FGD Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi Identifikasi Ikon Kepariwisataan Bangka Belitung

Kegiatan Focus Group Discussion Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi (kiri-kanan: Effendi (Kabid Destinasi Pariwisata Disbudpar Babel), Teti Ariyanto (Ketua Tim Ahli), dan Miftahul Farida (Kabid Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi).

Pangkalpinang – Pentingnya ikon kepariwisataan suatu daerah memiliki peran penting dalam mempromosikan potensi pariwisata daerah terkait. Dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel) mengajak para penggiat pariwisata baik yang berasal dari Pemerintah mau pun stakeholders dalam mengidentifikasi jenis wisata yang akan diangkat sebagai ikon pariwisata Bangka Belitung pada kegiatan Focus Group Discussion Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi, Selasa (16/5), di Hotel Puncak, Pangkalpinang.

Kepala Disbudpar Babel yang diwakili oleh Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Effendi, mengatakan bahwa faktor 3A (Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas) merupakan dasar dalam pengembangan suatu destinasi pariwisata.

“Pembangunan destinasi seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan disebutkan bahwa destinasi adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibiltas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan,” kata Effendi saat membuka acara.

Elemen-elemen inilah, lanjut Effendi, yang menjadi pondasi atau dasar pembangunan suatu destinasi pariwisata yang masing-masing merupakan suatu kelengkapan yang akan saling menguatkan dan meningkatkan daya saing destinasi wisata atau suatu daerah. Pembangunan kepariwisataan adalah pembangunan yang bersifat multi sektor yang ruang lingkupnya sangat luas karena bersifat lintas wilayah. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan dan keterlibatan dari berbagai pihak.

Pernyataan serupa juga disampaikan Miftahul Farida, Kepala Bidang Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi, Kemenpar RI dalam sambutannya yang juga mengatakan bahwa untuk pengembangan destinasi mengacu kepada 3A, yakni Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas.

“Untuk mengembangkan destinasi, sesuai arahan Pak Menteri kita (Arief Yahya. Red), dilihat dari 3A-nya. Dari Atraksi yakni daya tarik yang ada di destinasi yang dapat dinikmati wisatawan, kemudian Aksesibilitas yakni  bagaimana kita bisa sampai ke suatu destinasi, dan Amenitasnya yakni kemudahan, rambu-rambu atau fasilitas apa yang tersedia di suatu destinasi agar wisatawan merasa lebih nyaman, mudah, dan ingin berkunjung kembali,” kata Farida.

Hal utama dalam kegiatan ini, Farida menambahkan, yakni harmonisasi pentahelix dari ABCGM. A (Academic), B (Bussiness), C (Community), G (Government), dan M (Media). Dimana bidang Akademis sangat berperan dalam memformulasikan perencanaan pengembangan kepariwisataan. Kedua, Bisnis memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan kerjasama kepariwisataan. Kemudian, Komunitas dimana kita banyak mendapatkan saran dari komunitas yang potensial. Selanjutnya Pemerintah, bagaimana kita akan atau dapat memajukan kepariwisataan kalau Pemerintah setempat sendiri tidak perduli atau tidak berkomitmen terhadap kemajuan pariwisata daerahnya. Dan yang terakhir adalah Media, dengan keterlibatan media memberikan dampak yang luar biasa dan luas dalam mempromosikan potensi pariwisata.

Narasumber yakni Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi, Tradisi, Seni, dan Budaya, Kemenpar RI, terdiri dari Teti Ariyanto selaku Ketua Tim yang juga merupakan seorang Master Assesor untuk Biro Perjalanan Pariwisata dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), Tendi Nur Alam (anggota) yang juga merupakan seorang chef dan pengusaha kuliner, dan Revalino (anggota) yakni Ketua HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Jakarta. Peserta sebagian besar berasal dari agen atau biro perjalanan yang ada di kabupaten/kota Se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Teti Ariyanto berharap bahwa dalam kegiatan ini peserta dapat berinteraksi aktif dengan para narasumber tentang jenis wisata potensial yang ingin diangkat sebagai ikon pariwisata Bangka Belitung dan dapat mengkaji pembuatan paket wisata dengan tepat dan menarik, serta mengangkat berbagai hal yang dianggap masih menjadi kendala atau pun hal-hal yang belum dikembangkan.

Penulis                   : Ernawati Arif

Editor                     : Yuliarsih

Updater                  : Rafiq Elzan

Dokumentasi          : Rafiq Elzan

Sumber: 
Disbudpar Prov. Kep. Babel