Desa Namang dan Hutan Pelawan

Sawah di Desa Namang (Paddy Field in Namang)
 
Bahasa Indonesia/ English
 
Di wilayah Kecamatan Namang tepatnya di Desa Namang Kabupaten Bangka Tengah  dikembangkan kawasan hutan lindung kalong seluas 52,4 Ha yang bersertifikat menjadi 152,4 Ha. Hutan lindung kalong tersebut bisa berfungsi sebagai kawasan wisata hutan. Selain itu, juga akan menjadi paru-paru udara bagi Kabupaten Bangka Tengah. Hutan yang terdiri atas beragam spesies pohon seperti gelam, leting, pelawan, dan rempodong merupakan sumber bagi para lebah untuk menghasilkan madu khususnya pohon pelawan.
 
Pohon Pelawan Merah (Red Pelawan Tree)
 
Desa Namang adalah sedikit desa di Bangka Belitung yang berhasil mempertahankan keberadaan Hutan Pelawan yang luasannya semakin sedikit karena terkonversi menjadi permukiman ataupun perkebunan dan pertambangan. Karena kegigihan kepala desa ini, Desa namang menjadi desa wisata dengan produk unggulan yang terkait dengan Hutan Pelawan.
Jembatan untuk melintasi kawasan hutan Pelawan (Red Bridge in Pelawan Forest)
 
Di Desa Namang, selain dihasilkan produk-produk Hutan Pelawan seperti Jamur dan madu Pelawan, juga menghasilkan beras merah yang rasanya enak. Ketika menuju Hutan Kalong / Hutan Pelawan, akan melewati sawah-sawah serta kebun sayur warga, serta semak-semak khas Bangka Belitung yang ditumbuhi tanaman Kramunting dan Kraduduk. Biasanya, ketika berkunjung ke Desa Namang, pengunjung akan berhenti sejenak di pondok di pinggir sawah untuk menikmati hidangan nasi merah, lempah darat, lempah kuning, lempah kulat/jamur pelawan dan menikmati jus madu pelawan.
 
Hidangan Desa Namang (Namang's Dishes)
 
Pembudidayaan jamur pelawan yang tumbuh subur dapat menjadi salah satu potensi kekayaan alam dan wisata hutan di Desa Namang sehingga serbuk bunga jamur pelawan yang diserap oleh lebah dapat menghasilkan madu pahit yang menjadi madu khas Bangka Tengah. Lebah hanya terbang dari sarang mencari nektar, polen, propolis, dan air. Itulah sebabnya, madu pelawan sangat istimewa dibanding madu-madu jenis lain.
Sarang Lebah Madu Pelawan (Pelawan Hive)
 
Bunga pohon pelawan adalah sumber nektar bagi lebah hutan. Rasa madu pelawan sangat khas, agak pahit. Namun, setelah madu ditelan, rasa pahit itu hilang. Rasa pahit itu karena kandungan alkaloid yang merupakan bahan obat antara lain berkhasiat sebagai antiinfeksi sehingga manjur menjaga kekebalan tubuh dan mengatasi beragam penyakit. Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa madu pelawan telah dikembangkan pula oleh kelompok usaha produktif di kawasan hutan lindung
Musim panen untuk madu pelawan di kawasan hutan kalong kemungkinan besar adalah pada bulan September, Oktober, November sampai Desember saat pergantian musim, tepatnya awal bulan September karena jamur pelawan akan sangat banyak tumbuh di kawasan hutan Kalong.
 
Pemanfaatan lahan bekas tambang menjadi lahan pertanian juga dikembangkan di daerah ini dengan cara pengembalian tanah permukaan dan pembenaman bahan organik. Setelah 1 - 2 tahun lahan siap ditanami tanaman pionir seperti sengon dan akasia. Lahan bekas tambang timah ternyata dapat pula dimanfaatkan untuk budidaya padi.

 
In Namang subdistrict, precisely in Namang village Bangka Tengah region, is being developed a 52,4 Ha or 152,4 Ha certificated hutan kalong conservation area. This forest area can be used as a tourism place. Moreover, this forest will become “lung” for Bangka Tengah region. A forest which consists of various species of tree, namely Melaleuca, leting, pelawan, and rempodong are nectar sources for bees, especially pelawan.
 
Namang is one of villages in Bangka Belitung that successfully maintains the existence of Pelawan forest whose wide is decreased due to the conversion of the area into housing, plantation or mining area. Because of the head of village’s persistence, Namang village becomes a tourism village whose superior product is pelawan forest.
The cultivation of pelawan mushroom growing healthily can be one of natural potency and forest tourism in Namang village. The pollen of Pelawan mushroom  sucked by the bee can produce madu pahit, special honey from Bangka Tengah. The bees fly from one nestle to another to find nectar, pollen, propolis, and water. That is why pelawan honey is special than other types of honey.
 
Pelawan’s flower is one of nectar’s source for forest bee. the taste of pelawan honey is different, a bit bitter. However, having been swallowed, the bitter taste is gone. That taste comes from the alkaloid which is good for anti-infection so that it can defend our body from various disease. The developments of honey or non-woods forest resources (HHBK) have been developed by some work trade groups surrounding the forest.
 
The harvest time for pelawan honey in hutan kalong conservation area is around September, october, november until December when the season turned, precisely in September because at that time, pelawan mushroom grow luxuriantly at hutan Kalong.
 
The utilization of ex-mining area into farming area is also developed in this area by reversing the ground and drowning the organic stuffs. After one or two years the area is ready to be planted with sengon, acacia, or other pioneer plants. Ex tin mining area could also be utilized for rice cultivation.

Naskah: Mustiar/ Rusni
Translator: Rita Efiyanti
Editor Bahasa: Zelly/RB
English Editor: Gunawan Marwanto
Photo: Rusni

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Nature, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Culture and Arts, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kabupaten Bangka Tengah