Bong Li Piang

 
Bila kita mengenal kuliner di Pulau Bangka umumnya berbahan dasar ikan, maka kali ini kita akan berkenalan dengan salah satu kuliner yang memiliki cita rasa berbeda yaitu Bong Li Piang. Mendengar nama Bong Li Piang kita pasti akan segera menghubungkannya dengan orang Tionghoa. Bong Li Piang sebenarnya merupakan penamaan kue yang diambil dari dialek Hakka, kata Bong Li berarti nanas sedangkan Piang berarti kue kering. Meskipun demikian, bukan berarti kue ini berasal dari Tiongkok. Kue ini merupakan salah satu kuliner lokal khas Pulau Bangka yang cukup digemari tidak hanya oleh masyarakat Bangka sendiri, melainkan juga oleh wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bangka.
 
Bong Li Piang merupakan salah satu hasil dari percampuran budaya kuliner antara orang-orang Tionghoa dengan penduduk etnis Melayu di Pulau Bangka. Sejarah mencatat bahwa orang-orang Tionghoa telah lama berbaur dengan penduduk asli Pulau Bangka. Orang-orang Tionghoa ini sengaja didatangkan oleh Belanda sekitar abad ke 17 untuk melakukan penambangan timah di Pulau Bangka. Sebagian besar dari mereka adalah laki-laki, yang kemudian menikah dengan penduduk asli Pulau Bangka. Hasil dari perkawinan campur tersebut adalah Peranakan Tionghoa yang mengembangkan budaya hasil dari percampuran budaya Tionghoa dan budaya masyarakat Melayu Bangka.
 
Bong Li Piang atau Pia Nanas ini memiliki cita rasa yang manis dan sedikit gurih, terbuat dari bahan-bahan yang cukup sederhana.  Bahan utama yang digunakan untuk membuat Bong Li Piang adalah nanas. Daerah Toboali terutama Desa Bikang, merupakan salah satu daerah penghasil nanas terbaik di Pulau Bangka. Nanas Bikang berukuran besar dan memiliki rasa yang manis. Oleh karena itu, Nanas Bikang sering kali dipilih untuk membuat selai nanas sebagai bahan inti kue Bong Li Piang. Selain nanas untuk membuat Bong Li Piang dibutuhkan tepung terigu, santan kelapa, dan gula aren. Dalam resep-resep kontemporer, bahan dasar untuk membuat Bong Li Piang biasanya ditambah dengan margarin atau mentega. Cita rasa Bong Li Piang yang dibuat dengan santan kelapa berbeda dengan Bong Li Piang yang dibuat dengan margarin atau mentega. Bong Li Piang yang dibuat dengan santan kelapa memiliki cita rasa yang lebih gurih dan lemak.
 
Bong Li Piang dibuat dengan cara mencampurkan terigu, santan kelapa, dan gula aren hingga adonan menjadi benar-benar kalis. Adonan kulit kemudian diisi dengan selai nanas lalu dicetak dengan menggunakan cetakan kayu. Seorang pengrajin Bong Li Piang di Toboali, menggunakan sebuah cetakan kayu yang telah berusia puluhan tahun. Setiap harinya ia mampu memproduksi ratusan Bong Li Piang dengan cetakan kayunya tersebut. Bong Li Piang yang telah dicetak kemudian disusun di atas Loyang untuk dipanggang.
 
Tidak sulit untuk menemukan Bong Li Piang. Pada saat ini, Bong Li Piang telah banyak dijual baik di toko oleh-oleh maupun di warung-warung kelontong. Terdapat dua merek Bong Li Piang yang bisa menjadi referensi untuk mencoba rasa salah satu kuliner khas hasil percampuran budaya masyarakat di Bangka ini, yaitu Mama Pia yang merupakan produksi dari daerah Toboali dan Bong Li Piang 89 yang merupakan produksi dari desa Benteng, Kabupaten Bangka Tengah. Sebenarnya masih banyak produksi Bong Li Piang lainnya yang memiliki cita rasa yang tak kalah enaknya, namun skala produksinya masih kecil dan biasanya hanya dijual di warung-warung kelontong.
 
Bila berkunjung ke Pulau Bangka, pastikan Bong Li Piang ada dalam daftar oleh-oleh yang akan anda bawa. Walaupun kue ini termasuk kue kuno dari Pulau Bangka, namun kue yang berwarna coklat ini cocok untuk teman minum teh atau minum kopi.
Penulis: Hera Riastiana
Photo: Rusni Budiati
 

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Belitung
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary