Kompleks Makam Bangsawan Melayu

Benteng Tempilang (Photo by: Donnie Luminous)
Bahasa Indonesia/ English
 
Kompleks Makam Bangsawan Melayu terletak tepat di pusat kota lama Mentok. Lokasi kompleks makam lebih tinggi dibanding dengan tanah di sekitarnya. Secara administratif makam ini terletak di Kampung Keramat, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Secara geografis komplek makam berada pada 03º45’ 40,9’’ LS dan 102º 44’ 1,5’’BT dan hanya berjarak sekitar ratusan meter dari pantai (Selat Bangka), terdapat di sekitar benteng tanah Kota Seribu, yang dulunya merupakan kampung Pekauman Dalam, kota Mentok.
 
Kompleks makam terletak di belakang Mesjid Jami’ Mentok dan Kelenteng Kong Fuk Nio, dua tempat ibadah yang berdiri berdampingan. Apabila berkunjung ke kawasan ini, orang dapat melihat beberapa bangunan cagar budaya sekaligus, serta memperhatikan harmoni antara masyarakat Melayu, keturunan Tionghoa dan masyarakat pendatang lainnya.
 
Makam Bangsawan Melayu ini terbuat dari batu karang, meskipun di Mentok juga terdapat batuan andesit. Makam-makam yang terdapat di kompleks ini secara umum dibagi dua tipe, yaitu tipe Demak-Tralaya dan tipe Aceh beserta variasinya. Nisan tipe Demak-Tralaya, lebih kaya hiasannya dibanding dengan tipe Aceh. Jirat dan nisan di pemakaman ini banyak dibuat dari batu karang. Ragam hias yang terbanyak berupa hiasan tumpal, sulur-suluran, dan garis-garis lengkung. Ragam hias tipe Aceh lebih sederhana, berupa garis-garis lurus dan lengkung. Ragam hias tulisan Arab, tumpal, sulur-suluran, dan garis-garis lengkung bisa menunjukkan kedudukan seseorang. Semakin kaya ragam hias makamnya, maka semakin tinggi status sosial dan kedudukannya.
 
Tokoh-tokoh yang dimakamkan pada pemakaman ini adalah dari keluarga Siantan yang berjumlah delapan orang. Ke delapan tokoh tersebut adalah:  
  1.  Abang Pahang (putera dari Encek Wan Abdul Jabar, yang dilantik oleh Sultan Palembang menjadi Kepala Pemerintahan Pulau Bangka/ Datuk Temenggung Dita Manggala);
  2.  Istri Abang Pahang;
  3.  Encek Wan Abdul Jabar (Mertua Dalam/ Ayahanda Mas Ayu Ratu (Zamnah) – permaisuri Sultan Mahmud Badaruddin I);
  4.  Encek Wan Akup bin Encek Wan Awang (Kepala Negeri Siantan yang menampung Sultan Mahmud Badaruddin I ketika mengungsi sebelum merebut tahta Kesultanan Palembang);
  5.  Encek Wan Seren (saudara Encek Wan Akub);
  6.  Abang Ismail (Temenggung Kerta Menggala/ Kepala Negeri Mentok pada masa Sultan Mahmud Baha’uddin (1784-1803);
  7.  Abang Muhammad Tayib (anak Abang Ismail bergelar Kartawijaya);
  8.  Syech Habib (utusan Sultan Palembang).
Dari ke delapan makam tersebut, terdapat dua nisan yang mempunyai tulisan Arab Melayu, yaitu makam Abang Pahang – Temenggung Dita Menggala dan makam Abang Muhammad Thayib. Pada nisan bagian kepala makam Temenggung Dita Menggala terdapat tulisan Arab yang artinya “Datuk yang dihormat Temenggung Dita Menggala”, sementara pada nisan bagian kaki tertulis “wafat pada 12 hari bulan Safar malam ahad 1252 H). Nisan dihias dengan sulur-suluran dan jiratnya disusun berundak empat dan tidak memiliki hiasan. Ukuran jirat makam 217 x 77 cm.
 
Nisan bagian kepala makam Abang Muhammad Thayib tertulis huruf Arab yang menyebut Abang Muhammad Thayib Kartawijaya, ketiga sisi lainnya dihiasi motif bunga. Pada nisan sebelah kaki terdapat hiasan pada keempat sisinya. Dari kedua tipe nisan tersebut dapat diketahui budaya yang mempengaruhinya. Tokoh yang dimakamkan berkaitan erat dengan Palembang, sedangkan berdasarkan tipologinya nisan makam di Palembang banyak mendapat pengaruh Demak dan Aceh. Sehingga tidaklah aneh apabila nisan di Mentok banyak mendapat pengaruh dari Palembang, karena secara politis pulau Bangka merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam.

 
Malay royal cemetery is located in the center of old town Muntok. It is higher than surrounding ground. Administratively, it is in Keramat village, a part of Tanjung subdistrict, Mentok district, Bangka Barat regency. This cemetery, which coordinate is 03°45'40.9"S, 102°44'1.5"E, is only about hundreds of meter from Bangka strait and close to Kota Seribu fort which previously known as Pekauman Dalam village, Mentok.
 
This cemetery is located behind Jami’ mosque and Kong Fuk Nio Chinese temple. Both of the prayer houses stand side by side. Therefore, visitors coming to this area are not only able to see several historical buildings but also note harmony life of Malay, Chinese, and other communities.
 
Malay royal graves are commonly made of coral although Mentok also has andesite. The graves are generally divided into two types, Demak-Tralaya and Aceh including its variation. Demak-Tralaya style has more decorations compared to Aceh type.The most-used decorations are tumpal or row of (isosceles) triangle, floral, and curved ornament. Aceh decoration is simpler by using straight and curved line. The decorations, including Arabic inscription, can represent social rank in the society. The more complex the decoration, the higher rank the deceased has.
 
There are eight graves in this cemetery. All of them are royals of Siantan family.
  1. Abang Pahang. Son of Encek Wan Abdul Jabar who was inaugurated by Palembang Sultanate as the head of Bangka district entitled Datuk Temanggung Dita Manggala.
  2. The wife of Abang Pahang.
  3.  Encek Wan Abdul Jabar. Father of Mas Ayu Ratu (Zamnah) who was the queen of Sultan Mahmud Badaruddin I. In other word, he was the father-in-law of Sultan.
  4. Encek Wan Akup bin Encek Wan Awang. Head of Siantan who gave a protection for Sultan Mahmud Badaruddin I in his exile before claiming his throne in Palembang sultanate.
  5. Encek Wan Seren (Encek Wan Akub’s brother)  
  6. Abang Ismail. Head of Mentok under Sultan Mahmud Baha’uddin (1784 – 1803) entitled Temenggung Kerta Menggala.
  7. Abang Muhammad Tayib. Son of Abang Ismail entitled Kartawijaya.
  8. Syech Habib. A delegate of Sultan of Palembang.
Two of the eighth graves belong to Abang Pahang Temenggung Dita Menggala and Abang Muhammad Thayib, have inscriptions of  Jawi or Arabic alphabet for writing the Malay language. The Arabic inscription on headstone of Dita Menggala grave reads Datuk yang dihormat Temenggung Dita Menggala (the honoured Datuk Tumenggung Dita Menggala), while on the footstone reads wafat pada 12 hari bulan Safar malam ahad 1252 H (passed away on  12 Safar, Saturday night, 1252A.H.). The headstone of Abang Muhammad Thayib inscribed Abang Muhammad Thayib Kartawijaya, while the rest sides were decorated with floral motif. The footstone was full of ornaments on all its sides.
 
From the type of the above-mentioned gravestones, the influencing culture can be identified. The deceased figures had a close relationship with Palembang. From its typology, the gravestones were under the influence of Demak and Aceh. It is no wonder Muntok was influenced by Palembang because Bangka Island was under Palembang Sultanate.      

Referensi:

  1. Berita Penelitian Arkeologi, No.6 tahun 2001. “Laporan penelitian Tinggalan-tinggalan Arkeologi Kolonial di Pulau Bangka”, Departemen Pendidikan Nasional Pusat Penelitian Arkeologi Balai Arkeologi Palembang.
  2. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI tahun 2008. “Masjid dan Makam Bersejarah di Sumatera''.
  3. Kemas Ridwan Kurniawan, 2013. “The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok”, UI – Press.
  4. Muhammad Arifin Mahmud,  1986. “Pulau Bangka dan Budayanya”, tidak diterbitkan.
  5. Tengku Sayyid Deqy,2014.”Korpus Mapur dalam Islamisasi Bangka”, Penerbit Ombak.

Penulis: Yuyun Tri Widowati
Translator: S.A. Sobri
Editor: Yuliarsih/Rusni (Bahasa Indonesia)/ Rosy Handayani (English)
Photo: Donnie Luminous

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Nature, Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat