantor, seperti mengetik dan mencetak dengan menggunakan fasilitas kantornya.
 
Penelitian yang dilakukan oleh Deqy tidak hanya membutuhkan manajemen waktu yang baik, namun juga membutuhkan dana yang besar. Deqy memilih untuk membiayai penelitiannya secara mandiri dan ini merupakan masalah lain yang menuntut Deqy untuk bekerja lebih keras dan lebih banyak bersabar. Kesabaran Deqy benar-benar diuji manakala ia menemukan masalah pendanaan. Masalah ini pula yang membuatnya pernah kehilangan semangat dan membuat ayahnya khawatir pada dirinya karena berhenti melakukan penelitian selama enam bulan. Akan tetapi, Tuhan memiliki rencana-Nya sendiri. Pada saat itu ayah Deqy baru saja menerima uang pensiunan sebesar dua ratus juta rupiah, setengah dari uang pensiunan itu ia berikan kepada Deqy untuk mengatasi masalah yang dihadapi anaknya meskipun Deqy sendiri tak pernah memintanya.
 
Air mata Deqy jatuh, mana kala ibunya turut memberikannya uang yang telah disimpannya dari hasil berjualan kue. Uang yang diberikan oleh ibunya adalah pecahan seribu, dua ribu, lima ribu dan sepuluh ribu yang telah kumal. Setiap minggu ibunya dapat mengumpulkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah, sehingga dalam sebulan ia dapat menyimpan uang untuk membantu Deqy membiayai penelitiannya sebesar delapan ratus ribu hingga satu juta rupiah. Ibunya berpesan, Deqy agar dapat menggunakan uang yang ia simpan, dan selagi ia mampu ia akan membantu Deqy dan berharap agar anaknya itu tidak perlu mengkhawatirkan masalah uang. Ibu Deqy sadar akan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh anaknya itu, selain untuk menghidupi istrinya, Deqy juga harus membayar uang sewa rumah selama ia tinggal di Pangkalpinang.
 
Gaji yang diterima oleh Deqy tentu saja tidak cukup bila ditambah dengan beban biaya penelitian meskipun memiliki penghasilan lain dari mendesain mobil. Deqy sebenarnya tak tega untuk menerima uang pemberian ibunya, dalam hatinya seharusnya ia-lah yang seharusnya memberikan uang kepada orang tuanya. Namun setelah ibunya memaksa dan sadar akan masalahnya, ia terpaksa menerima pemberian sang ibu. Deqy berkata pada ibunya bahwa uang yang ia terima dari ibunya adalah hutang dan suatu saat ia akan mengembalikannya. Tentu saja, ibu Deqy menolaknya. Ia ingin agar Deqy menggunakannya tanpa perasaan terbebani karena harus mengembalikannya.
 
Mendekati babak akhir penelitian Deqy, uang yang diberikan oleh sang ayah telah habis begitu pula dengan uang pemberian ibunya yang sebenarnya tidak cukup untuk membiayai penelitiannya. Deqy pun merasa bahwa ia telah terlalu banyak menggunakan uang dari orang tuanya, sehingga ia akhirnya memutuskan untuk berhenti menggunakan uang dari orang tuanya. Saat kedua orang tuanya mendesaknya untuk menceritakan tentang rencana pendanaan penelitian selanjutnya Deqy menjelaskan bahwa dirinya akan mengusahakan sendiri sisanya dan penelitiannya pun sebenarnya hampir rampung. Pada saat itu, Deqy setidaknya masih membutuhkan uang sebesar seratus juta lebih untuk membantunya menyelesaikan penelitian.
 
Deqy berusaha untuk meminjam uang ke bank untuk menutup biaya penelitian yang masih kurang. Dari bank ia pun mendapatkan pinjaman sebesar enam puluh juta rupiah dengan cicilan selama tiga tahun. Namun, pada akhirnya Deqy sadar bahwa ia tidak bisa memenuhi biaya penelitiannya dengan sistem pinjam meminjam, gali lubang tutup lubang. Deqy sendiri mulai ragu akan kemampuan dirinya untuk menyelesaikan penelitiannya. Sementara itu, ayah Deqy jatuh sakit. Ayahnya di diagnosa mengidap penyakit Parkin Syndrome. Ini adalah cobaan yang berat baginya, ia pun sempat menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang ia terima. Namun ia segera bangkit dan berusaha untuk mencari jalan keluar dalam mengatasi masalah.
 
Deqy membagi waktu yang ia miliki dalam satu bulan untuk melakukan penelitian dan mencari penghasilan tambahan. Pada hari Sabtu dan Minggu, satu kali dalam sebulan Deqy berjualan dengan berkeliling ke berbagai tempat hingga ke Teboali Kabupaten Bangka Selatan. Dengan menyewa sebuah mobil, Deqy berjualan panci, baju koko, sajadah, mukena, karpet, tupperwear, kue yang dibuat oleh ibunya sendiri, pempek, dan pantiau kiloan. Selama dua hari dalam sebulan tersebut Deqy berjualan, ia bahkan tidur di mobil atau kadang ia tidur di surau-surau. Deqy ingat ia pernah meminjam modal sebesar sepuluh juta rupiah kepada sepupunya yang sedang bersekolah di Ghuangzou China untuk mengiriminya tas-tas sehingga ia dapat menjualnya. Deqy juga tak segan-segan untuk menjual tas-tas tersebut di kantornya sendiri, sering kali ia mendatangi ibu-ibu yang sedang kumpul-kumpul dan menawarkan barang dagangannya.
 
Semakin hari sakit ayah Deqy semakin parah, ia memilih Deqy untuk merawatnya selama ia sakit. Oleh karena itu Deqy sering pulang ke Belinyu dengan mengendarai motornya untuk merawat ayahanda tercintanya. Suatu hari ayah Deqy berkata pada anaknya bahwa dirinya akan segera pergi dan tidak dapat menyaksikan buku yang Deqy tulis terbit. Ayah Deqy berpesan pada anaknya itu agar ia menyelesaikan buku yang telah dikerjakan selama beberapa tahun terakhir. Selang beberapa waktu pada tanggal 13 Agustus 2013, ayah Deqy tutup usia. Saat itu Deqy hampir menyelesaikan penelitiannya, namun ia masih kekurangan biaya sebesar enam puluh juta rupiah untuk menyelesaikan penelitiannya. Biaya tersebut rencananya digunakan untuk pengambilan sampel makam yang terakhir dan biaya untuk melakukan konsultasi ke Yogyakarta dan meminta kata pengantar terhadap bukunya dari Prof. Dr. Bambang Purwanto. Sementara uang yang Deqy miliki di kartu  ATM-nya hanya sebesar delapan puluh tujuh ribu rupiah.
 
Deqy menyadari bahwa dengan berjualan keliling pun ia tidak dapat mengumpulkan biaya yang dibutuhkannya. Ditengah kegalauannya, teman-teman Deqy di kampung-kampung seperti orang-orang tua yang pekerjaanya ngaret dan berkebun serta ustad-ustad yang mengajar di TPA dari daerah Kelapa dan Puding datang untuk membantunya. Mereka adalah orang-orang yang juga turut membantu Deqy melaksanakan penelitiannya, menemaninya keluar masuk hutan. Teman-teman Deqy tersebut saling gotong royong mengumpulkan uang untuk membantu penelitian Deqy. Uang yang berhasil mereka kumpulkan saat itu adalah sebesar empat puluh juta rupiah, mereka datang ke kantor Deqy untuk meminjamkan uang tersebut. Sementara itu sisa dua puluh juta didapat Deqy dari bantuan PT Timah untuk tiket pulang pergi ke Yogyakarta dan juga pinjaman dari ibu-ibu pengajian serta adik Deqy yang bekerja di pertambangan. Meskipun Deqy tidak pernah menceritakan kesulitannya kepada siapa pun, akan tetapi orang-orang di sekitar Deqy ternyata merasakan apa yang dialami oleh Deqy.  Deqy sendiri tak pernah mengira bahwa ia akan mendapatkan bantuan sedemikian besarnya sehingga ia menangis haru. Banyak orang yang benar-benar berharap untuk dapat membaca dan melihat hasil penelitian panjang Deqy. Deqy pun berhasil menyelesaikan penelitiannya dalam kurun waktu beberapa bulan setelahnya dan menerbitkannya dalam sebuah buku.
 
Terbitnya Korpus Mapur: Islamisasi di Pulau Bangka
 
Setelah Deqy berhasil menyelesaikan penelitiannya dan menjadikannya sebuah buku, Deqy lalu berkhayal tentang bukunya yang diterima oleh penerbit dan berhasil diterbitkan lalu terjual. Akan tetapi agar khayalannya tersebut menjadi nyata, maka ia pun harus kembali berjuang untuk menerbitkan bukunya. Banyak orang yang mendorong Deqy untuk segera menerbitkan bukunya, salah satunya adalah Ali Usman, orang yang sering menemaninya turun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Deqy pada akhirnya bertemu dengan Arif Sudana dari PGSP - UNDP yang berkantor di BAPPEDA Provinsi Bangka Belitung, dan bersama-sama mereka memperbaiki tulisan dan skenario buku yang akan diajukan ke penerbit. Pada titik ini Deqy sempat mengalami stress dan ia baru menyelesaikan draft buku Korpus Mapur selama tiga bulan setelahnya.
 
Pada akhirnya Deqy menghubungi penerbit Ombak terkait buku yang telah ia tulis. Penerbit Ombak pun tertarik untuk melihat buku yang ditulis oleh Deqy. Akan tetapi, setelah Deqy menyerahkan draft buku yang ia tulis, Deqy diminta untuk memperbaiki kembali tulisannya. Deqy kembali merasa putus asa, namun ia tetap berusaha memperbaiki tulisannya dan melakukan konsultasi atas tulisannya ke beberapa pakar. Setelah Deqy memperbaiki tulisannya dan mendapat restu dari Prof. Dr. Bambang Purwanto, Deqy membawa tulisannya ke penerbit Ombak.
 
Pukul 15.15 WIB setelah Ashar, draft buku yang ditulis oleh Deqy disetujui oleh penerbit Ombak untuk diterbitkan. Segera setelah draft buku tersebut diterima, diadakanlah rapat tim untuk menerbitkan buku tersebut. Dalam rapat tersebut Deqy ditanya mengenai waktu penerbitan buku dan tentu saja Deqy menginginkan agar bukunya dapat terbit secepatnya. Deqy juga ditanyai mengenai orang-orang yang juga memegang naskah buku yang ditulisnya. Dengan polos, Deqy mengatakan bahwa naskahnya juga ada pada orang lain. Pada saat itu Deqy tidak menyadari bahaya yang dapat terjadi pada naskahnya, oleh karena itu penerbit Ombak menahan Deqy untuk kembali ke Bangka dan memintanya membantu tim  yang terdiri atas delapan orang untuk melakukan editing. Dalam kurun waktu dua minggu, siang malam Deqy membantu tim penerbit melakukan editing terhadap tulisannya.
 
Pada tanggal 21 April buku yang akan diterbitkan sampai ditangan Deqy dengan kata pengantar dari dua orang profesor yaitu Prof. DR. Ahmad Syafi’i Ma’arif dari Yogyakarta, dan ke Prof. DR. Jalaluddin Mahmuddin dari IAIN Raden Fatah Palembang. Deqy diminta agar sedikit bersabar untuk menunggu agar buku yang ditulis olehnya dapat dikenal masyarakat karena buku yang ditulis oleh Deqy bukan tergolong buku populer, terlebih Deqy memang bukan orang yang terkenal sebelumnya dan harga buku Korpus Mapur cukup mahal.
 
Buku Korpus digolongkan sebagai buku semi ensiklopedia tematis Islam, dan ini adalah buku pertama yang membahas isu-isu Islamisasi berdasarkan penelitian. Dengan rendah hati Deqy mengemukakan bahwa buku Korpus masih belumlah lengkap dan masih banyak sekali kekurangannya. Buku ini pun bukanlah buku yang mampu menghimpun semua cerita dan perjalanan sejarah Islamisasi di Pulau Bangka. Kehadiran buku ini hanya permulaan kecil sebagai upaya untuk menghadirkan sumber baru yang perlu diketahui oleh khalayak Bangka. Deqy mengharapkan dari bukunya, para ahli sejarah dan masyarakat atau kalangan akademisi yang menguasi bidangnya, kembali melakukan penelitian lanjutan dan memperdalam aspek-aspek kajian agar hasil yang didapat lebih baik dan mampu dipertanggungjawabkan.
 
Banyak pengalaman yang diperoleh dari perjalanan penelitian ini baik suka dan dukanya. Tidak mudah mengungkapkan sejarah, apalagi Deqy bukanlah seorang sejarawan, banyak hal yang perlu ia pelajari dalam kurun waktu yang cukup lama. Deqy menyadari dalam menulis sejarah dan memproduksi sebuah teori tidaklah boleh sembarangan tanpa dasar dan bukti yang kuat. Untuk itulah, penelitian yang ia lakukan memakan waktu delapan tahun dari Januari 2006 sampai Desember 2013. Permasalahan terbesar dalam melakukan penelitian adalah sulitnya membagi waktu antara pekerjaan rutin di RSBT dengan waktu ke lokasi penelitian dan menguraikan materi. Selain itu Deqy disibukkan dengan dunia desain otomotifnya, sehingga untuk membagi waktu adalah hal yang paling penting dan harus dipikirkan matang. Penelitian yang panjang membutuhkan pemikiran dan fisik yang kuat, terlebih pada alokasi dana. Namun Deqy tetap memilih jalan independen dalam masalah pendanaan, karena ia merasa lebih nyaman dalam hal eskalasi waktu penelitian dan tanpa intervensi dari pihak manapun.
 
Buku Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka

 

Buku Korpus resmi diterbitkan oleh Penerbit Ombak Press-Yogyakarta pada Bulan April 2014. Pada tanggal 21 April, buku Korpus sampai di Bangka dan juga beredar di seluruh Indonesia. Buku setebal 550 halaman ini dicetak sejumlah 2500 eksemplar. Beberapa bulan kemudian Buku Korpus masuk di beberapa negara luar, dan juga sedang diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Buku Korpus dibedah pertama kali pada bulan Juni 2014 di Universitas Sriwijaya Palembang dalam Seminar Nasional bekerjasama dengan Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Sumatera Utara (USU Medan). Deqy mendapatkan penghargaan dari Fakultas Ilmu Budaya Unsri Palembang berupa plakat pengabdian di bidang sejarah. Tak lama Buku Korpus juga dibedah di kota yang sama yaitu di IAIN Raden Fatah Palembang, oleh Fakultas Adab. Pada tanggal 13 Desember 2014 Buku Korpus di bedah di Hotel Aston oleh PT.Timah Tbk, yang diprakarsai oleh IKT (Ikatan Karyawan Timah) dengan menghadirkan narasumber dari UBB, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Balai Arkeologi Palembang.
 
Deqy juga mendapatkan banyak pengalaman berharga dari hadirnya buku ini. Ia sering diundang ke berbagai acara bertema kebudayaan dan sejarah, dan juga beberapa kali menjadi dosen tamu pada kuliah umum di perguruan tinggi dan menjadi narasumber dalam kegiatan pemerintahan. Buku Korpus pun sudah masuk ke beberapa negara dan menjadi studi pustaka untuk penelitian di Asia dan Australia. Buku Korpus masuk dalam IAL (Indonesian Acquisitions List) untuk buku-buku populer yang dipasarkan di Asia dan Eropa. Dalam konteks bibliografi, buku Korpus banyak sekali dipublikasi di beberapa negara. Berikut bibliografi dan posisi buku Korpus di beberapa negara:
  1. Australia, di Menzies Library, NLA (National Library Australia) dan ANU (Australian National University)
  2. Tokyo-Japan, di Faculty of Humanities Tokyo, Jepang (Ci Nii)
  3. Korea, di Korean University (Ci Nii)
  4. Amerika Serikat, di Mary Martin Book Sellers
  5. Amerika Serikat, di Libraries (MLA & APA) University of Wisconsin, Madison USA
  6. Perancis di Catalogue Bulac France & Echole Asessions List
 
Setelah hadirnya buku pertama dengan judul KORPUS MAPUR DALAM ISLAMISASI BANGKA, Deqy sedang mempersiapkan kelahiran buku kedua yang akan terbit di pertengahan 2016. Buku ini masih ada hubungannya dengan tema islamisasi, namun kajian kedua di buku ini lebih terfokus kepada wilayah restriksi berupa Korpus Mantra Mapur, tarekat tradisional, arkeologi sejarah makam Islam, etnografi, dan hagiologi adat.
 
Perjalanan Islamisasi di Bangka, adalah perjalanan sejarah yang panjang dan berliku. Deqy mengemukakan bahwa kita hampir tidak mungkin berbicara secara general tentang tahun kedatangan Islam, apalagi tokoh ulamanya. Berbicara tentang islamisasi di Bangka, berarti kita berbicara detail, per-wilayah, periodisasi, dan per-tokoh. Untuk itu, kajian islamisasi di Bangka merupakan PR besar bagi para sejarawan, cendikiawan muslim, dan seluruh masyarakat yang peduli sejarah.

 
Researching and writing a scientific paper are not popular in Indonesia, especially without any financial support from related institutions. The commonly conducted independent research is only on exact science. Considering the lack of interest, there are only few people willing to do independent researches on social and cultural science.
 
Noting that society is a dynamic process, research on social and cultural science is important to be carried out. Not only as a ground for taking appropriate policies for community development, but it is also a part of government and community big efforts to preserve high cultural value. Teungku Sayyid Muhammad Deqy Baraqbah is one of the few people who had conducted an independent research and published his work entitled Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka (Corpus Mapur in the Islamization of Bangka).
 
Strict Father Parenting
Deqy was born in Belinyu, on May 20, 1982. His father, Teungku Sayyid Muhammad Tharmyn Baraqbah, is an Arab-Aceh-Bangka descent, while his mother, Engku Syarifah Rusmiaty Ishaq, is an Arab-Betawi-Bangka descent. Even though Deqi is an Arab descent, he grew in Malay culture, which remains strong with Islamic value.     
 
His father, who worked on a dredger of PT Timah, a state-owned tin mining company, educated him strictly. He scheduled his children’s daily activities firmly.   They had to follow the hand-written schedule that stamped on the wall, starting from waking up in the morning, performing Subuh prayer, going to school, reading Al Qur’an, helping their mother, to sleeping at night. They were also not allowed to overeat and have a late dinner.
 
Deqi and his siblings considered his father, who only stayed at home for three days in every ten working days, as a scary figure. There were always punishments for every breaking rule. His father ever put him in a chicken cage because of playing by pushing a new table and injuring his sibling. They were educated to be though persons who could survive in every condition. To imagine his father strict parenting way, his brother even fell into a coma for two days after practicing swimming.
 
Little Deqi rarely played with his contemporaries because his family lived in his grandfather’s big field in Pasir Merah, located a little far from Bukit Tani hamlet, Belinyu. They had a responsibility to take care of the field because his father was rarely at home. Inevitably, through the big responsibility, Deqy and his siblings learned how to survive and protect themselves.     
 
In order to do that, Deqi and his brother were taught to use arrow and gun. Their family even had a private shooting gallery in their yard. Besides that, their father also taught them how to hunt for animal using traditional technique known as belapun or merepas. It made him love nature and jungle adventure.
 
Deqi also got his weapon skill from his grandfather. This person is a father figure for the siblings when their father was away. His grandfather fulfilled their need of love. He came to visit them every day and taught them many things, especially religious value, besides sharpening their weapon skill, to make them independent children. His teaching method was surely different from their father. The nearest thing to the love of God is the love of grandparents is probably the best proverb to describe their grandfather.
 
Deqy learned many things from his grandfather, starting from martial art to handcraft. He also learned Japanese and English from him, while Dutch and Arabic were from his father, even though he commonly used colloquial Arabic and Malay to communicate with his big family. Besides all of those things, he learned about trading by following him selling quartz. Together with his brother, they got a payment for helping him sending quartz to buyers. In fruit season, he often sold fruit from his field to the market and saved the earned money. 
 
Deqy did not have much time with his father during his childhood. It changed when he was in senior high school. The scary figure of his father faded out when he grew up and could see it from different perspective. He started to see the positive side of his father parenting. His previous judgment of his father was because he rarely met him. When his father reassigned to office in Belinyu and spent a lot of time with him, he realized that his father is a kind-hearted person. His father then became his true friend and his source of inspiration.
 
Unpredictable Way
 
His father had an important role in his career, even though he never forced Deqy to work in particular field. After graduating from senior high school, Deqy lived in Yogyakarta to study Economy. To help his parents in paying tuition fee, and driven by his interest, he had a part-time job in an automotive company as a car designer. In that way, he did not merely depend on his parents.
 
He got his design skill from his father and grandfather. His father, Tharmyn, was a saxophonist hence he taught his children how to play music and to draw besides weapon skill. All of his children could play guitar, saxophone, violin, and piano, except Deqy. He remembered that when his father was at home, they always celebrated it by having a musical performance to welcome him. His mother was the singer, while his brother played piano, and his sister played violin. Because he was not good in any of them, he could only play hadrah (traditional tambourine).
 
In spite of his lack of musical interest, compared to his other siblings, he is good at drawing. He loves to design car. When he was in senior high school, he often sent his design to automotive column at Kebon Jeruk, Jakarta. His design was published every week and he got one thousand rupiahs for it. It was a lot of money for his age at that time.
 
He kept improving his car-designing skill during his study in Yogyakarta. He even took a class in Yogyakarta Modern School of Design. Unfortunately, the automotive company like PT. Astra Motor preferred to have manual design rather than computer graphic design. Therefore, he focused on his manual drawing skill, which resulted in winning a car design competition organized by PT Astra Motor. His winning design was sent to Japan and he got a contract as a part-time designer in PT Astra Motor, Honda Prospect Motor (HPM) and Daihatsu. Since then, he earned two millions for every design he made. One day he got an important advice from Prof. Suparto Soejatmo, the director of PT Indo Techno Mandiri, about appreciation of his work. His design should not be only valued by money but he also must have patent on it. Deqy decided to work for PT Indo Techno Mandiri to draw exterior and interior car design of peat soil oil palm in Kalimantan from then. Although there was only one of his designs approved by the company, he kept sending his works to acquire the knowledge from it and continuing his economics study. 
 
After graduating and getting a degree in economics in 2004, he enrolled at mining faculty of UPN Veteran for master degree. Due to his educational background, he could only choose Environmental Impact Analysis. In the first semester, he got a quite satisfying grade-point average compared to his mining background friends. He remembered that he got a full mark for his first task to make a sand sedimentation reservoir. In the third semester, he decided to stop his study and applied for a job to Pusyandik Bakti Timah in Pangkalpinang, which is now known as PT RS Bakti Timah. He is currently the head of Human Resource Remuneration and has worked there for ten years. Besides he keeps working his part-time job as a car designer.
 
Writing Motivation
 
Before writing the book entitled Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka (Corpus Mapur in the Islamization of Bangka), Deqy never thought he was able to write a book. It was all started from his father’s request to write about Mapur. His father had a collection of old Arabic and Dutch documents on the history of Bangka Island. Deqy did not have any interest to write, especially about Mapur. It is an area inhabited by a marginal community stereotypically known for its black magic causing them to be isolated from the majority.
 
His father kept motivating him to write about Mapur. Every time he came back to Belinyu, his father always asked him whether he had started writing. He believed Deqy has a social acuity toward his surroundings. In order to encourage him, one day his father took him to Mapur where he found many interesting things.
 
His father suggested him to carry out a research on the entry of Islam to Bangka. His family is a descendant of Cermin Jati, the person who propagated Islam in Gunung Pelawan according to his father’s document. His first question was the identity of Cermin Jati. Therefore, he gathered information from elders and shamans of Mapur. This early information encouraged him to write about Islamic history with Cermin Jati who once lived in Gunung Pelawan and Mapur as a central figure.
 
Deqy gathered the data for almost two years started from 2006. He travelled around Bangka to visit places related to his research. After considering he had enough data, he started to face his first problem about how to process it. It should be borne in mind that Deqy did not have a proper background to conduct a research on history and culture. Therefore, he was advised to consult his research in detail to Palembang Archeological Center.
 
Palembang Archeological Center then advised him to have a further consultation to Gajah Mada University where he met a lecturer of History Department of Faculty of Cultural Science, Prof. Dr. Bambang Purwanto. He also met many people who helped him during his research. Some of them were Prof. Dr. Dien Majid from Syarif Hidayatullah Islamic University Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif from Yogyakarta, and Prof. Dr. Jalaluddin Mahmuddin from Raden Fatah Islamic University Palembang who is actually his grandfather from his mother’s side. He was very grateful for having many supports and appreciations toward his work from the experts. From the consultations, he could implement theories for his research and gained various types of knowledge such as history, sociology, anthropology, literature, archeology, architecture, calligraphy, and epigraph.
 
The support for his research and writing was actually not only needed in the early stage of his work, but also along his research. He ever faced a problem forcing him to stop his research for six months. His father, who always gave a wholehearted support, was his reminder as someone who had helped him so far. He could not stop, thus. If he stopped, all the supports he had from many people would be entirely fruitless. He had to overcome his problem and finished it to appreciate them.   
 
One of the figures motivating him to finish his research was his informant in Pupus, Belinyu, Atuk (a local term to refer to an elder) Yakub. He is someone who knows how to set broken bones or locally known as dukun patah tulang. His first meeting with this person was an extraordinary experience. Atuk Yakub said to him that he had known him for more than ten years and he had waited for his coming. In fact, they had never met before. He said that he supposed to go to Maras hill that day, but he cancelled it due to mystical inspiration informing him that there would be an Arab descent, his grandson, visiting him. He also knew that Deqi carried out a research, which he called as sekrepsi. He advised Deqy, in order to succeed, to firstly ask for a blessing from the ‘owner of Bangka’, Cermin Jati who lived in Maras hill. Atuk Yakub then hugged, greeted, and asked him to negotiate to reach an agreement. Even though it sounded strange to him and he did not believe it, he admitted that he felt motivated even more in his research. “I just felt I’m in a good spirits,” he said.
 
Hard Years
 
His research made him travel to several places considered relating to the entry of Islam to Bangka. Therefore, in the second to sixth year of his work, besides consulting to the experts, he also tried hard to collect the data in Bangka Belitung, Yogyakarta, Banten, Demak, Cirebon, Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Pekanbaru – Siak, Aceh, and Barus – Medan. It surely spent a lot of his time, starting from collecting the data, consulting to the expert, studying the supporting theories, to analyzing and writing the result. At the same time, he had a responsibility toward his main job as an employee of PT. RSBT.  
 
He realized that to conduct the research without neglecting his duty, he had to manage his time wisely. He used his free time on Saturday and Sunday to travel around Bangka to collect the data. Sometimes, if he considered it was important, he asked for permission from his supervisor. In order to get the data from outside of the island, he used his annual leave. He even could get the following annual leave in advance.
 
Fortunately, he had an understanding supervisor. Mariama, his supervisor, supported him as long as he conducted his research seriously. On the contrary, if she found him not serious, she would take him as an indiscipline employee. Therefore, he had to report the research to her every time he had a permission to leave.
 
During his research, he always tried to optimize every second of his time. He only had four or five hours to rest at night. Coming home at five in the afternoon, he went to bed after performing Isya or evening prayer to wake up at midnight or one o’clock to continue his research. He stopped at dawn to perform Shubuh prayer and prepared to work. Sometimes, if he did not have many things to do at work, he could type and print his research using office facility.
 
His research did not only require good time management but also spent a lot of money, which he chose to pay by himself. It forced him to work harder and surely caused him a financial problem. It made him lost his motivation and stopped his research for six months. It indeed worried his father. However, God’s plan is always the best. His father got two hundred fifty millions rupiahs of his pension liabilities and gave half of it to his son even though Deqy never asked for it.
 
Deqy burst into tear, not only due to his father, but also his mother who shared her money she saved from selling cake. It was a creased money of 1000, 2000, 5000, and 10.000-rupiah bill. She saved IDR200.000 each week and around eight hundred thousand to one million in a month to help her son. His mother said he could use her saving money and hoped he would not worry about money anymore. She knew that her son did not only have to pay for his research but also support his family and pay for his leased house in Pangkalpinang.
 
His salary was not enough to pay all of his expenses even though he also got another emolument from designing car. He felt embarrassed to accept his mother’s money. In his heart, he believed that he was the one who should give her money, not the opposite. He had no choice but to accept it because she insisted him to take it. Therefore, he said to her that it was a debt and someday he would pay it back. Her mother, of course, refused it. She wanted him to use it without any burden.
 
In the last stage of his research, he had spent all the given money. He decided not to accept his parents’ money anymore because he thought he had used too much of their money. He explained to them if he would try to get the money by himself because he almost finished the research. He still needed more than one hundred million rupiahs at that time.
 
He tried to take out a bank loan to cover the expenses. He got sixty million rupiahs from the bank, which had to be paid in three years installment period. Thinking for the second thought, he finally realized that he could not cover the expenses by robbing Peter to pay Paul. He started to doubt his ability to finish the research. It was worsened by the sick of his father who was diagnosed with having Parkin Syndrom. It was very hard and made him blame himself. Fortunately, he quickly overcame his problems.  
 
He divided his spare time between research and having a side job to increase his income. Once a month, on Saturday and Monday, he became a traveling salesman. He rented a car and went to sell pan, Muslim wear, prayer mat, carpet, Tupperware, pempek (fish cake with tamarind sauce), pantiaw (Bangka typical noodle), and his mother home-made cake. He slept in the car or mosque for those two nights. He remembered he ever asked his cousin who was studying in Ghuangzou, China, to buy him some bags to sell. He also did not feel hesitant to sell the bags in his office by offering them to groups of female colleagues.
 
At the same time, his father, whose illness worsened day by day, chose Deqy to treat him. From then on, he often rode his bike to Belinyu to take care of his beloved father. One day, he told Deqy that he was about to die and did not have a chance to see his book published. He told Deqy to finish it. He passed away not long after that on 13 August 2013 when his son was about to finish his work. Deqy just needed another sixty million to do his last research by taking the sample of the last grave, having a consultation to Yogyakarta, and asking for a preface of his book to Prof. Dr. Bambang Purwanto. The money he had in his account was only IDR87.000.
 
He realized that he could not gather the money by only becoming a traveling salesman. Amid his confusion, his farmer villager friends and religious teachers of Al Qur’an Education School from Kelapa and Puding, came to help him. They were the people helping him and accompanying him going in and out of the forest in his research. They came to his office and lend the money amounted to forty million rupiahs. For the rest twenty million, he got from his brother working in mining sector, a loan from a group of female Al Qur’an recital, and PT Timah in the form of a roundtrip ticket Pangkalpinang-Yogyakarta-Pangkalpinang. It seemed everyone was aware of his problem even though he never told it to anyone else. He never expected he would get such a big help from others. Apparently, many people were looking forward to read the result of his long research. By this support, he finally could finish it in the next few months.
 
Publication of Corpus Mapur in the Islamization of Bangka
 
After finishing his research, he imagined that his book would be accepted by publisher and sold out. However, it was a long way to go to make it came true. Many people encouraged him to publish his work, including Ali Usman and Arif Sudana. Ali is a colleague who often companies him to collect the data and Arif is an employee of PGSP-UNDP in Bangka Belitung Provincial Planning Agency. Together they edited his book draft for three months to have a better version.  
 
He finally proposed his book to Ombak publisher, which required him to revise his work. It caused him down. In spite of his frustration, he tried to revise his draft, consulted it to some experts, and finally got an approval from Prof. Dr. Bambang Purwanto.
 
At 15.15 p.m., after Ashar prayer, his draft was approved by Ombak Publisher. Soon after that, Ombak set up a team meeting. Deqy was asked about when he would like to have his book published. He, of course, expected to have it as soon as possible. He was also asked about who had the other copies of the book. He honestly answered some other people owned it. He never thought that it would cause him a problem, because others could possibly use his draft for their advantages. Therefore, the team held him in Yogyakarta to help them editing the draft. He helped the team, consisted of eight persons, day and night for two weeks thence.
 
The published book was on his hand on 21 April. Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif from Yogyakarta and Prof. Dr. Jalaluddin Mahmuddin from Palembang were the experts writing the preface. He was told to be patience to wait until public acknowledged his book because it was not a popular book and he was not a well-known writer. Moreover, the price of his book was quite expensive.
 
His book is categorized as a semi-thematic Islamic book. This is the first book discussing about islamization based on the research. Deqy modesty said that his book was not complete yet because there were many shortcomings in it. It also has not yet compiled all of the islamization history of Bangka. It is merely a starting point to provide a new data for the public. He hopes it will encourage historians and public to continue and sharpen his research to get a better and accountable result. 
 
It is not easy to write about history, especially for him who is not a historian. He needed to learn many things in quite a long time and faced various up-and-down experiences. He realized that writing a historical book and working on a theory requiring solid data. Therefore, he carried out a research for eight years started from January 2006 to December 2013. His biggest problem, which was needed to be wisely overcome, was to divide his time between working and research besides making time for designing car. This long research did not only drain him both physically and mentally, but it also spent a lot of his money. In spite of the fact, he kept doing it independently. It was easier for him to manage his time by that. Moreover, he avoided being intervened by others.
 
His 550 pages book was published by Ombak Press Publisher Yogyakarta in April 2014 and printed 2500 copies. It was distributed on 21 April to Bangka and all Indonesia. In the next few months, it was also distributed to other countries and it is now being translated into English. It was firstly discussed in June 2014 in a national seminar held by Sriwijaya University (UNSRI), Palembang, in collaboration with Indonesia University (UI) and Sumatera Utara University (USU). At the same time, he was awarded by the Faculty of Cultural Science UNSRI for his dedication in history. Not long after that, the book was also discussed in Adab Faculty of State Institute of Islamic Studies (IAIN) Raden Patah, Palembang. It was also discussed in a seminar sponsored by PT. Timah Tbk through its worker association (IKT) with the speaker from Bangka Belitung University (UBB), IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, and Palembang Archeological Center.
 
He also got many valuable experiences from the presence of his book. He was often invited in many cultural and historical events and asked to be a visiting lecturer in university for several times. He even became an expert in governmental projects. At this present, his book has become a research reference in Asia and Australia. It is even included in Indonesian Acquisitions List (IAL) as one of the popular books distributed to Asia and Europe. In bibliographical context, it had been published in many countries as follow.
  1. Australia. Menzies Library, NLA (National Library Australia) and ANU (Australian National University)
  2. Tokyo-Japan. Faculty of Humanities Tokyo, Jepang (Ci Nii)
  3. Korea. Korean University (Ci Nii)
  4. America. Mary Martin Book Sellers
  5. America. Libraries (MLA & APA) University of Wisconsin, Madison USA
  6. France. Catalogue Bulac France & Echole Asessions List
Deqy is now writing his second book planned to be published in the middle of 2016. It is still related to Islamization. The focuses are on Mapur incantation, traditional tariqa, archeology of Islamic grave history, ethnography, and custom hagiology. 
 
Islamization of Bangka was a long and winding history. He said that it was almost impossible to assure when Islam firstly came to Bangka and who introduced it to the local people. Talking about it means talking in detail about all areas, periods, and figures. Islamization of Bangka thus is an important and unfinished work for historians, Muslim scholars, and all people interested in it.

Penulis: Hera Riastiana
Translator: S.A. Sobri
Editor: Rusni/ Rosy Handayani
Penulis: 
Hera Riastiana
Sumber: 
Interview oleh Hera Riastiana (Disbudpar Babel, 2015)
Images: