Laskar Pelangi

Bahasa Indonesia/ English
 
Oleh seorang penulis novel, Andrea Hirata, pulau Belitung menjadi berkembang pesat melalui kisahnya yang berjudul “Laskar Pelangi”. Novel ini sangat terkenal dan fenomenal karena novel ini berkisah tentang perjuangan masa kecil 10 orang anak Belitung yang menimba ilmu di suatu sekolah yang memprihatinkan serta mempertahankan sekolah tersebut. Secara tidak langsung, Andrea Hirata menggambarkan pulau Belitung serta suasananya pada masa itu ke dalam novel tersebut.
           
Novel Laskar Pelangi diterbitkan pada akhir tahun 2005. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, novel ini menjadi salah satu best seller di Indonesia. Ceritanya yang begitu menginspirasi dan menyentuh hati, membuat banyak orang berminat untuk membacanya. Novel ini kemudian difilmkan pada tahun 2008, dan semakin membuat cerita Laskar Pelangi menjadi terkenal, bahkan hingga ke manca negara. Pantai Tanjung Tinggi yang menjadi salah satu tempat shooting film ini kemudian juga dikenal sebagai Pantai Laskar Pelangi.
           
Dibalik nama Laskar Pelangi, terdapat cerita yang bermakna dalam. Dikisahkan di novel tersebut bahwa laskar pelangi adalah nama kelompok siswa SD Muhammadiyah Gantong yang terdiri dari sepuluh orang, yang merupakan anak-anak orang Belitong dari kelas pekerja kerah biru. Laskar pelangi sendiri menggambarkan keberagaman warna kulit, sifat juga suku yang melekat pada kesepuluh anak tersebut. Laskar pelangi juga menggambarkan warna warni perjuangan seorang guru wanita muda dan perjalanan hidup kesepuluh anak Kampong Lenggang. Di dalam novel digambarkan kontras kehidupan anak-anak SD Muhammadiyah dengan sebuah SD yang dikelola oleh Perusahaan Nasional Timah. Interaksi sehari-hari antara anak-anak ini membuat kehidupan mereka begitu beragam dan berwarna.
           
Sejak kesuksesan karya sastra milik Andrea Hirata, Laskar Pelangi kemudian menjadi bagian dari branding Pulau Belitung, yaitu “Negeri Laskar Pelangi”. Dengan kesuksesan ini, Andrea Hirata terdorong untuk membuat suatu museum, yang diberi nama “Museum Kata Andrea Hirata”. Museum ini berisi foto, kata-kata, serta sejarah pembuatan novel dan film Laskar Pelangi. Di Desa Lenggang, replika SD Muhammadiyah Gantung untuk keperluan shooting film tersebut menjadi daya Tarik pengunjung Pulau Belitong. Desa Lenggang yang merupakan kampong masa kecil Andrea Hirata di Gantong, Belitung Timur. kemudian dijadikan sebagai desa sastra.
 
The amazing Belitung was uncovered by Andrea Hirata in his novel The Rainbow Troops and thenceforth Belitung flourished rapidly. This best-selling and phenomenal novel is about a struggle of ten Belitung children who did not only study in a worrisome school but also kept it survive. Andrea implicitly depicted the island and its milieu in the novel.            
 
Published at the end of 2005, it didn’t take time to be an Indonesian best-seller. The story is really inspiring and touching that so many are interested to read it. The film version of the novel in 2008 made it even internationally well known. Thus, Tanjung Tinggi Beach where the film was shot among other locations is also known as Laskar Pelangi beach. 
          
The novel offers a deep story about a group of Muhammadiyah elementary school students in Gantong. The tenth of them were children of blue-collar workers. Rainbow troops itself refers to their skin, behavior, and ethnic diversity. It’s not only that, of course. It also describes the rainbow-like struggle of a young woman as a teacher and the life story of those kids living in a kampong or village named Lenggang. Daily interactions of those who studied in Muhammadiyah elementary school – depicted in contrast to another elementary school run by a state-own company, PN Timah – also made their life was so colorful.           
 
Rainbow Troops has become the brand of Belitung Island since Andrea’s literary work of art was booming. It’s known as the land of rainbow troop. This success encouraged Andrea to build a museum named Museum Kata Andre Hirata – Andrea Hirata Word Museum – containing photos, words, and history of the making of the novel and film. The shooting location, replica of Gantung Muhammadiyah elementary school in Lenggang, has become an interesting tourist attraction in Belitung. Lenggang itself is a village where Andrea spent his childhood in Gantung, Belitung Timur which was established as a literary village by him.

Naskah: Anugerah GP/ Rati
Translator: SAS
Photo: Belitung's Refflection - Shirley Silviana (2010)
 

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Kabupaten Belitung, Kabupaten Bangka Tengah, Special Interest, Kabupaten Belitung Timur
Bangka Belitung, Nature, Special Interest
Bangka Belitung, Nature, Special Interest
Bangka Belitung, Nature, Culinary, Special Interest