Drs. Akhmad Elvian

Bahasa Indonesia/ English
 
 
Namanya Akhmad Elvian, lahir di Pangkalpinang, tanggal 14 Oktober 1965 merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Semula namanya adalah Akhmad Yani, diambil dari nama Jenderal Ahmad Yani yang gugur pada peristiwa G30S PKI. Akan tetapi nama tersebut kemudian diganti menjadi nama Akhmad Elvian. Nama Elvian sendiri diambil dari nama seorang penyanyi yang terkenal pada waktu itu, yaitu Alvian. Sebagian besar orang mengenalnya sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang, tidak jarang pula orang mengenalnya sebagai penulis buku-buku sejarah dan budaya Kota Pangkalpinang maupun sejarah dan tradisi yang ada di Pulau Bangka. Bila berbicara mengenai tokoh yang konsen terhadap sejarah baik sejarah Kota Pangkalpinang maupun sejarah di Pulau Bangka, maka Akhmad Elvian adalah salah satu dari sedikit orang yang sangat aktif dalam menggali dan menulis sejarah di Pulau Bangka. Tulisan-tulisannya sendiri telah banyak dimuat baik di media surat kabar lokal, buku-buku, maupun di beberapa artikel online.
 
Ketertarikan Akhmad Elvian terhadap sejarah telah dimulai semenjak kecil. Ia adalah anak yang pendiam dan gemar membaca buku. Banyak buku bacaan yang dimilikinya, mengingat orang tuanya yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Oleh karena itulah tak heran bila dirumahnya banyak buku dan majalah. Elvian tidak pernah pilih-pilih buku untuk dibaca, ia bahkan “melahap habis” isi buku ilmu pengetahuan umum dan menghafal isinya. Akan tetapi dari semua buku bacaan, yang paling menarik perhatian Elvian kecil adalah buku-buku yang memuat cerita-cerita rakyat, cerita-cerita pewayangan, dan cerita yang memuat tentang sejarah-sejarah. Buku-buku yang ditulis oleh presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno, juga tak luput dari perhatian Elvian kecil. Ia menamatkan dua jilid buku Di Bawah Bendera Revolusi dan juga buku yang berjudul Sarinah. Bahkan ia menghafal isi dari buku-buku tersebut dan dapat menjelaskannya kembali. Sementara itu ia juga terkagum-kagum dengan cerita pewayangan Ramayana dan Mahabarata yang mengisahkan tentang perang Baratayudha dengan Pandawa yang mewakili kebaikan dan Kurawa yang mewakili kejahatan, serta perang antara Rama dan Dasamuka. Dari cerita-cerita rakyat pewayangan sejarah tersebutlah kemudian muncul ketertarikan dalam diri Elvian untuk dapat mempelajari tentang sejarah dalam cakupan yang lebih luas dan mendalam.
 
Sedari kecil Elvian memiliki kebiasaan membaca setidaknya seratus hingga dua ratus halaman perharinya. Karena kegemarannya membaca, Elvian memiliki kepandaian literasi yang lebih baik dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Ia ingat pada waktu SD ia mendapat tugas mengarang oleh guru bahasa Indonesianya. Tema yang diangkat dalam tugas mengarang tersebut adalah mengenai masa selama liburan sekolah. Untuk mengerjakan tugas tersebut, Elvian memilih menulis tentang pengalamannya berkebun bersama ayahnya selama liburan. Memang selain mengajar, ayah Elvian juga berkebun, seperti kebanyakan orang Bangka pada umumnya yang juga memiliki kebun. Di kebun, mereka menanam berbagai macam tanaman, mulai dari berladang berume, menanam lada, palawija, hingga cengkeh. Setelah selesai menuliskan ceritanya selama liburan tersebut, Elvian pun mengumpulkannya. Akan tetapi, pada waktu itu guru yang mengajarinya tidak mempercayai hasil karya Elvian meskipun cerita yang disampaikan melalui karangannya sederhana, namun tulisannya dianggap tidak seperti tulisan anak-anak seumurannya. Alur cerita yang ditulisnya terlalu sistematis dan kronologi cerita terlalu  mendetail. Oleh karena itu, guru Bahasa Indonesia yang memberinya tugas tidak mempercayai hasil karangannya ditulis oleh Elvian sendiri.
 
Kepandaian literasi yang dimiliki oleh Elvian pada dasarnya didukung oleh anugerah berupa daya ingat yang sangat kuat sehingga ia mampu mengingat berbagai hal termasuk yang kecil sekalipun. Oleh karena itu, sangat mudah bagi Elvian untuk menangkap pelajaran di sekolah. Seperti misalnya dalam pelajaran sejarah yang memang ia sukai. Elvian yang gemar membaca buku-buku sejarah baik sejarah nasional maupun sejarah dunia, juga dapat menghafal nama-nama raja atau kaisar dengan dinasti-dinasti yang mereka bangun yang ada di Asia Timur. Akan tetapi, kepandaiannya tersebut pun tidak memudahkan jalannya untuk mendapat nilai yang sempurna. Meskipun ia selalu mendapatkan nilai sepuluh pada setiap ujian sejarah, guru sejarahnya hanya memberikan nilai satu titik pada pelajaran sejarah di rapornya. Sama ceritanya dengan guru Bahasa Indonesia yang memberinya tugas mengarang pada saat SD dahulu, guru sejarahnya di SMA tidak percaya terhadap hasil-hasil ujian pelajaran sejarah Elvian. Tentu saja ini membuatnya tidak puas dan memprotes tindakan guru sejarahnya pada waktu itu. Setelah diuji berkali-kali oleh sang guru dan Elvian mampu menjawabnya dengan benar, barulah kemudian ia mendapatkan nilai sepuluh di rapornya.
 
Pengalaman merasakan sikap yang kurang adil dari guru juga pernah dialami oleh Elvian pada guru geografinya di SMA. Sebagai anak yang selalu penuh dengan rasa ingin tahu dan gemar membaca, Elvian tidak segan-segan untuk selalu mencari tahu judul buku yang digunakan gurunya untuk mengajar. Setelah mengetahui judul dan nama penerbit buku pegangan guru, Elvian segera mencarinya di toko buku yang dahulu hanya ada satu di Kota Pangkalpinang yaitu toko buku Pemuda. Ia pun membaca dan mempelajari isi buku tersebut dalam dua hari. Suatu ketika, guru geografinya mengajukan sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya. Tentu saja Elvian dapat menjawab pertanyaan gurunya dengan mudah, namun guru geografinya tersebut menyalahkan jawaban yang diberikan oleh Elvian. Tidak ingin disalahkan atas jawabannya, Elvian pun menantang gurunya itu untuk melihat jawabannya di buku pegangan yang digunakan oleh sang guru. Hal tersebut membuat gurunya menjadi marah pada Elvian sehingga nilai pelajaran geografinya pada STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) hanya tujuh sementara teman-temannya yang lain mendapatkan nilai yang lebih baik darinya. Untunglah pengalaman seperti ini hanya terjadi hingga SMA saja, walaupun sebenarnya hanya beberapa guru saja yang kurang mengapresiasi upaya dan ketekunan yang dimiliki oleh seorang murid dalam belajar.
 
Pada masa kuliah Elvian masih tetap sama, ia adalah seorang mahasiswa yang gemar membaca dan menghabiskan waktu luangnya untuk belajar. Ia senang mengunjungi perpustakaan, tidak hanya yang ada di kampusnya akan tetapi juga perpustakaan yang ada di luar kampusnya seperti Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan CSIS. Selain mengunjungi perpustakaan, Elvian juga sering berjalan-jalan mengunjungi museum-museum untuk menambah pengetahuannya. Kegiatan tersebut tentu saja mendukung prestasi akademiknya sebagai seorang mahasiswa karena sesuai dengan minatnya, Elvian mengambil jurusan sejarah dan antropologi di IKIP Jakarta atau Universitas Negeri Jakarta sekarang. Pada waktu itu, literatur mengenai kesejarahan dan antropologi terbilang masih sedikit sehingga Elvian pun dituntut untuk aktif dalam menggali sumber-sumber bagi mata kuliahnya.
 
Kedua orang tua Elvian pada dasarnya tidak pernah mempermasalahkan pilihan anak-anak mereka untuk menimba ilmu. Hal itu pula, menurut Elvian yang membuat ia dan saudara-saudaranya memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Ada kakaknya yang memilih jurusan Hubungan Internasional, sementara adik-adiknya ada yang memilih jurusan akuntansi, zoologi, bahkan ada yang memilih untuk menjadi seorang ulama. Elvian sendiri karena menyenangi sejarah ia memilih jurusan Sejarah dan Antropologi di IKIP Jakarta. Meskipun bukan jurusan favorit, dan ia pada dasarnya memiliki kesempatan untuk memilih jurusan lain yang lebih populer, namun ia senang melakukan apa yang ia sukai. Dirinya pun tak pernah mengkhawatirkan masalah pekerjaan setelah lulus kuliah. Elvian berhasil menamatkan kuliahnya dalam kurun waktu empat tahun, yaitu pada tahun 1988. Setelah lulus ia mendapatkan tawaran untuk mengajar SMA favorit di kawasan Bulungan Jakarta, di Pertiba Sungailiat untuk memberikan kuliah pada mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Budaya Dasar. Elvian memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena pada waktu itu ia sadar akan kemampuan ekonomi kedua orang tuanya dan juga adik-adiknya yang lain yang masih harus bersekolah. Elvian memilih untuk dapat membantu kedua orang tuanya menyekolahkan adik-adiknya.
 
 
Tahun 1989, setelah satu tahun mengajar di Pertiba, Elvian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil sebagai guru di SMA Negeri 1 Toboali. Pada waktu itu, Elvian adalah satu-satunya guru PNS di SMA Negeri 1 Toboali, sementara itu guru yang lainnya berstatus sebagai guru honorer. SMA Negeri 1 Toboali tempat Elvian mengajar merupakan sekolah yang baru didirikan, sehingga tenaga pengajar di sekolah tersebut sangat sedikit. Ia ingat, pada waktu itu jam mengajarnya di SMA Negeri 1 Toboali sangat panjang yaitu 33-34 jam dalam satu minggu. Ia harus mengajar berbagai mata pelajaran kepada murid-muridnya mulai dari mata pelajaran sejarah, antropologi, PPKN, PMP, Sosiologi, bahkan mata pelajaran olahraga. Akan tetapi, baginya hal tersebut merupakan tantangan dalam membangun sekolah yang baru. Untuk itulah ia menerapkan disiplin yang tinggi kepada murid-muridnya.
 
Mengingat pengalamannya dengan beberapa orang guru yang tidak percaya terhadap dirinya, Elvian memutuskan untuk mengembangkan cara mengajar yang berbeda dengan metode-metode ajar guru yang lainnya. Ia berusaha untuk tidak menekan dan mengatur anak-anak muridnya. Meskipun ia menyukai pelajaran sejarah namun ia sadar bahwa mungkin bagi anak-anak lain, pelajaran tersebut tidak begitu menyenangkan. Oleh karena itu, Elvian tidak hanya mengajarkan pelajaran Sejarah dan pelajaran-pelajaran yang lainnya yang ia ajarkan secara tekstual artinya tidak hanya menyampaikan apa yang ada dalam buku teks pelajaran. Ia berusaha untuk menyampaikan materi dari sisi sekuensis dan probabilitasnya sehingga keluasan dan tingkatan materinya sudah lebih mendalam kepada para muridnya.
 
Elvian tidak hanya menggunakan kelas sebagai ruang belajar. Beberapa tempat bersejarah yang ada disekitar Toboali pun dijadikan sebagai ruang belajar untuk murid-muridnya. Sehingga pelajaran Sejarah yang padat materi, menjadi lebih menyenangkan dan mudah diserap oleh murid-muridnya. Elvian juga berusaha untuk memberikan tugas yang sederhana bagi para muridnya, misalnya menulis tentang sejarah keluarga atau tokoh di keluarga atau di kampungnya. Elvian menilai, dengan metode mengajar seperti ini ia dapat membuat pelajaran sejarah menjadi lebih menyenangkan dan menarik.
 
Elvian selalu berusaha untuk tidak membuat murid-muridnya pintar secara individual akan tetapi pintar secara bersama-sama. Oleh karena itu selain memberikan tugas individu, ia juga membentuk kelompok-kelompok diskusi untuk membahas beberapa isu. Salah satu tugas kelompok yang pernah ia berikan kepada muridnya adalah mendiskusikan tentang kegemaran orang-orang membaca Asmaraman S Kho Ping Hoo. Melalui diskusi tersebut, murid-muridnya menemukan nilai-nilai filosofis dan nilai-nilai kebaikan seperti kesantunan yang ada dalam buku Asmaraman S Kho Ping Hoo. Elvian bercerita bahwa beberapa orang muridnya masih ingat tentang tugas yang ia berikan tersebut.  Bagi Elvian belajar yang efektif adalah belajar melalui pengalaman sehingga murid-muridnya dapat memahami materi pelajaran secara lebih mendalam. Ia tidak heran bila di beberapa sekolah tempat ia pernah mengajar masih menggunakan diktat mata pelajaran yang pernah ia susun.
 
Karir Elvian sebagai seorang guru dengan cepat meningkat. Tahun 1994 saat ia berusia 29 tahun, ia diangkat menjadi kepala sekolah SMP Negeri 1 Jebus. Ia merupakan kepala sekolah termuda pada waktu itu. Pengangkatan Elvian menjadi Kepala Sekolah pada waktu itu didasarkan pada hasil seleksi se-Sumbagsel untuk menjadi Kepala Sekolah. Dalam seleksi tersebut, Elvian berhasil mendapatkan peringkat pertama. Hanya berselang waktu tujuh bulan, Elvian kembali mengikuti seleksi serupa dan diangkat menjadi kepala sekolah SMA Negeri 1 Jebus. Pada tahun 2000 hingga 2003, Elvian bertugas untuk menjadi kepala sekolah di SMA Negeri 1 Sungailiat. Setelah itu tahun 2004, Elvian berpindah tugas di Kota Pangkalpinang untuk menjadi Koordinator Pengawas di Dinas Pendidikan hingga tahun 2005. Pada tahun 2006, ia diangkat menjadi Kepala Bidang Kebudayaan dan enam bulan kemudian ia diangkat menjadi Kepala Dinas BUDPARPORA kota Pangkalpinang. Tahun 2013, ia pernah diangkat menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang selama kurang lebih satu tahun. Setelah itu, ia kembali menjadi Kepala Dinas BUDPARPORA Kota Pangkalpinang  hingga sekarang.
 
Pengalaman mengajar dan memimpin beberapa sekolah di Kabupaten Bangka menjadi inspirasi bagi Elvian untuk membuat program kegiatan di Dinas Budparpora. Beberapa kegiatan di Dinas Budparpora seperti lawatan sejarah, yang telah dimulai pada tahun 2006 pada dasarnya merupakan kegiatan yang dahulu sering ia lakukan bersama muridnya pada saat mengajar sejarah di SMA Negeri 1 Toboali. Selain itu ada pula kegiatan khataman Alqur’an yang dahulu sering diadakannya di SMA Negeri 1 Sungailiat dengan mewajibkan setiap kelas untuk melaksanakan Nganggung dan membuat Telur Khatam atau Telur Tamat setiap tahunnya, menjadi inspirasi dalam membuat kegiatan seperti Festival Seroja dan Nganggung Akbar di Kota Pangkalpinang. Elvian sadar, bahwa kegiatan-kegiatan seperti itu pada dasarnya telah ada dalam masyarakat dan dengan dana dari pemerintah yang minim kegiatan tersebut dapat digali dan dikomunikasikan serta dikembangkan. Harapannya adalah kegiatan seperti ini dapat menjadi lebih besar dan menjadi ikon dari Kota Pangkalpinang seperti Sekaten di Yogyakarta, Festival Bunga di Tomohon, Tabot di Bengkulu, dan Fashion Carnival di Jember.
 
Bila kegiatan-kegiatan seperti Nganggung yang pernah ia laksanakan di sekolah bersama dengan murid-muridnya dengan tujuan untuk mendidik murid-muridnya tentang adat istiadat lokal serta menanamkan kreatifias melalui kreasi Tudung Saji misalnya, maka lain halnya dengan tujuannya mengangkat kegiatan-kegiatan berakar dari tradisi lokal dalam masyarakat. Elvian berharap, adanya peningkatan kreatifitas pada masyarakat melalui kegiatan yang dikelola oleh DISBUDPARPORA Kota Pangkalpinang yang ia pimpin. Sehingga dengan berkembangnya kreatifitas masyarakat dapat meningkatkan ekonomi masyarakat disamping pelestarian budaya masyarakat. Bagi Elvian, bentuk Tudung Saji pada dasarnya tidaklah se-baku seperti yang dikira oleh sebagian besar masyarakat sekarang karena ia menemukan bahwa dahulu orang-orang menggunakan Tudung Saji dengan berbagai bentuk dan warna. Kreatifitas yang telah mati tersebut harus kembali direvitalisasi dengan mengembangkan fungsi sekunder dari acara Nganggung tersebut sementara fungsi primernya masih tetap terjaga. Oleh karena itu, ide-ide pengembangan budaya dan pariwisata harus muncul dari konten lokal yaitu budaya masyarakat itu sendiri.
 
Selain menjalankan pekerjaannya sebagai seorang Kepala Dinas BUDPARPORA Kota Pangkalpinang, Elvian juga aktif menulis buku-buku sejarah Bangka Belitung. Selain karena ia memang memiliki minat dalam dunia sejarah, ada rasa prihatin yang muncul dalam dirinya melihat kondisi Bangka Belitung yang seolah-olah tanpa sejarah. Sebuah pertanyaan yang menuntunnya untuk mulai menulis pun muncul; Bangka Belitung apakah sejarah kepulauan yang dilupakan atau kepulauan bersejarah yang dilupakan. Elvian juga merasa adanya ketimpangan penulisan sejarah pada buku-buku sejarah nasional yang hanya menuliskan sejarah di pulau besar seperti Jawa. Sementara Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki lebih dari tujuh belas ribu pulau, termasuk di dalamnya Pulau Bangka yang memiliki sejarah tersendiri dan juga memiliki peran dalam sejarah nasional. Setelah mencari penyebab kurangnya literatur sejarah Bangka Belitung, ia pun sadar bahwa masalah yang sebenarnya terletak pada rendahnya kepedulian dalam menggali dan menulis sejarah daerahnya. Hal inilah yang pada akhirnya memacu Elvian untuk mulai menggali dan menulis sejarah Bangka Belitung dimulai dengan buku pertamanya Pangkalpinang Kota Pangkal Kemenangan. Elvian tidak berupaya untuk membuat tulisan dengan tema yang sulit, ia mencoba memulai dari hal-hal yang sederhana dan ada disekitarnya. Oleh karena itu ia menulis buku tentang Kota Pangkalpinang.
 
Buku Pangkalpinang Kota Pangkal Kemenangan pada akhirnya sampai di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Dengan buku yang ditulis oleh Elvian tersebut akhirnya Kementerian pun menyelenggarakan Lawatan Sejarah Nasional di Kota Pangkalpinang dengan tema Pangkalpinang Kota Pangkal Kemenangan. Dengan menggali sejarah Kota Pangkalpinang dan menuliskannya dalam sebuah buku, Elvian tidak hanya menyumbangkan literatur sejarah sebagai sebuah sumber pengetahuan kesejarahan. Ada banyak hal yang diubah setelah penerbitan buku tersebut, diantaranya adalah tanggal Hari Jadi Kota Pangkalpinang, Lambang Daerah Kota Pangkalpinang, dan slogan Kota Pangkalpinang yang sebelumnya Rajin Pangkal Makmur menjadi Pangkalpinang Kota Pangkal Kemenangan. Dengan demikian orang-orang mulai mengetahui sejarah di Pangkalpinang dan umumnya sejarah Bangka Belitung.
 
Elvian mulai menulis buku tentang Sejarah pada tahun 2006, sementara itu buku mengenai pendidikan telah dirintisnya pada saat ia menjadi guru. Buku tentang pendidikan yang ditulisnya berjudul Pernak-Pernik Otonomi Pendidikan, akan tetapi tulisannya tersebut hingga kini belum diterbitkan. Hingga saat ini Elvian telah menulis sebanyak dua puluh satu judul buku, sementara itu tiga judul buku merupakan tulisannya bersama dengan penulis lain. Di antara buku-buku yang ditulis oleh Elvian, buku yang berjudul Kota Kapur Dalam Lintasan Sejarah Bahari merupakan buku yang paling berkesan untuknya. Buku ini terbit pada tahun 2010, bertepatan dengan peluncuran Visit Bangka Belitung Archipelago. Melalui buku tersebut Elvian berupaya untuk mengenalkan provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam konteks yang ilmiah.
 
Buku Kota Kapur Dalam Lintasan Sejarah Bahari dapat dikatakan berhasil dalam mengenalkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam konteks ilmiah. Beberapa  akademisi, baik profesor maupun mahasiswa dari dalam maupun luar negeri pun datang ke Bangka Belitung untuk melakukan kajian-kajian kesejarahan maupun kajian budaya. Oleh karena itu Elvian seringkali menjadi narasumber untuk kajian mengenai Kota Kapur menyangkut teori maupun fakta-fakta sejarah agama Budha di Pulau Bangka. Hal tersebut kemudian menjadi kebanggaan bagi Elvian untuk mengungkapkan kekayaan Bangka Belitung terutama dari segi bahasa, dimana tradisi ortografi di Bangka Belitung “disimpangkan”. Tulisan di Prasasti Kota Kapur yang menggunakan huruf palawa tidak berbahasa Sansekerta akan tetapi berbahasa Melayu Kuno. Keberadaaan nama Kerajaan Sriwijaya pun pertama kali diketahui dari Prasasti Kota Kapur. Kajian mengenai situs Kota Kapur sebenarnya telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang dan BP3 Jambi, namun hasil kajian tersebut tidak pernah dipublikasikan sehingga pengetahuan mengenai situs Kota Kapur tidak banyak diketahui oleh masyarakat dan hampir tidak menjadi kebanggaan masyarakat Bangka.
 
Pada saat ini Elvian melihat banyak orang mulai menulis sejarah maupun budaya yang ada di Bangka Belitung. Hal ini pun turut meningkatkan semangat dan kebanggaan pada masyarakat Bangka Belitung terhadap kekayaan sejarah dan budaya lokal. Kehidupan berkesenian pun mulai tumbuh dan berkembang di Bangka Belitung, bahkan kesenian itu sendiri menjadi bagian dari sumber ekonomi beberapa kelompok atau komunitas seni. Oleh karena itu, ia berharap tulisan-tulisan ilmiah yang mengangkat kekayaan sejarah dan budaya yang ada di Bangka Belitung lebih banyak lagi sehingga pengembangan terhadap budaya lokal menjadi lebih maju tidak hanya untuk pengetahuan akan tetapi juga untuk kemakmuran masyarakat.
 

PROFIL SINGKAT
Nama
:
Drs. AKHMAD ELVIAN
No. Telepon/HP
:
081279832614
Alamat
:
Jalan Demang Singayudha No. 55 RT 011 RW 003 Kelurahan Bukit Besar Kecamatan Girimaya Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Latar belakang pendidikan
:
  1. SD Negeri 13 Kodya Pangkalpinang, lulus Tahun 1977.
  2. SMP Negeri 1 Pangkalpinang, lulus Tahun 1981.
  3. SMA Negeri 1 Kota Pangkalpinang, lulus Tahun 1984.
  4. FPIPS, S1, Sejarah dan Antropologi, IKIP Jakarta, lulus Tahun 1988.
Penghargaan yang diterima
:
  1. Piagam Penghargaan dari Walikota Pangkalpinang dalam rangka memperingati Setengah Abad Kota Pangkalpinang sebagai Daerah Otonom (1956-2006) atas segala bantuan, dukungan dan partisipasinya dalam membangun Kebudayaan Kota Pangkalpinang, 14 November 2006.
  2. Piagam Penghargaan dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung atas karya dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Hari Jadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke-11 (21 November 2000 - 2011).
  3. Penghargaan dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atas partisipasinya sebagai Pemakalah dalam seminar Internasional VII, 19-22 November 2010.
  4. Penghargaan Nomor: 687/Dit. NS/ XI/2011 dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI sebagai Pembicara "Dialog Interaktif Kesejarahan" 21-23 November 2011.
  5. Penghargaan dari Kementerian Agama RI atas partisipasinya sebagai Pembicara dalam "The 11th Annual Conference on Islamic Studies", 13 Oktober 2011.
  6. Penghargaan dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung atas Partisipasinya dalam "International Seminar on Marine Tourism", 21 September 2011.
  7. Penghargaan dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjung Pinang Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI atas partisipasinya sebagai Narasumber dalam Sinkronisasi Kebudayaan, 12-13 Mei 2011.
  8. Satyalancana Karya Satya 10 Tahun, 27-10-2003, 079/TK/TAHUN 2003, dari Presiden Republik Indonesia.
  9. Satyalancana Karya Satya 20 Tahun, 20-06-2010, 26/TK/TAHUN 2010, dari Presiden Republik Indonesia.
  10. Piagam Penghargaan dari Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjungpinang, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Narasumber kegiatan Jejak Tradisi Daerah (JETRADA), 14-17 April 2015.
  11. Piagam Tanda Penghargaan dari Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menganugerahkan Tanda Penghargaan Lencana Darmabakti sebagai anggota Mabicab Kota Pangkalpinang Bangka Belitung, 10 Agustus 2015.
  12. Piagam Penghargaan dari Kepala Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pembicara pada Seminar Nasional Kebahasaan III Tahun 2015 “Penguatan Sikap Bahasa dalam Dunia Pendidikan”, 30 November 2015.
  13. Piagam Penghargaan dari Ketua Tim Pengusul Pahlawan Nasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai Pembicara pada Seminar Nasional Usulan Pahlawan Nasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 29 Oktober 2016.
 
KARYA-KARYA YANG DIHASILKAN
A. Buku-buku yang dipublikasikan:
  1. Kampoeng di Bangka by Akhmad Elvian (Book)
    in Indonesian and held by 13 WorldCat member libraries worldwide
    On history and social life and customs of villages in Bangka Island, Indonesia
  2. Kotakapur dalam lintasan sejarah bahari by Akhmad Elvian (Book)
    2 editions published in 2011 in Indonesian and held by 12 WorldCat member libraries worldwide
    History of Kotakapur, a village on the western coast of Bangka Island, off the coast of South Sumatera, Indonesia, where the Kota Kapur inscription was discovered
  3. Alat tangkap tradisional Kota Pangkalpinang by Taufik Hidayat (Book)
    3 editions published between 2006 and 2007 in Indonesian and held by 12 WorldCat member libraries worldwide
    Traditional tools for animal trapping in Pangkalpinang, Bangka Belitung Province
  4. Pakaian adat dan pakaian adat pengantin paksian serta upacara adat perkawinan Kota Pangkalpinang by Akhmad Elvian (Book)
    2 editions published between 2006 and 2009 in Indonesian and held by 11 WorldCat member libraries worldwide
  5. Pangkalpinang, kota pangkal kemenangan (Book)
    1 edition published in 2009 in Indonesian and held by 11 WorldCat member libraries worldwide
    History and development of Pangkalpinang City, Kepulauan Bangka Belitung Province
  6. Tari pinang sebelas, kota Pangkalpinang : suatu tinjauan makna simbolis by Akhmad Elvian (Book)
    2 editions published in 2008 in Indonesian and held by 9 WorldCat member libraries worldwide
  7. Kumpulan cerita rakyat (Book)
    2 editions published in 2007 in Indonesian and held by 8 WorldCat member libraries worldwide
  8. Setengah abad Kota Pangkalpinang sebagai daerah otonom by Akhmad Elvian (Book)
    3 editions published between 2006 and 2009 in Indonesian and held by 3 WorldCat member libraries worldwide
    History and local government of Pangkalpinang
  9. Organisasi sosial suku bangsa Melayu Bangka di Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Kepulaun Bangka Belitung by Akhmad Elvian   (Book)
    1 edition published in 2010 in Indonesian and held by 3 WorldCat member libraries worldwide
    Social organization of Melayu Bangka people live in Jeriji Village, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung Province Indonesia
  10. Toponim kota Pangkalpinang by Akhmad Elvian (Book)
    2 editions published between 2009 and 2011 in Indonesian and held by 3 WorldCat member libraries worldwide
  11. Organisasi sosial suku bangsa Melayu di Tuatunu by Akhmad Elvian (Book)
    2 editions published in 2010 in Indonesian and held by 3 WorldCat member libraries worldwide
    Social structure of Malay people living in Tuatunu, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung Province, Indonesia
  12. Memarung, panggung, bubung, kampung & nganggung by Akhmad Elvian (Book)
    2 editions published in 2015 in Indonesian and held by 2 WorldCat member libraries worldwide
  13. Permainan dan alat musik tradisional Kota Pangkalpinang (Book)
    2 editions published in 2006 in Indonesian and held by 2 WorldCat member libraries worldwide
    Traditional games and musical instruments from Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung Province, Indonesia
  14. Drs. H. Zulkarnain Karim, MM : pancawarsa membawa perubahan Kota Pangkalpinang by Akhmad Elvian (Book)
    2 editions published in 2007 in Indonesian and held by 2 WorldCat member libraries worldwide
  15. Perang Bangka, tahun 1812-1851 Masehi by Akhmad Elvian (Book)
    1 edition published in 2012 in Indonesian and held by 1 WorldCat member library worldwide
  16. Membangun Pangkalpinang kita untuk semua by Akhmad Elvian (Book)
    1 edition published in 2009 in Indonesian and held by 1 WorldCat member library worldwide
  17. Makanan khas Pangkalpinang (Book)
    1 edition published in 2008 in Indonesian and held by 1 WorldCat member library worldwide
  18. Organisasi sosial suku bangsa Melayu Bangka by Akhmad Elvian (Book)
    1 edition published in 2009 in Indonesian and held by 1 WorldCat member library worldwide
  19. Kampoeng di Bangka Jilid II by Akhmad Elvian (Book)
in Indonesian and held by 13 WorldCat member libraries worldwide
On history and social life and customs of villages in Bangka Island, Indonesia
 
B. Makalah yang dipublikasikan
  1. Revitalisasi Peran dan Fungsi Organisasi HMI (Disampaikan pada ulang tahun HMI pada tanggal 3 Desember 2006 di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang)
  2. Peran Organisasi Sosial Suku Bangsa Melayu Bangka sebagai Kearifan Lokal dan Kekuatan Sosial dalam Penataan dan Pembangunan Masyarakat (Disampaikan dalam acara Keserasian Sosial di Daerah Rawan Bencana Sosial, diselenggarakan oleh Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi Kepulauan Bangka Belitung di Hotel Jatiwisata, pada tanggal 21-23 Oktober 2008)
  3. Peran Serta Generasi Muda dalam Pembangunan di Daerah (Disampaikan pada acara seminar, talkshow dan diskusi wawasan kebangsaan Kota Pangkalpinang, di Hotel Jatiwisata, pada tanggal 18 November 2008)
  4. Pemerkasaan dan Pemartabatan Bahasa Melayu Bangka (Disampaikan pada Seminar Revitalisasi dan Reaktualisasi Budaya Lokal dengan Tema Kesinambungan Bahasa Ibu Antar Generasi (Intergenerational Mother Tongue Continuity) yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang, di Hotel Bumi Asih, hari Selasa, 20 Oktober 2009)
  5. Berbagai Peran Etnis Cina di Pulau Bangka (Disampaikan pada Seminar Nasional dari Kuli ke Politisi: Melacak Pergeseran Peran Ekonomi ke Politik Etnis Tionghoa Bangka Belitung di Era Desentralisasi, di Edotel, hari Rabu, 11 November 2009)
  6. Beberapa Peristiwa Sejarah Penting Kota Pangkalpinang (Sebuah Tinjauan Untuk Penentuan Hari Lahir Pangkalpinang) (Disampaikan pada Seminar tentang Hari Jadi Kota Pangkalpinang, di Edotel, hari Rabu, 14 April 2010)
  7. Orang yang Membuat Sejarah (People Makes History) (Disampaikan pada Dialog sejarah dan budaya, di Bumi Asih, hari Selasa, 20 April 2010)
  1. Menggugat Eksistensi Penganugrahan Gelar Pahlawan  (Disampaikan pada kegiatan Peningkatan Peran Masyarakat dalam Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa, pada tanggal 18-20 Mei 2010 di LPMP Kepulauan Bangka Belitung)
  2. Dari Pengkal ke Pangkalpinang Sejarah Hari Jadi Kota Pangkalpinang (Disampaikan pada seminar sejarah dalam rangka Penulusuran Hari Jadi Kota Pangkalpinang, di Edotel pada tanggal 9 Agustus 2010)
  3. Mentok dan Pangkalpinang Sumber Percaturan Diplomasi Internasional (Disampaikan untuk mengikuti Lomba Penulisan Makalah Objek Wisata Kabupaten Bangka Barat dalam rangka Visit Bangka Belitung Archipelago 2010, di gedung Serba Guna Pusmet Muntok pada bulan September 2010)
  4. Mentok Kota Pusaka Berkelas Dunia (Disampaikan untuk mengikuti Lomba Penulisan Makalah  Objek Wisata Kabupaten Bangka Barat dalam rangka Visit Bangka Belitung Archipelago 2010, di gedung Serba Guna Pusmet Muntok pada bulan September 2010 )
  5. Toponim Pangkalpinang Menciptakan Kehidupan yang Harmonis  (Disampaikan pada Seminar Internasional Tradisi Lisan VII dengan tema “Potensi Keragaman Tradisi Lisan Dalam Menciptakan Kehidupan yang Harmonis” yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bekerjasama dengan Assosiasi Tradisi Lisan (ATL), di Hotel Serrata Pangkalpinang, tanggal 20-22 November 2010)
  6. Makalah Islam Melayu  (Disampaikan pada Pleno Annual Conference on Islamic Studies XI dengan tema “Merangkai Mozaik Islam dalam Ruang Publik untuk Membangun Karakter Bangsa” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, di Novotel, tanggal 10-13 Oktober 2011)
  7. Bangka Sumber Percaturan Diplomasi Internasional  (Disampaikan pada Dialog Interaktif Kesejarahan dengan tema “Perjalanan Masyarakat Bangka Belitung dalam Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia Masa Revolusi Kemerdekaan” yang diselenggarakan oleh Direktur Nilai Sejarah Direktorat Jederal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, di Hotel Bumi Asih pada tanggal 22 November 2011)
  8. Menelusuri Jejak Prasasti Kotakapur (Disampaikan pada acara bedah buku Kotakapur Dalam Lintasan Sejarah Bahari, di Hotel Bumi Asih tanggal 26 November 2011)
  9. Pergeseran Peran Group Masyarakat Pembentuk Budaya Bangka Belitung (Disampaikan pada Dialog dalam Rangka Persiapan Kongres Kebudayaan dengan tema “Persoalan-persoalan sosial, budaya, sejarah dan kemasyarakatan di Provinsi Bangka Belitung yang dianggap penting untuk diagendakan pada kongres kebudayaan 2013” yang diselenggarakan oleh Badan Pekerja Kongres Kebudayaan Indonesia, di Hotel Grand Mahkota, Pontianak Kalimantan Barat, tanggal 12-14 Desember 2011)
  10. Perkembangan Konsentri Masyarakat Pangkalpinang (Disampaikan pada kegiatan Jejak Tradisi Daerah dengan tema “Menjelajah Keberagaman” yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, di Ballroom Hotel Grand Mutiara, tanggal 17 April 2012)
  11. Bangka dari Kapitulasi Tuntang ke Traktat London (Disampaikan pada kegiatan dialog sejarah dan budaya, di Hotel Bumi Asih pada tanggal 23 April 2012)
  12. Messianistis Perjuangan Depati Amir  (Disampaikan pada kegiatan Seminar dalam rangka penelusuran riwayat perjuangan dan penyusunan buku Depati Amir serta upaya untuk pengusulan Depati Amir sebagai calon Pahlawan Nasional pada tanggal 2 Mei 2012 di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang)
  13. Memperkuat Jatidiri atau Identitas Orang Bangka (Disampaikan pada kegiatan Pengembangan Tradisi dan Adat Istiadat bagi Pemuka Masyarakat Pedesaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis 22 November 2012)
  14. Perang Bangka (Disampaikan pada acara bedah buku Perang Bangka pada tanggal 28 Januari 2013 di Galeri Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang)
  15. Dimensi Kemaritiman Bangka Belitung pada Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Datang (Disampaikan pada Seminar Kesejarahan dengan tema “Meniti Peradaban Bangka Belitung Melalui Timah dan Lada” dalam kegiatan Arung Sejarah Bahari (AJARI) Nasional VIII di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Hotel Pondok Impian Tanjungpandan, Belitung, tanggal 23 Oktober 2013)
  16. Orang Darat atau Orang Gunung (Disampaikan pada Seminar Islam Melayu dengan tema “Menelisik Khasanah Islam Melayu Bangka Belitung”  yang diselenggarakan oleh STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung  di Hotel Mitra, Pangkalpinang, tanggal 27 November 2013)
  17. Tenun Cual Kriya Etnik Penguat Citra Pariwisata (Disampaikan pada kegiatan Jejak Tradisi Daerah/Jetrada yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjungpinang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Ballroom Hotel Grand Mutiara, tanggal 14 April 2015)
  18. Datuk Sri (Disampaikan pada kegiatan Workshop Pelembagaan Gelar Adat yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung, di Hotel Santika Bangka, tanggal 4 Juni 2015)
  19. Depati Amir Pejuang Tangguh dan Berbahaya (Disampaikan pada kegiatan Seminar Nasional Usulan Pahlawan Nasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang diselenggarakan oleh Panitia Seminar Pahlawan Nasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Gedung Pertemuan PT. Timah, Tbk Graha Timah Convention Venue, tanggal 29 Oktober 2016).
C. Artikel yang dipublikasikan
  1. Orang Melayu atau Orang yang Tinggal di Rentang Tanah Melayu? (Bangka Belitung Pos, Kamis 11 Desember 2003)
  2. China Town, Ceng Beng & Pariwisata (Babel Pos, Jumat 2 April 2004)
  3. Upaya Pelurusan Sejarah (1) (Babel Pos, Senin 25 dan 26 Juli 2005)
  4. Upaya Pelurusan Sejarah (2/habis) (Babel Pos, Selasa 26 Juli 2005)
  5. Pemberdayaan Nilai Budaya (Rakyat Pos, Jumat 23 September 2005)
  6. Negeri Tanpa Sejarah (Bangka Pos, Rabu 26 Oktober 2005)
  7. Lapangan Merdeka, Jalan Merdeka, Tugu Merdeka dan Pekik Merdeka (Bagian Pertama) (Bangka Pos, Minggu 19 Oktober 2008)
  8. Lapangan Merdeka, Jalan Merdeka, Tugu Merdeka dan Pekik Merdeka (Habis) (Bangka Pos, Minggu 26 Oktober 2008)
  9. Belapun atau Berasuk (Bangka Pos, Minggu 8 Februari 2009)
  10. Musung Madu (Bangka Pos, Minggu 22 Februari 2009)
  11. Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Pulau Bangka Pra Islam (bagian 1) (Bangka Pos, Minggu 22 Maret 2009)
  12. Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Pulau Bangka Pra Islam (bagian 2) (Bangka Pos, Minggu 29 Maret 2009)
  13. Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Pulau Bangka Pra Islam (bagian 3) (Bangka Pos, Minggu 12 April 2009)
  14. Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Pulau Bangka Pra Islam (Habis) (Bangka Pos, Minggu 19 April 2009)
  15. Catatan HUT Pangkalpinang, Toponim Kota Pangkalpinang (Bangka Pos, Senin 16 November 2009)
  16. Mentok, Kota Pusaka Berkelas Dunia (1) (Babel Pos, Selasa 15 Desember 2009)
  17. Mentok, Kota Pusaka Berkelas Dunia (2) (Babel Pos, Rabu 16 Desember 2009)
  18. Bangunan Cagar Budaya Pangkalpinang (1) (Babel Pos, Selasa 26 Januari 2010)
  19. Bangunan Cagar Budaya Pangkalpinang (2) (Babel Pos, Rabu 27 Januari 2010)
  20. Bangunan Cagar Budaya Pangkalpinang (Rakyat Pos, Rabu 27 Januari 2010)
  21. Menyelusuri Jejak Prasasti Kotakapur (Bagian 1) (Bangka Pos, Minggu 12 Desember 2010)
  22. Menyelusuri Jejak Prasasti Kotakapur (Bagian 2) (Bangka Pos, Minggu 26 Desember 2010)
  23. Upacara Adat Perkawinan Pangkalpinang Betunang, Awal Janji Sehidup Semati (Bangka Pos, Jumat 28 Januari 2011)
  24. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (Bag. 1) (Babel Pos, Senin 14 Februari 2011)
  25. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (Bag. 3) (Babel Pos, Kamis 17 Februari 2011)
  26. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (Bag-4) (Babel Pos, Jumat 18 Februari 2011)
  27. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (bag-5 habis) (Babel Pos, Senin 21 Februari 2011)
  28. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (1) Salah satu Prasasti Tertua Sriwijaya (Radar Sungailiat, Sabtu 30 April 2011)
  29. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (2) Jadi Rebutan Indonesia, Tiongkok & India (Radar Sungailiat, Senin 2 Mei 2011)
  30. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (3) Dipercaya Punya Kekuatan Roh Nenek Moyang (Radar Sungailiat, Selasa 3 Mei 2011)
  31. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (4) Bangka Peradabannya Ternyata Sudah Maju (Radar Sungailiat, Rabu 4 Mei 2011)
  32. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (5) Kota Kapur 14 dari Kota Pusat Dagang Sriwijaya (Radar Sungailiat, Kamis 5 Mei 2011)
  33. Mengenang 1325 Tahun Prasasti Kota Kapur (habis) Semoga Tak Rusak sampai Akhir Zaman Nanti (Radar Sungailiat, Jumat 6 Mei 2011)
  34. Perang Bangka 1812-1851 (1) Pulau Bangka, Pulau Strategis Perdagangan (Radar Sungailiat, Sabtu 7 Mei 2011)
  35. Perang Bangka 1812-1851 (1) Masa Penjajahan Inggris dan Belanda (Radar Sungailiat, Senin 9 Mei 2011)
  36. Perang Bangka 1812-1851 (2) Perang Bangka Dimulai (Radar Sungailiat, Selasa 10 Mei 2011)
  37. Perang Bangka 1812-1851 (3) Sebab-sebab Perlawanan Amir dan Hamzah (Radar Sungailiat, Rabu 11 Mei 2011)
  38. Perang Bangka 1812-1851 (4) Haji Abubakar Bergabung (Radar Sungailiat, Kamis 12 Mei 2011)
  39. Perang Bangka 1812-1851 (habis) Depati Amir & Hamzah, dan Gelar Pahlawan (Radar Sungailiat, Senin 16 Mei 2011)
  40. Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Pemuda (Bangka Pos, Selasa 24 Mei 2011)
  41. Tenun Cual Kriya Etnik Penguat Citra Pariwisata (1) (Babel Pos, Selasa 5 Juli 2011)
  42. Tenun Cual Kriya Etnik Penguat Citra Pariwisata (2) (Babel Pos, Rabu 6 Juli 2011)
  43. Tenun Cual Kriya Etnik Penguat Citra Pariwisata (3-habis) (Babel Pos, Kamis 7 Juli 2011)
  44. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (1) Pemekaran Wilayah Sebabkan hal-hal Negatif (Babel Pos, Kamis 19 Mei 2011)
  45. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (2) Pemekaran Wilayah Sebabkan hal-hal Negatif (Babel Pos, Jumat 20 Mei 2011)
  46. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (3) Melayu Bangka Anut Sistem Sosial Kemasyarakatan (Babel Pos, Sabtu 21 Mei 2011)
  47. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (4) Fangin Tongin Jitjong (Babel Pos, Senin 23 Mei 2011)
  48. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (5) Melayu Bangka dan Dukon (Babel Pos, Selasa 24 Mei 2011)
  49. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (6) Taber, Usir Roh Jahat (Babel Pos, Rabu 25 Mei 2011)
  50. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (7) Tari dan Musik Dambus (Babel Pos, Sabtu 28 Mei 2011)
  51. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (8) Warisan Ilmu Ghaib (Babel Pos, Senin 30 Mei 2011)
  52. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (9) Betason dan Tipak Sirih (Babel Pos, Selasa 31 Mei 2011)
  53. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (10) Uang Asep, Betangas Hingga Ngulang Runot (Babel Pos, Rabu 1 Juni 2011)
  54. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (11) Uang Asep, Betangas Hingga Ngulang Runot (Babel Pos, Jumat 3 Juni 2011)
  55. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (12) Beruyut (Babel Pos, Sabtu 4 Juni 2011)
  56. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (13) Besaoh (Babel Pos, Senin 6 Juni 2011)
  57. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (14) Kelekak = Kelak Kek Ikak (Babel Pos, Selasa 7 Juni 2011)
  58. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (15) Kelekak Budel dan Kelekak Kek Antah (Babel Pos, Rabu 8 Juni 2011)
  59. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (16) Ngelapun dan Berasuk (Babel Pos, Kamis 9 Juni 2011)
  60. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (17) Sarat, Perut Besar & Muntah Darah (Babel Pos, Jumat 10 Juni 2011)
  61. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (18) Nganggung Sepintu Sedulang (Babel Pos, Sabtu 11 Juni 2011)
  62. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (19) Kawin Heredek (Babel Pos, Senin 13 Juni 2011)
  63. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (20) Tiap Bubung Rumah 1 Cupak Beras (Babel Pos, Selasa 14 Juni 2011)
  64. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (21) Pantangan Menolak... (Babel Pos, Rabu 15 Juni 2011)
  65. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (22) Besaoh, Bersama dalam Kebersamaan (Babel Pos, Kamis 16 Juni 2011)
  66. Kearifan Lokal Orsos Suku Melayu Bangka (22) Sanksi Moral (Babel Pos, Jumat 17 Juni 2011)
  67. Karayukisan di Kuburan Kerkhof? (Babel Pos, Kamis 7 Feb'2013)
  68. Chi-Shu (Pulau Tujuh)" (Babel Pos, Selasa, 12 Feb'2013)
  69. Datuk Sri (Artikel Historis, Babel Pos, Senin, 18 Feb'2013)
  70. Paritheeuw (Babel Pos, Senin, 25 Feb'2013)
  71. Sindang Mardika (Babel Pos, Senin, 4 Maret 2013)
  72. Kampung Airmata (Babel Pos, Rabu, 13 Maret 2013)
  73. Watertoren (Menara Air) (Babel Pos, Senin, 18 Maret 2013)
  74. Kampung di Bangka (Babel Pos, Selasa, 26 Maret 2013)
  75. Trace (Kelompok Bangka) (Babel Pos, Selasa, 2 April 2013)
  76. Konferensi Pangkalpinang (Babel Pos, Selasa, 9 April 2013)
  77. Pangkalpinang Sebagai Kota B (Babel Pos, Selasa, 16 April 2013)
  78. Pangkalpinang 11 Residen dan 11 Walikota (Babel Pos, Selasa, 23 April 2013)
  79. Legiun Mangkunegaran (Babel Pos, Selasa, 30 April 2013)
  80. Longin Buk (Babel Pos, Selasa, 7 Mei 2013)
  81. Bahasa Melayu Kuno (Bangka) (Babel Pos, Selasa, 14 Mei 2013)
  82. Negeri di Antara Angin (Babel Pos, Selasa, 21 Mei 2013)
  83. Duke of York's Island (Babel Pos, Selasa, 28 Mei 2013)
  84. Tua Bangka (Babel Pos, Selasa, 4 Juni 2013)
  85. Tadjaubelah (Babel Pos, Selasa, 11 Juni 2013)
  86. Naisifuk (Kampung Bintang) (Babel Pos, Selasa, 18 Juni 2013)
  87. Pendem (Makam) Tua (Babel Pos, Selasa, 25 Juni 2013)
  88. La Nun (Babel Pos, Rabu, 3 Juli 2013)
  89. Depati dan Demang (Babel Pos, Selasa, 9 Juli 2013)
  90. Bangka Belitung Gunseibu (Babel Pos, Selasa, 16 Juli 2013)
  91. Mayor D.W. Becking (Babel Pos, Selasa, 23 Juli 2013)
  92. Orang Darat atau Orang Gunung (Babel Pos, Selasa, 30 Juli 2013)
  93. Pekik Merdeka ! (Babel Pos, Selasa, 20 Agustus 2013)
  94. Protes Thomas Stamford Bingley Raffles (Babel Pos, Selasa, 27 Agustus 2013)
  95. Seabad Pangkalpinang Jadi Ibukota Keresiden Bangka (Babel Pos, Selasa 3 September 2013)
  96. Surat Bung Karno Dari Pangkalpinang Ke Soedirman (Babel Pos, Selasa, 10 September 2013)
  97. Hari Jadi ke-256 Pangkalpinang (Babel Pos, Selasa, 17 September 2013)
  98. Dirgahayu Pangkalpinang (Babel Pos, Rabu, 18 September 2013)
  99. Dambus Kesenian Etnik Yang Unik (Babel Pos, Selasa, 24 September 2013)
  100. Homeschooling (Babel Pos, Selasa, 1 Oktober 2013)
  101. Gender Equity (Babel Pos, Selasa, 29 Oktober 2013)
  102. Gelar Pahlawan (Babel Pos, Minggu, 10 November 2013)
  103. 57 th Daerah Otonom Kota Pangkalpinang" (Babel Pos, Kamis, 14 November 2013)
  104. Tangsi (Babel Pos, Selasa,19 November 2013)
  105. Gudang Padi (Babel Pos, Selasa,26 November 2013)
  106. Hollands-Chinese School (HCS) (Babel Pos, Selasa, 10 Desember 2013)
  107. Jalan Trem (Babel Pos, Selasa, 17 Desember 2013)
  108. Dari Semabung Ke Semabung (Babel Pos, Selasa, 24 Desember 2013)
  109. Sigalovada Sutta (Babel Pos, Selasa, 7 Januari 2014)
  110. Kampung Opas (Babel Pos, Kamis, 16 Januari 2014)
  111. Kewedanaan Bangka Utara (Babel Pos, Kamis, 23 Januari 2014)
  112. Kwan Tie  Miau (Babel Pos, Kamis, 30 Januari 2014)
  113. Kerkeraad der Protestansche Gemeente to Pangkalpinang" (Babel Pos, 7 Februari 2014)
  114. Hutan Larang (Babel Pos, Selasa, 18 Februari 2014)
  115. Tuatunu (Toutuna) (Babel Pos, Selasa, 25 Februari 2014)
  116. Kampung Patemun (Babel Pos, Senin 17 Maret 2014)
  117. Kampoeng Jeriji (Babel Pos, Kamis 20 Maret 2014)
  118. Resident Cantoor (Babel Pos, Rabu, 2 April 2014)
  119. Hoofgebouw Van Het Ziekenhuis (Balai Pengobatan Utama) (Babel Pos, Kamis, 10 April 2014)
  120. Perkataan Yang Mulia (Babel Pos, Senin, 2 Juni 2014)
  121. Pintu Penebus Malu (Babel Pos, Rabu, 11 Juni 2014)
  122. Kotaberingin (Kotawaringin) (Babel Pos, Selasa, 8 Juli 2014)
  123. Koeboebangka (Kotabangka) atau Bangkakota, bagian pertama (Babel Pos, Selasa, 15 Juli 2014)
  124. Messianistis Perjuangan Depati Amir (Babel Pos, Senin 26 April 2004 dan Rabu 2 Mei 2012) (Makalah dan artikel)
  125. Depati Amir Pahlawan Nasional (Bangka Pos, Rabu 25 Agustus 2004) (Makalah dan artikel)
  126. Segi Messianistis Perjuangan Depati Amir (Bangka Pos, Kamis 18 Mei 2006) (Makalah dan Artikel)
  127. Depati Amir Pahlawan Nasional (Habis) (Bangka Pos, Jumat 19 Mei 2006) (Makalah dan artikel)
  128. Menggugat Eksistensi Gelar Pahlawan (Bangka Pos, Selasa 14 November 2006) (Makalah dan artikel)
  129. Orang Melayu Bangka (Aspirasi Babel, Sabtu 15 November 2008) (Makalah dan artikel)
  130. Pemerkasaan dan Pemartabatan Bahasa Melayu Bangka (Babel Pos, Senin-Jumat 9-13 Mei 2011) (Makalah dan artikel)
  131. Bangka Pusat Diplomasi Politik International (Radar Sungailiat, Rabu dan Sabtu, 18 dan 21 Mei 2011) (Makalah dan artikel)
  132. Pulau Bangka dan Belitung Kapitulasi Tuntang ke Traktat London (Babel Pos, Selasa 24 April 2012) (Makalah dan artikel)
  133. Koeboebangka (Kotabangka) atau Bangkakota, bagian kedua (Babel Pos, Selasa, 22 Juli 2014)
  134. Koeboebangka (Kotabangka) atau Bangkakota, bagian ketiga/habis (Babel Pos, Jumat, 25 Juli 2014)
  135. Sabang of Toboali, bagian pertama (Babel Pos, Selasa, 5 Agustus 2014)
  136. Sabang of Toboali, bagian kedua (Babel Pos, Selasa, 12 Agustus 2014)
  137. Sabang of Toboali, bagian ketiga (Babel Pos, Selasa, 19 Agustus 2014)
  138. Pangkalpinang, dari Pangkal Menuju Metropolis (Babel Pos, Rabu, 17 September 2014)
  139. Festival Seroja (Babel Pos, Sabtu, 4 Oktober 2014)
  140. Depati Amir “ist ein gefahrlicher Mensch von verdachtigem aeussern” (Babel Pos, Senin, 10 November 2014)
  141. Dulu Societeit Concordia, sekarang Panti Wangka (Babel Pos, Selasa, 18 November 2014)
  142. Kajian Akademis Raperda (bagian I) Pakaian Adat, Baju Kurung dan Baju Teluk Belanga (Babel Pos, Kamis, 11 Desember 2014)
  143. Kajian Akademis Raperda (bagian II) Pakaian Adat Pengantin Paksian Pangkalpinang (Babel Pos, Jumat, 12 Desember 2014)
  144. Kajian Akademis Raperda (bagian III) Upacara Adat Perkawinan Kota Pangkalpinang (Babel Pos, Selasa, 16 Desember 2014)
  145. Sungailiat & Merawang (Babel Pos, Selasa, 23 Desember 2014)
  146. Dr. I.H Crooekerit dan Timah Kopong (Babel Pos, Selasa, 27 Januari 2015)
  147. Schets – Taalkaart (Babel Pos, Selasa, 10 Februari 2015)
  148. Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung (bagian satu) (Babel Pos, Selasa, 28 April 2015)
  149. Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung (bagian dua) (Babel Pos, Selasa, 5 Mei 2015)
  150. Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung (bagian tiga) (Babel Pos, Selasa, 12 Mei 2015)
  151. Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung (bagian empat) (Babel Pos, Selasa, 19 Mei 2015)
  152. Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung (bagian lima-habis) (Babel Pos, Selasa, 26 Mei 2015)
  153. Teluk Kelabat dari Kisah ke Sejarah (Babel Pos, Selasa, 26 Januari 2016)
  154. Jeboes, Jeboos atau Teboos (1) (Babel Pos, Rabu, 24 Februari 2016)
  155. Jeboes, Jeboos atau Teboos (bagian kedua) (Babel Pos, Selasa, 1 Maret 2016)
  156. Orang Sekak Penghuni Laut (Sea Dweller) (Babel Pos, Selasa, 17 Mei 2016)
  157. Warisan Hinduisme (Bangka Pos, Kamis, 19 Mei 2016)
  158. Kampung di Pangkalpinang (1) (Babel Pos, Selasa, 7 Juni 2016)
  159. Kampung di Pangkalpinang (bagian kedua) (Babel Pos, Selasa, 14 Juni 2016)
  160. Kampung di Pangkalpinang (bagian ketiga) (Babel Pos, Selasa, 21 Juni 2016)
  161. Kampung di Pangkalpinang (bagian keempat) (Babel Pos, Selasa, 28 Juni 2016)
  162. Kampung di Pangkalpinang (bagian kelima) (Babel Pos, Selasa, 12 Juli 2016)
  163. Kampung di Pangkalpinang (bagian keenam) (Babel Pos, Selasa, 19 Juli 2016)
  164. Kampung di Pangkalpinang (bagian ketujuh) (Babel Pos, Selasa, 26 Juli 2016)
  165. Kampung di Pangkalpinang (bagian kedelapan) (Babel Pos, Selasa, 2 Agustus 2016)
  166. Dari Bahasa Melayu Kuno ke Melayu Bangka (bagian kesatu) (Babel Pos, Selasa, 9 Agustus 2016)
  167. Dari Bahasa Melayu Kuno ke Melayu Bangka (bagian kedua) (Babel Pos, Selasa, 16 Agustus 2016)
  168. Dari Bahasa Melayu Kuno ke Melayu Bangka (bagian ketiga) (Babel Pos, Selasa, 23 Agustus 2016)
  169. Dari Bahasa Melayu Kuno ke Melayu Bangka (bagian keempat) (Babel Pos, Selasa, 30 Agustus 2016)
  170. Dari Bahasa Melayu Kuno ke Melayu Bangka (bagian kelima) (Babel Pos, Selasa, 6 September 2016)
D. Inovasi yang dilakukan
  1. Penyusunan Peraturan Daerah :
  1. Pakaian Adat, Pakaian Pengantin Adat, dan Upacara Adat Perkawinan
  2. Penetapan Hari Jadi Kota Pangkalpinang
  3. Lambang Daerah Kota Pangkalpinang
  4. Mars dan Hymne Kota Pangkalpinang
  1. Penggalian budaya daerah untuk ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Nasional seperti Memarung, Panggung, Seroja, Besaung Beume, Pakaian Pengantin Paksian dan lain-lain
  2. Pengembangan Kota Pusaka melalui Penyusunan RTBL dan DED Kawasan Pusaka bersejarah Civic Centre
  3. Membuat icon pengembangan budaya seperti festival seroja, festival ceng beng, festival seni lintas budaya, taman wilhelmina/Tamansari, nganggung akbar, dan lain-lain
  4. Menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pelestarian kebudayaan:
  1. Sahabat Museum atau Friend of Museum Comunity
  2. Lembaga Adat dan Dewan Kesenian
  3. Kelompok pencinta sejarah
  4. MGMP sejarah Bangka Belitung, dan lain-lain
  1. Pelestarian Cagar Budaya Kota Pangkalpinang

 
Akhmad Elvian was born in Pangkalpinang, on October 14, 1965, as the second child of eight siblings. He was previously named Ahmad Yani to refer an Indonesian hero, Gen. Ahmad Yani, who passed away in the 30 September (1965) movement masterminded by the Communist Party of Indonesia known as G30S/PKI coup. Elvian, whose last name refers to an old time famous singer, is mostly recognized as the head of Culture, Tourism, Youth and Sport Office of Pangkalpinang city. Some even acknowledge him as a writer of cultural and historical book of Pangkalpinang and Bangka. His name is one of a few names always coming up in those fields. He actively digs up and writes about Bangka history. His writings have been published in local newspapers, books, and some online media.
 
His interest in history has been emerged since his childhood. He was a quiet kid and a book lover. Considering his parent’s job as a teacher of primary school, he had many books and magazines at home. He was not a picky reader. He read all science books and memorized them. However, the most books excited his interest were about folklore, history, and shadow puppet stories. He read, memorized, and was able to retell books written by Soekarno, the first president of Indonesia entitled Di Bawah Bendera Revolusi which translated into Under the Banner of Revolution (two volumes) and Sarinah. In the meantime, he was also amazed at shadow puppet stories about Baratayudha war between Pandawa, representing good, and Kurawa, representing evil, in Mahabharata and about war between Rama dan Dasamuka in Ramayana. Those stories sparked his interest to study history seriously.
 
Elvian used to read at least one hundred to two hundred pages a day since he was a child. Thus, his literacy was much better than other children of his age were. He remembered, one day his Bahasa Indonesia primary school teacher gave him a task to make a composition. The theme was about school holiday. He chose to write about his farming experience with his father who was also a farmer just like common Bangkanese people. They planted many kinds of plants like pepper, palawija (nonstaple food crops) and clove. Elvian wrote all about that. When he submitted it, his teacher did not believe his work. It was not considered as kid writing. In spite of his simple composition, his work is too detail and systematic.
 
His literacy was actually supported by a strong memory, so he could memorize even a little thing. Therefore, it was very easy for him to understand his school subjects, especially history. He liked to read national and international history and memorize names of king or emperor with their dynasty in East Asia. However, his knowledge did not make him get a perfect mark at school. Even though he always got 10, a perfect mark, in every historical exam, his teacher only gave him below ten in his report book. The same as his Bahasa Indonesia teacher, his history teacher in senior high school did not believe on his exam score. It surely displeased him. He complained to his teacher who then tested him several times to prove his ability. After answering correctly, he finally got 10 in his report book.   
 
He experienced the same thing for geographical subject in Senior High School. As a curious and book lover teenager, Elvian tried hard to know his teacher’s book and bought it in Pemuda bookstore, the only bookstore in Pangkalpinang at that time. He read and studied it in two days. One day, when his teacher asked his class a question, Elvian could surely answer it easily. His teacher did not approve him and said he was wrong. Elvian undoubtedly complained about it. He challenged his teacher to check the answer in the book. It caused his teacher angry and thus he only got seven in his Completion of Studies Certificate (STTB) while his friends got better marks than he did. Fortunately, he only faced those types of teachers until Senior High School.
 
He was still the same person when he continued his study to university. He spent his time to read and study. He loved to visit not only campus library but also National Library of Indonesia and CSIS library. He also often visited museums to enlarge his knowledge. These activities surely supported his academic achievement as a student of history and anthropology of Jakarta Institute of Teaching Training and Pedadogy (IKIP) – which is now Universitas Negeri Jakarta. Due to limited references at that time, he was required to do a deeper search on his subjects.
 
His parents never doubted his choice. It also happened to all of siblings. It made them have different educational backgrounds. His older brother chose to study international relations, while others studied accounting, zoology, and even religion to be ulema. Due to his consuming passion for history, Elvian chose to study in history and anthropology faculty of IKIP Jakarta. In spite of his chance to study other majors, he chose an unpopular faculty. He never worried about working after graduation. He finished his study in four years, in 1988. After that, he was offered to teach in favourite senior high school around Bulungan Jakarta, and Pertiba Sungailiat to give a lecture on history and basic humanities. He chose not to continue his study to master degree. He realized that his parents still needed a lot of money to pay for his brothers tuition fees and he decided to help them.
 
In 1989, a year after starting lecturing in Pertiba, he was inaugurated as a civil servant and taught in Senior High School 1 Toboali. He was the only civil servant teacher in that school, while others were hired on a contract basis. He remembered that he had to teach at least 33 or 34 hours in a week because there were only few teachers. He also had to teach various subjects, not only history and anthropology, but also civics, moral education of Pancasila (five principles of national ideology), sociology, and even physical education. In spite of his exhausting hours, he took it as a challenge to develop a new school.
 
Based on his own experience as a student with some teachers who did not believe his ability, he decided to develop a different method of teaching. Besides instilling firm discipline into his students, he tried not to force them in studying. He realized that not all students considered history as interesting as he did. Therefore, he did not only do textual teaching on his subjects, but he taught beyond the book by teaching in various point of views. In this way, he could deliver deeper knowledge to them.
 
He did not merely use classroom to study. He turned some historical places around Toboali into his classes. Thus, history became a fun and easily understood subject. He also tried to give simple task to them such as writing a family history or a figure in both family and village.
 
He always tried to improve his students’ intelligence as a group, not individually. Therefore, besides individual task, he set up groups to discuss some issues, such as discussing public interest in reading Asmaraman S Kho Ping Hoo’s popular novels. By doing discussion, his students concluded the philosophical and good values like politeness in the novels. It left an impression in some of them even to this present. This is what he means as an effective learning, learning through experience. It made them understand the subject in detail. It is not surprising if some of the schools still use his book, thus.
 
Elvian had a distinguished career as a teacher. In 1994, when he was 29, after achieving the first rank in a principal selection in the southern part of Sumatera region, he was inaugurated as the principal of Junior High School 1 Jebus as the youngest principal. Seven months after that, he followed another selection and resulting in his inauguration as the principal of Senior High School 1 Jebus. In 2000 to 2003, he was reassigned to be a principal of Senior High School 1 Sungailiat. After that, in 2004, he became a supervisor coordinator in Education Office of Pangkalpinang city. He served there until 2005. In 2006, he was inaugurated as the head of Culture, Tourism, Youth, and Sport office of Pangkalpinang. He was reassigned to be the head of Education office in 2013 for about a year before went back to lead Culture, Tourism, Youth, and Sport office to this present.
 
His experience in teaching and leading some schools in Bangka regency inspired him in determining his office programmes. Some of his programmes now are the improvements of what he had done in his class. One of them is historical tour that he started in Senior High School 1 Toboali. Another programme is Khataman or completing reading Quran. He used to hold it when he was in Senior High School 1 Sungailiat by requiring every class to hold nganggung (bringing food to eat together) and make Telur Khatam or Telur Tamat (literary means graduation egg which is boiled, coloured and put in a small plastic bag). It inspired him to hold Seroja Festival and grand nganggung in Pangkalpinang. He realizes that his programmes actually live in the society. Therefore, in spite of minimum government budget, he keeps supporting and developing the tradition. He hopes the programmes can become icons of Pangkalpinang just like Sekaten in Yogyakarta, Flower festival in Tomohon, Tabot in Bengkulu, and Jember Fashion Carnival.
 
If he previously ran the programmes at school to educate his students about local custom and instill creativity in them, at this present, he runs the tradition-based programmes to increase creativity of Pangkalpinang community. Besides preserving the culture, he hopes it will increase public income. One of them is the creation of tudung saji or food cover. For him, there is no standard shape of tudung saji as figured by most people. He ever found that long ago tudung saji was in various shapes and colours. He revives this creativity through nganggung ceremony because tudung saji is used to cover food set on a tray. In general, his idea is developing tourism based on local tradition.
 
Besides serving as the head of governmental office, he is also an active writer of Bangka Belitung history. He writes not only due to his interest to history, but also because of his concern to the fact that Bangka Belitung seems does not have history. There is one question lead him to start writing: is Bangka Belitung a forgotten history or a forgotten historical archipelago? He also thinks that the writers of national history are not fair by just writing histories of main islands like Java, while Indonesia has more than seventeen thousands islands. Each of the islands has their own history and role in national history. After finding out the reason, he realizes that it is because of the lack awareness of the people to write their own history. It encourages him to dig up and write about Bangka Belitung history. He did not try to write a difficult theme, he just started it with a simple fact around him. He wrote about the city where he lives and published his first book entitled Pangkalpinang Kota Pangkal Kemenangan (Pangkalpinang the City of Victory).
 
This book was recognized by the Ministry of Culture and Tourism. The ministry then organized a national historical tour in Pangkalpinang. The theme of the tour was the same as the title of his book. By digging up the history of Pangkalpinang and publishing it, he does not only contribute to historical world, but also to the existence of his city. Many things have been changed after the publication, such as Pangkalpinang date of establishment, symbol, and slogan. The previous slogan, Rajin Pangkal Makmur (Dilligence is the foundation of Wealth), has been changed into Pangkalpinang Kota Pangkal Kemenangan. In this way, people started to recognize the history of Bangka Belitung, especially Pangkalpinang.
 
Elvian started to write historical book in 2006, while educational book had been written since he served as a teacher. Unfortunately, his book entitled Pernik-Pernik Otonomi Pendidikan or Ideas on Educational Autonomy has not been published yet. To this present, he has published 21 books of which three of them were written together with other writers. Among his books is Kota Kapur dalam Lintasan Sejarah Bahari (Kota Kapur in Marine History). It was published in 2010, at the same time with the launching of Visit Bangka Belitung Archipelago programme. This book impresses him so much. Through the book, he tried to introduce Bangka Belitung in scientific context.
 
Kota Kapur Dalam Lintasan Sejarah Bahari is considered success in introducing the province as he wishes. Some scholars, students or professor from domestic or abroad, come to Bangka Belitung to conduct historical or cultural researches. It is not only that, Elvian is also often invited to be a speaker. He talks about theoretical and historical facts about Buddhism in Bangka. It is a pride for him to reveal the richness of Bangka Belitung, especially its language since the orthography tradition in Bangka Belitung has been distorted. The inscription of Kota Kapur, which mentioned the name of Sriwijaya Kingdom, was written using Palawa letters in old Malay language, not in Sanskrit language. The study on this site had already conducted by Jambi Archaeological Relic Conservation (BP3) and Palembang Archaeological Center. However, because the study has never been published, Kota Kapur is not popular in the society and hardly become a pride of Bangka people.
 
Now, many people start to write about Bangka Belitung history or culture. It encourages spirit and pride of Bangka Belitung people toward their culture and history. Public passion to art also starts to grow. It even becomes an income for some art studios or communities. Therefore, he expects there are more studies digging up local history and culture since the impacts are not only broadening public knowledge, but also improving public welfare. 
 
Brief Profile:

Name

:

Drs. AKHMAD ELVIAN

Phone Number

:

081279832614

Address

:

Jalan Demang Singayudha No. 55 RT 011 RW 003 Kelurahan Bukit Besar Kecamatan Girimaya Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Educational Background

:

  1. Public Primary School 13 Pangkalpinang, graduated in 1977.
  2. Public Junior High School 1 Pangkalpinang, graduated in 1981.
  3. Public Senior High School 1Pangkalpinang, graduated in 1984.
  4. Department of History and Anthropology, Faculty of Social Science, Jakarta Institute Teacher Training and Pedagogy (IKIP), graduated in 1988.

Awards

:

  1. Certificate of Merit presented by the Mayor of Pangkalpinang on 14 November 2006 in celebrating half a century of Pangkalpinang as an autonomous region (1956 – 2006) for all supports and participation in developing Pangkalpinang culture.
  2. Certificate of Merit presented by the Governor of Bangka Belitung in celebrating the 11th anniversary of the establishment of Kepulauan Bangka Belitung province (21 November 2000 – 2011) for his efforts in preserving and developing local culture
  3. Award by Oral Tradition Association (ATL) and provincial government of Kepulauan Bangka Belitung for his participation as a speaker in International Seminar VII, 19 – 22 November 2010
  4. Award by Directorate General for History and Archaeology of Ministry of Tourism and Creative Economy for his participation as a speaker in Interactive Historical Dialogue, 21 – 23 November 2011
  5. Award by Ministry of  Religious Affairs for his participation as a speaker in The 11th Annual Conference on Islamic Studies, 13 October 2011
  6. Award by the Governor of Kepulauan Bangka Belitung province for his participation in International Seminar on Marine Tourism, 21 September 2011
  7. Award by Tanjung Pinang Cultural Perservation Agency of Ministry of Culture and Tourism for his participation as a speaker in Cultural Synchronization, 12-13 May 2011
  8. Satyalancana Karya Satya medal for ten years serving from the President of the Republic of Indonesia, 27 October 2003
  9. Satyalancana Karya Satya medal for twenty years serving from the President of the Republic of Indonesia, 20 July 2010
  10. Certificate of Merit presented by Tanjung Pinang Cultural Perservation Agency of Ministry of Culture and Tourism for his participation as a speaker in seminar entitled Tracing Local Tradition, 14 – 17 April 2015
  11. Certificate of Merit presented by the head of National Scout Movement as a member of Pangkalpinang Mabicab (Scout Board), 10 August 2015
  12. Certificate of Merit presented by the head of Provincial Language Office of Bangka Belitung and The Language Development and Fostering Agency, Ministry of Education and Culture, as a speaker in Language National Seminar III 2015, 30 November 2015
  13. Certificate of Merit presented by the Leader of the team to propose National Heroes From Kepulauan Bangka Belitung Province for his participation as a speaker in a national seminar on Provincial National Hero, 29 October 2016
 
 

Translator: S.A. Sobri
Editor: Yuliarsih (Bahasa)/ Rosy Handayani (English)
Photo: Rihar PIW
Penulis: 
Hera Riastiana
Sumber: 
Interview oleh Hera Riastiana
Images: