IR. SUTEDJO SUJITNO: Merangkai Sejarah di Bumi Timah

Bahasa Indonesia/ English
 
 
Namanya Sutedjo Sujitno, ia telah menulis beberapa buku dan melakukan penelitian baik di bidang sejarah maupun di bidang pertambangan serta memberikan ceramah dalam berbagai seminar kesejarahan dan pertambangan. Sejarah Timah Indonesia adalah salah satu karya besar yang pernah dihasilkan oleh Sutedjo Sujitno melalui penelitian panjangnya. Karyanya yang lain yaitu Legenda Dalam Sejarah Bangka. Buku ini memberikan gambaran jati diri masyarakat Bangka melalui fakta-fakta sejarah dengan diperkuat oleh legenda yang hidup di dalam masyarakat Bangka. Melalui buku ini pula, ia berupaya membangkitkan semangat masyarakat Bangka untuk melakukan penggalian sejarah yang lebih mendalam, mengingat Pulau Bangka memiliki cerita sejarah yang unik, menarik dan belum banyak dikaji. 
 
Sutedjo Sujitno lahir di Madiun, 17 Januari 1938. Ibunya adalah seorang guru Taman Kanak-Kanak, sedangkan ayahnya adalah sorang kepala sekolah SD di Madiun bernama Soejitno Karto Darmojo yang aktif dalam pergerakan Muhammadiyah dan menjadi anggota dari Kepanduan Muhammadiyah yang dikenal dengan nama Hizbul Wathan. Hizbul Wathan merupakan sebuah gerakan kepanduan berdasarkan ajaran agama Islam, yang didirikan pada tahun 1918. Hizbul Wathan berkembang secara pesat sehingga menarik perhatian pemerintah Belanda dan kemudian membubarkannya. Pada saat itu ayah Sutedjo Sujitno sangat berperan aktif dalam pergerakan tersebut sehingga turut dicurigai oleh Belanda sebagai orang yang melawan. Kemudian orang tua Sutedjo pun  diasingkan ke Sumbawa oleh Belanda.
 
Sutedjo tinggal di Sumbawa hingga ia berusia tujuh tahun. Tahun 1945, di Sumbawa, ayah Sutedjo dianggap melakukan pergerakan melawan Belanda sehingga dipulangkan kembali ke tanah Jawa yang kemudian bermukim di Ngawi dan bertugas sebagai kepala sekolah SD di daerah tersebut. Hingga berakhirnya peristiwa PKI di Madiun pada tanggal 18 September 1948, orang tua Sutedjo kembali ke Madiun dan kemudian diangkat menjadi kepala sekolah SMP di sana. Meskipun kehidupan Sutedjo pada masa-masa kecilnya diwarnai oleh berbagai peristiwa yang sulit, namun Sutedjo memiliki masa kecil yang sama dengan anak-anak pada umumnya, bermain dan belajar. Bahkan, Sutedjo merupakan murid yang aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan organisasi siswa di sekolahnya.
 
Bersama Para Penulis Buku Kelekak Sejarah Bangka (Photo: Rusni)
 
Tahun 1958, Sutedjo Sujitno lulus dari SMA 1 Madiun dan melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung dan merupakan murid yang berprestasi sehingga mendapatkan kemudahan berupa kebebasan untuk memilih jurusan pendidikan yang diinginkannya. Awalnya Sutedjo tertarik untuk mempelajari perkeretaapian mengingat Madiun merupakan kota pusat industri kereta api terbesar di Indonesia. Namun, Sutedjo memilih untuk menuruti pesan ayahandanya karena pada saat sebelum meninggal dunia ibundanya pernah berkeinginan agar anaknya memilih sekolah yang sama dengan sekolah tempat Presiden Soekarno pernah menimba ilmu. Oleh karena itu, Sutedjo memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung yang sebelumnya bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng. Presiden Soekarno sendiri lulus dari Jurusan Teknik Sipil di Technische Hoogeschool te Bandoeng pada tahun 1926.
 
Setelah memantapkan hatinya untuk melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, Sutedjo memilih jurusan Tambang Eksplorasi mendekati aktifitas yang ia suka yaitu hiking. Tahun 1961 hingga 1962 terjadi peristiwa perebutan Irian Barat antara Indonesia dan Belanda dengan sekutunya yaitu Amerika. Imbas dari peristiwa tersebut, banyak tenaga pengajar di Institut Teknologi Bandung yang berkebangsaan Amerika dipulangkan ke negeri asalnya. Sebelum dosen-dosen berkembangsaan Amerika tersebut kembali ke negeri asalnya, Sutedjo berkesempatan untuk ikut ujian pada mata kuliah yang mereka ajarkan meskipun sebenarnya ia sendiri belum pernah mengikuti mata kuliah tersebut.
 
Sebelum mengikuti ujian, Sutedjo berupaya mempersiapkan dirinya walaupun hanya memiliki waktu yang sedikit untuk itu. Ia pergi ke perpustakaan, mencari buku-buku yang terkait dengan materi ujian, dan membaca beberapa bagian dari buku yang didapatinya lalu menyerahkan seluruh upayanya itu pada kemurahan Tuhan. Semangat, usaha yang tak setengah-setengah, dan keikhlasan menjalani ujian pada enam mata kuliah yang sama sekali belum pernah diikuti mengantarkan Sutedjo pada keberhasilan untuk melaluinya.
 
Di tahun yang sama, 1961, Sutedjo untuk pertama kalinya datang ke Pulau Bangka. Saat itu, Sutedjo dalam misi menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa yaitu membuat skripsi. Institut Teknologi Bandung sendiri memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan PN Tambang Timah yang sekarang berubah menjadi PT Timah Tbk. PN Tambang Timah membuka kesempatan bagi mahasiswa Institut Teknologi Bandung untuk magang di perusahaan. Oleh karena itu, Sutedjo memilih untuk melakukan penelitian skripsinya pada sebuah tambang di daerah Pemali dimana Sutedjo melihat keunikan pada lahan tambang di Pemali dalam arti deposit timah pada lahan tambang di tempat tersebut berbeda dengan deposit timah pada lahan tambang di daerah lainnya. Sutedjo menemukan kandungan timah primer pada lahan tambang di tempat itu sementara di tempat lainnya kandungan timah yang ada adalah timah aluvial.
 
Sutedjo melakukan penelitian skripsinya di Pemali selama sembilan bulan. Berdasarkan kaca mata penelitian, bagi Sutedjo penemuannya merupakan hal yang biasa. Perhatian nya justru tertarik pada kehidupan di Pemali itu sendiri dimana beliau mulai mengenal kehidupan masyarakat Bangka dengan banyak cerita-cerita mistisnya. Namun kemudian beliau sadar bahwa banyak cerita masyarakat Bangka yang memang mengandung hal-hal mistis dan hal tersebut merupakan tipikal dari cerita yang umum ada di dalam masyarakat Bangka. Tahun 1962, enam bulan setelah menyelesaikan penelitian untuk skripsinya di Pemali, Sutedjo pun lulus dari Institut Teknologi Bandung. Bagi Sutedjo, nasib baiklah yang membuatnya berhasil menyelesaikan kuliah dalam kurun waktu empat tahun karena pada masa-masa itu, memang tidak banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang singkat.
 
Setelah menamatkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung, Sutedjo kembali ke Bangka dan bekerja pada PN Tambang Timah yang pada saat itu tenaga ahli timah hampir seluruhnya adalah orang-orang Belanda. Setelah mereka kembali ke negara asalnya, PN Tambang Timah Bangka hanya dapat mengandalkan tenaga-tenaga muda yang baru lulus untuk “mengendalikan” perusahaan saat itu. Sutedjo ditempatkan di bidang eksplorasi tambang dan bertugas melakukan penelitian di seluruh wilayah di Bangka. Hasil penelitiannya menemukan bahwa keadaan timah di Pulau Bangka sangat lemah karena cadangan timah telah habis. Sutedjo justru menemukan cadangan timah yang besar di lautan Pulau Bangka bagian utara. Oleh karena itu pada tahun 1989 PT. Tambang Timah Persero mulai go offshore mining.
 
Tahun 1960-an merupakan tahun yang berat menurut Sutedjo. Keadaaan ekonomi pada saat itu khususnya di Bangka sangat memprihatinkan. Penyelundupan timah merajalela sehingga menyebabkan Perusahaan Tambang Timah Bangka harus mendatangkan bantuan dari tentara angkatan darat untuk memberantas penyelundupan tersebut. Salah satu markas tentara angkatan darat yang ditugaskan untuk memberantas penyelundupan timah di Bangka berada di komplek perumahan timah di Sungailiat. Bagian dapur dari rumah yang menjadi markas tentara angkatan darat tersebut menjadi ruang tahanan bagi para penyelundup timah tersebut. Pada waktu itu, Sutedjo kenal baik dengan tentara angkatan darat tersebut. Hingga suatu hari beliau dikejutkan oleh penangkapan orang-orang yang berpenampilan rapi dengan baju berbahan tetoron. Orang yang berpakaian tetoron tersebut turun dari sebuah truk dengan pengawalan beberapa orang tentara, tangan mereka diikat ke belakang, lalu kemudian dimasukkan ke dalam ruang tahanan. Karena merasa penasaran beliau pun bertanya.
 
“Kap, ada apa orang-orang itu ditangkap?” tanya Sutedjo keheranan
“Mereka adalah penyelundup” jawab sang kapten.
“Lho, bagaimana bisa mereka penyelundup” Sutedjo semakin bingung, di dalam bayangannya penyelundup adalah orang-orang dengan penampilan yang menyeramkan dan kasar.
“Yaa lihat saja penampilan mereka Su, coba pikirkan dari mana mereka bisa mendapat