Mesjid Jami' Mentok

 
Apabila berkunjung ke Pulau Bangka, sempatkanlah untuk meluangkan waktu berkunjung ke kota Mentok. Kota paling barat pulau timah ini, dikenal sebagai salah satu Kota Pusaka yang ada di Indonesia, karena tercatat dalam tinta sejarah sebagai kota pertama yang menjadi ibukota Keresidenan Bangka Belitung di masa pemerintahan Hindia Belanda sebelum dipindahkan ke kota Pangkalpinang. Mentok juga pada abad 18-19 memainkan peran sebagai kota pelabuhan penting dalam perdagangan timah dan lada putih di kawasan Asia Tenggara dan dunia. Di kota ini pula dahulu BTW (Bangka Tin Winningbedrijf) yang merupakan perusahaan timah terbesar di dunia pernah berada.  Tidak heran bila di kota ini ditemukan banyak sekali cagar budaya. Tinggalan arkeologi itu masih terlihat jelas baik dari bangunan-bangunan megah, hingga pola penataan kota yang membagi kota ke dalam tiga kluster utama,  Kluster Eropa, kluster Cina dan kluster Melayu. Di kota ini pula, terdapat Pesanggrahan Mentok dan Pesanggrahan Menumbing  yang pernah menjadi tempat tinggal Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno dan Drs. M. Hatta, beserta para menteri utamanya ketika diasingkan di kota Mentok pada tahun 1948-1949. Begitu pula beberapa bangunan yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kota Mentok, seperti Mesjid Jami’ Mentok. Selain sebagai mesjid tertua di pulau Bangka, juga pernah menjadi tempat para pemimpin RI ini melakukan shalat berjamaah.
 
Mesjid Jami’ di Mentok, Bangka Barat termasuk bangunan mesjid tertua di pulau Bangka. Sejarahnya tidak terlepas dari sejarah kota Mentok yang dibangun oleh komunitas masyarakat Melayu.  Oleh karena bagi orang Melayu, surau, langgar, ataupun mesjid merupakan representasi dari identitas budaya Melayu. Maka tidak mengherankan saat itu bangunan surau ditemukan di setiap kampung. Namun seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan daya tampung surau yang semakin terbatas,  maka dibangunlah sebuah mesjid di kota Mentok.
 
Mesjid Jami’ dibangun sekitar awal abad ke-18 oleh Temenggung Dita Menggala.  Semula mesjid ini terbuat dari kayu dan mengambil bentuk seperti Mesjid Jami’ Palembang. Pada tahun 1870, Mesjid Jami’ Mentok ini direnovasi, bangunan yang semula dibangun berbahan kayu, menjadi berbahan pasir, batu dan semen. Tidak hanya material, arsitektur mesjid yang semula sangat kental dengan arsitektur Melayu berubah menjadi bangunan perpaduan dari tiga budaya; Melayu, Cina dan Eropa.  Bagian tengah mesjid dan atap, tetap mempertahankan bentuk asli Melayu. Pengaruh Eropa terlihat pada pilar Yunani bergaya tuscani di serambi mesjid, bentuk jendela dan pintu yang berukuran besar, serta penggunaan bahan bangunan berupa batu, pasir, dan semen sangat dominan. Sementara pengaruh Cina terlihat pada atap yang ujungnya melengkung, juga bentuk pagar yang meniru bentuk pagar rumah Mayor Cina.
 
Renovasi mesjid Jami’ Mentok tersebut merupakan inisiatif M. Ali yang kala itu menjabat sebagai Temenggung Kertanegara II yang merupakan wakil Kesultanan Palembang. Dalam bukunya “Sejarah Mesjid Jamik Muntok”, Raden Affan menyebutkan bahwa pembangunan Mesjid Jami’ Mentok  dimulai dari  berkumpulnya beberapa orang terkemuka di kediaman Temenggung di Kampung Pekauman Dalam. Demang, Jaksa, Penghulu dan Batin, Haji-haji, Alim Ulama, para Kepala Kampung, diundang Temenggung sebagai kerabat kampung pada tanggal 19 Muharram 1298 atau Rabu, 22 Desember 1880 untuk bermufakat. Adapun kesepakatan yang diperoleh, mulai dari perkara tempat, biaya dan tenaga kerja. Untuk tempat, disepakati tetap di tempat semula mesjid berada, sementara biaya, akan ditanggung bersama-sama dengan pembagian yang besar, besar pula tanggungannya, yang kecil seberapa rela dan sanggup.
 
Sejak itu hartawan-hartawan Mentok seperti H. Muhammad Nuh, H. Ilyas, H. Ya’qub, H. Odoh, dan yang lain-lain mulai mengirimkan pedati-pedati berisikan pundi-pundi ringgit dan rupiah, emas dan berkeping-keping perak serta benda-benda berharga lainnya ke kediaman Temenggung. Di sana, semua kiriman itu dihitung dan dicatat dengan disaksikan orang tua-tua.
 
Urusan tenaga kerja, mengerahkan tenaga kerja sukarela yang berasal dari kampung-kampung sekitar Mentok. Maka disusunlah kelompok-kelompok kerja, tugas-tugas dibagi berdasarkan domisili dan pekerjaan sehari-hari. Para tukang, undagi dan pembangunan rumah bertugas khusus dan mereka memilih sendiri orang-orangnya. Pekerjaan mengambil batu, memahat, memuat dan membongkarnya kebanyakan dilakukan oleh penduduk Menjelang, Kemangmasam, dan Airputih serta para migran dari Bawean. Batu diambil dari Tanjung Batubetumpak. Kayu-kayu diambil dari Rimba Bulin, dimana terdapat perkebunan kayu bermutu jenis Bulin, Nyatoh, Tembesu, Mentangor dan Mentigi yang dikembangkan oleh para Temenggung sebelumnya untuk keperluan tambang-tambang timah dan juga guna keperluan penduduk. Pekerjaan menebang dan mengangkutnya dilakukan oleh penduduk sekitarnya, di bawah pimpinan Demang Terentang, Batin Kelapa serta orang-orang Datuk Yahya dari Berang dan Ibul. Bata diambil dari pembakaran di Tanjungtapak, milik mertua Temenggung sendiri. Tetapi sebagian besar didatangkan dari Betawi, eks Belanda dan Belgia karena kualitasnya lebih baik dari pabrik lokal. Pualam pun dipesan dari Betawi, berupa marmer impor dari Italia yaitu marmer Carrara yang tersohor sejak zaman Roma lama.
 
Ada juga sumbangan dari Masyarakat Cina, empat tiang bulin di tengah-tengah interior mesjid adalah sumbangan dari kepala masyarakat Cina Mentok, mayor Tjeung Atthiam, yang merupakan salah satu kepala masyarakat Cina paling terkemuka di Bangka. Ada pula yang menyebutkan, bahwa  lantai marmer di dalam mesjid dan lantai terakota di bagian luar adalah sumbangan dari mayor Cina Tjeung Atthiam.  Sumbangan lain berupa Perigi Mesjid yang digali atas petunjuk ahli pencari mata air yang didatangkan langsung dari Tiongkok yang bekerja pada mayor. Perigi ini tidak pernah kering walau musim kemarau dan menjadi andalan masyarakat sekitar.
 
Yang patut dicatat adalah keterlibatan kaum perempuan dalam pembangunan mesjid ini. Sebagaimana diketahui, bahwa Orang Melayu amat menjaga adat kebiasaan memingit perempuan-perempuan di rumah. Sejauh-jauh seorang perempuan melangkah adalah tepi pagar pekarangannya. Makin tinggi status keluarga, semakin keras pula pingitannya. Pelanggaran berarti aib bagi keluarga. Pengumuman pembangunan mesjid telah mendorong para perempuan ini untuk berkontribusi. Jadilah mereka diberi kesempatan untuk bekerja di waktu malam. Lepas Isya berbondong-bondong mereka menuju lokasi kerja. Mereka mengayak pasir, membuang kerikil, memasukkan pasir ke ember yang diangkut anak-anak. Lewat pukul sepuluh para ibu dan anak dara kembali. Perempuan-perempuan ini berasal dari kampung sekitar kota Mentok seperti Kampung Pekauman Dalam, Kampung Jiran Siantan, Keranggan, Petenun, Pemuhun, Sungaidaeng dan Kampung Jawa. Bahkan ada pula dari luar kota seperti Batubalai, Menjelang, Airputih dan Kemangmasan, Ranggam, Pahit dan Beloh, serta Airbelo. Yang dari jauh biasanya menginap di rumah kerabat atau kenalan.
 
Setelah hampir dua tahun kerja bakti ini berlangsung, akhirnya pada tanggal 19 Muharam 1300 atau 2 Desember 1882 tepatnya pada hari Sabtu, mesjid yang dibangun secara bergotong royong ini diresmikan sebagai Mesjid Jami’ Mentok.  Adzan pun dikumandangkan, shalawat, tahlil, takbir, tasbih, tahmid dan tarhim sambung menyambung membahana. Tak lupa dipasangkan  meriam kuno dari masa para sultan juga bedug.
 
Mesjid Jami’ Mentok terletak pada  02º04’01, 105º09’40,9’ BT, berdenah persegipanjang serta mempunyai serambi dan bagian depannya memiliki tangga naik di sisi utara dan selatan. Adapun ukuran musholla 17 x 17 meter, ditambah lebar masing-masing dua meter di kiri kanan, sehingga lebarnya 21 meter. Pada ruang utama mesjid terdapat empat buah tiang penyangga atas yang berbentuk persegi empat. Tiang-tiang kayu ini terbuat dari bahan kayu dengan pondasi batu. Serambi muka lebarnya 5 meter dan sisi kiblat 2 meter, maka panjangnya mencapai 23 meter. Serambi ini mempunyai pagar kayu dan enam  buah tiang penyangga atap/pilar  yang bergaya tuscan. Pintu masuk berjumlah tiga buah terbuat dari bahan kayu dan terdiri dari dua daun pintu. Ketiga pintu tersebut masing-masing diapit oleh sebuah jendela kayu yang terdiri dari dua daun jendela. Ketiga pintu masjid setinggi 2,7 meter memiliki lubang angin berbentuk Kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an, Surat Al-A'la mulai ayat 14-19. Dinding utara dan selatan mempunyai pintu yang terdiri dari dua daun pintu dan diapit oleh dua jendela di sisi kiri dan kanannya. Sisi kanan (utara) mesjid memiliki sebuah pintu yang dinamakan pintu Beduk. Disinilah beduk besar mesjid berada. Di atas pintu beduk terukir kaligrafi surat Al-Baqoroh ayat 148. Sisi kiri (selatan) mesjid memiliki sebuah pintu dengan ukiran kaligrafi berbeda. Terpahat surat At-Thalaq ayat 2 pada bagian atas pintu. Kaligrafi pintu ini baru ada pada saat renovasi mesjid beberapa tahun kemudian setelah diserang tentara Jepang. Di bagian depan pintu terdapat tangga naik. Dinding barat mempunyai empat buah jendela, juga terdapat mihrab yang dinding-dindingnya mempunyai jendela tidak berdaun.
 
Lantai mesjid terbuat dari marmer Carrara berukuran besar, satu meter persegi. Lantai marmer Carrara yang sejuk membuat suasana mesjid sangat nyaman. Tinggi lantai dari tanah 1,6 meter, ketinggian langit-langit 4 meter, sementara langit-langit kedua (lantai anjungan tempat dahulu muazin menyeru adzan) setinggi 2 meter. Sementara itu, tinggi mesjid dari tanah hingga puncak atas sekitar 11 meter, dengan bentuk atap serupa limas, atap bersusun dua. Bagian puncak atas terdapat hiasan mustaka, sedangkan bagian kerpusnya berbentuk lengkung dan memiliki hiasan simbar. Melalui tangga yang sederhana terdapat lantai kedua. Luas anjungan sekitar 4,3 x 4,3 meter, yang setiap sisinya mempunyai empat tingkap. Dari tingkap-tingkap kecil ini dahulunya orang bisa melihat panorama sebagian kota Mentok. Sebelum kota Mentok dipenuhi bangunan-bangunan bertingkat gedung walet, anjungan Mesjid Jami’ Mentok adalah landmark bandar Mentok, terlihat jelas dari arah laut dengan latar belakang gunung Menumbing. Di sebelah utara mesjid terdapat perigi mesjid dan tempat wudhu berbentuk bak persegipanjang yang dilapisi batu granit.
 
Mesjid Jami’ mulai diterangi lampu-lampu listrik pada tahun 1927, sebelumnya untuk meneranginya digunakan penerangan gas dan lampu-lampu gantung. Banyak perlengkapan mesjid yang sudah hilang, seperti mimbar mesjid yang dijarah tentara Jepang. Begitu pula meriam kuno tuang Palembang dari masa para sultan dari masa lampau, sudah lenyap oleh tangan-tangan jahil. Namun begitu, mesjid yang selamat ketika pasar dan kota Mentok hancur di bombardir Jepang, meskipun menurut ukuran zaman sekarang baik besar maupun bangunannya tidak megah, di balik tampilannya yang sederhana sesungguhnya telah dibangun dengan penuh perhitungan dan mengandung nilai-nilai emosional-spiritual-religi.  Hal ini dapat kita lihat dari jumlah dan angka-angka  dari pilar yang enam melambangkan rukun iman, pintu yang lima buah kiasan bagi rukun Islam, tingkap/jendela berjumlah tujuh belas  adalah keseluruhan shalat wajib sehari semalam, dan tiang topang yang empat di dalam musholla melambangkan empat mahzab utama di kalangan ahlusunnah wa’l-jamaah
Selain itu, fakta bahwa mesjid ini dibangun berdampingan dengan Kelenteng Kong Fuk Nio  juga memberikan sebuah pelajaran penting tentang bagaimana toleransi hidup, tumbuh dan dipelihara bukan hanya melalui perkataan, namun diwujudkan dalam bentuk dua bangunan keagamaan – bangunan Mesjid Jami’ Mentok dan Kelenteng Kong Fuk Nio yang hingga sekarang masih didatangi oleh umatnya masing-masing.

Referensi:
  1. Berita Penelitian Arkeologi, No.6 tahun 2001. “Laporan penelitian Tinggalan-tinggalan Arkeologi Kolonial di Pulau Bangka”, Departemen Pendidikan Nasional Pusat Penelitian Arkeologi Balai Arkeologi Palembang.
  2. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI tahun 2008. “Masjid dan Makam Bersejarah di Sumatera''.
  3. Kemas Ridwan Kurniawan, 2013. “The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok”, UI – Press.
  4. Muhammad Arifin Mahmud,  1986. “Pulau Bangka dan Budayanya”, tidak diterbitkan.
  5. Raden Affan. 2007. “Sejarah Mesjid Jamik Muntok”, Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat.

Penulis:  Yuyun Tri Widowati
Editor: Yuliarsih
Photo: Donnie L
Penulis: 
Yuyun Tri Widowati

Artikel Lainnya

10 Jan 2017 | Rusni
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati
07 Sep 2015 | Rusni

Artikel Populer

07 Sep 2015 | Rusni
14 Jan 2015 | Syekh Ahmad Sobri (Translator)
09 Mar 2015 | BPS Babel dan Disbudpar Babel
27 Apr 2015 | DR. Budi Brahmantyo