Benteng Kuto Panji

Bahasa Indonesia/ English
 
Sebagai salah satu asset sejarah yang menyimpan banyak cerita misteri, baik itu berupa mitos atau pun sejarah, Benteng Kuto Panji memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung, terutama pada cerita sejarahnya. Ada banyak versi cerita sejarah benteng ini yang berhubungan erat dengan kerajaan di Tiongkok. Dari semua versi itu, ada kemiripan cerita yaitu seorang raja kerajaan kecil bernama Bong Kiung Fu yang memerintah di Belinyu yang memiliki seorang anak gadis berparas cantik bernama Bong Lili atau putri Chok Tian.
 
Bong Khiung Fu adalah seorang penguasa yang baik hati di Tibet-China yang menolak membayar upeti kepada penguasa Tiongkok yang lalim pada masa itu. Sang penguasa marah dan memerintahkan hukuman mati kepada Bong Khiung Fu. Bersama pasukan dan putrinya, Bong Khiung Fu pun melarikan diri dari daratan Tiongkok dan mengarungi samudra. Mereka membawa seluruh harta dan pasukannya dengan menggunakan beberapa buah kapal besar dan kecil. Mereka juga membawa tanaman jeruk Kingkit sebagai obat anti mabuk, yang dimasa mendatang, merupakan tanaman yang mahal dan langka di Indonesia.
 
Ketika melewati perairan Selat Berhala dekat ujung utara pulau Bangka, rombongan ini dikejar oleh para bajak laut, sehingga mereka melarikan diri menuju Pulau Bangka, memasuki Teluk Kelabat hingga muara Sungai Karang Lintang dan bersembunyi di situ. Setelah merasa aman bersembunyi di situ, mereka lalu membuka lahan untuk berkebun dan bercocoktanam sehingga kemudian berfikir untuk mendirikan sebuah benteng pertahanan yang kokoh untuk bertahan dari serangan bajak laut dan serangan lainnya. Bangunan yang didirikan itu sebagai benteng sekaligus istana kecil, lengkap dengan perangkat pemerintahannya. Sebagai kerajaan kecil yang saat itu tunduk pada kekuasaan Kesultanan Palembang, maka tentu saja diharuskan memberikan upeti berupa timah tiban.
 
Pembangunan Benteng Kuto Panji atau dalam bahasa China, Bongkap, memakan waktu 5 tahun (1664-1669 M). Sebagai perekat/ semen, digunakan putih telor angsa sebagai campuran pasir dan batu sehingga benteng ini dapat bertahan beberapa abad sebelum benar – benar runtuh di tahun 1774 karena serangan musuh serta serangan Lanun.
Versi lainnya mengenai keberadaan benteng ini mengenai seorang raja kikir dan bengis bernama Bong Khiung Fu yang memerintah di Tibet, dimana selama pemerintahannya sang raja telah menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi, misalnya dengan memberlakukan pajak yang sangat tinggi sehingga menyebabkan rakyat menderita. Hal tersebut diketahui oleh maharaja Khian Lung yang bertahta di Provinsi Fukkian setelah mengadakan peninjauan terhadap negeri – negeri kekuasaannya.
 
Terciumnya kebusukan Bong Khiung Fu ini bermula dari sebuah peristiwa besar yang dikenal dengan Thai Nau Fa Leu atau Insiden Hotel Seribu Bunga, dimana sang kaisar berontak hebat dengan putera angkat Bong Khiung Fu yang bernama Cok Hin, sehingga kejahatan Bong Khiung Fu pun terungkap. Sang Kaisar marah besar dan memerintahkan para pengawal untuk menangkap Bong Khiung Fu yang kemudian memutuskan untuk melarikan diri bersama pengikut dan putri kesayangannya serta penduduk yang dibohinginya dengandalih mencari bahan makanan pokok ke Nanyang.
 
Bong Kiung Fu membawa semua harta kekayaannya dalam pelarian tersebut menggunakan 3 kapal besar dan 3 kapal kecil hingga merapat di pelabuhan Karang Lintang Desa Kuto Panji Belinyu. Sejak itulah mereka menetap di bagian utara pulau Bangka dengan alas an, sebagai buronan sudah semestinya bersembunyi di daerah kecil agar susah dilacak oleh kerajaan China.
 
Pada saat Pulau Bangka termasuk wilayah kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Palembang, yang kemudian mengizinkan Bong Khiung Fu menetap di Kutopanji dan mendirikan sebuah benteng megah dan indah yang dikerjakan selama kurang lebih 149 minggu. Benteng ini memiliki 9 ruangan dan 18 sumur serta pintu gerbang – pintu gerbang yang menghadap ke Timur Laut.
 
Bong Khiung Fu bergelar Kapitan Bong atau lebih dikenal dengan Bongkap, memulai usaha dengan membuka tambang timah, perkebunan karet dan lada yang amat luas sehingga mempekerjakan banyak kuli dari Pulau Jawa.
 
Menurut beberapa versi mengenai kematian sang raja, Bong Khiung Fu mati terbunuh oleh bangsa Lanun, namun ada juga yang menyatakan dirinya lari ke  Semenanjung Malaka, sementara putrinya Cok Tian mati bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur di sekitar istana bersama dengan seluruh emas dan perhiasan, sehingga diyakini bahwa benteng ini menyimpan harta karun yang tak ternilai harganya, serta cerita mengenai peti emas yang terbuka dengan aneka perhiasan berkilauan, tetapi setelah didekati tiba – tiba raib entah. Benteng ini pun terkenal angker dan keramat. Sampai saat ini, reruntuhan benteng Kuto Panji masih menyisakan beberapa bangunan terletak di belakang Kantor Camat Belinyu.
 
Kekuasaan Bong Khiung Fu mengalami keruntuhan sekitar abad ke 17, ketika para bangsa Lanun atau bajak laut yang berasal dari Filipina mendengar bahwa di pulau Bangka ada seorang hartawan yang memiliki kekayaan berlimpah ruah. Para Lanun tersebut menyerang ke benteng ketika Bongkap dan anak buahnya sedang berada di Malaysia untuk menjual hasil timah dan lada, namun penyerangan itu gagal setelah salah seorang kapten para perompak tewas ditimpa buah bakau yang banyak tumbuh dipelabuhan Karang Lintang. Kejadian tersebut membuat puteri Bong Khiung Fu nekad melakukan bunuh diri setelah membuang semua harta kekayaan mereka ke dalam sumur karena takut ditangkap, dianiaya dan diperkosa oleh para Lanun. Sejak kejadian itu, Bongkap yang semula kikir menjadi orang yang dermawan, namun kondisi kesehatannya menurun drastis dan mulai sakit-sakitan.
 
Pada abad ke 17, daerah ini merupakan dataran rendah bagian dari teluk Kelabat Belinyu yang lama-lama terjadi pengendapan dan pendangkalan, sehingga akhirnya berubah menjadi daratan. Timah alluvial (endapan) dengan mudah ditemukan di kawasan ini, karena pasir timah mengendap di bagian terendah. Sejak zaman kerajaan Bongkap, wilayah ini telah menjadi obyek galian timah dan beberapa bagian diserahkan sebagai upeti kepada kesultanan Palembang yang berkuasa pada saat itu dan dikenal sebagai Timah Tiban. Sementara, akulturasi dan asimilasi antara suku Melayu di Belinyu dengan etnis Tionghoa di daerah ini  telah berlangsung sejad dari 4 abad yang lampau.
 
Hingga hari ini, sisa reruntuhan benteng tersebut masih dapat dilihat di Desa Kuto Panji. Untuk menghargai jasa – jasa Bongkap, dibuatlah sebuah makam di dalam benteng. Tidak jauh dari reruntuhan benteng, terdapat sebuah kelenteng kecil yang didirikan oleh Bong Kiung Fu sendiri.Di dalam kelenteng ini terdapat sepasang patung dewa Thai Pak Kung yang dibawa dari dartan Tiongkok. Disamping kelenteng ini juga terdapat sebuah sumur tua peninggalan Bongkap yang menjadi sumber air bagi penduduk di sekitar kelanteng. Sumur ini tidak pernah kering airnya walaupun pada musim kemarau.

 
As one of the historical assets keeping many mystical stories, both myth and history, Kuto Panji Fortress holds specific appeal especially in its history to visitors. There are many versions of it strongly related to Chinese Empire. A story of a ruler named Bong Khiung Fu has a similarity to it. Bong ruled in a small administration in Belinyu and had a beautiful daughter named Bong Lili or Princess Chok Tian.
 
Bong Khiung Fu was a good ruler in Tibet-China. However, because he refused to pay some money as a tribute to tyrannical Chinese emperor, he was sentenced to death by the emperor. He, along with his daughter and army, went away from the mainland China across ocean. They loaded all their wealth onto several big and small Chinese ocean-going junks. They also took key-lime with them as an anti-sea sick plant which is an expensive and rare plant in Indonesia nowadays.
 
When they were on Berhala Strait waters at the northern part of Bangka Island, they were chased by pirates. It forced them to sail into Kelabat bay to hide in Karang Lintang river. After feeling safe, they cleared the ground and started farming. To protect themselves from pirates and others, they built a strong fortress thence. It was not only functioned as a fortress but also a small palace along with its government and officials. However, as a small administration, they obeyed Palembang sultanate, and for that, they had to pay timah tiban or tiban tin as a tribute to the sultanate.
 
The construction of Kuto Panji Fortress – known as Bongkap in Chinese – spent five years (1664 – 1669). The use of swan egg white as cement to mix with sand and stone was the reason why this fortress stood firmly for several years before it really collapsed in 1774 due to pirate attack.
 
Another version of its existence was about a tight-fisted and cruel local ruler named Bong Khiung Fu in Tibet. During his reign, he misused his power for his own purpose such as imposing a very high tax causing people suffering. It was heard by his superior – Khian Lung ruling in Fukian province – after he inspected his territory.
 
Khian Lung got wind of Bong’s crime in a big incident known as Thai Nau Fa Leu or A Thousand Flowers Hotel Incident when he was in fight with Bong’s stepson, Cok Hin. Bong’s crime was then revealed. Khian Lung was very angry and ordered his troops to arrest Bong who decided to abscond with his followers and lovely daughter. He also lied to his people on the pretext of looking for staple food to Nanyang so his people were willing to join him.
 
Bong loaded all his wealth onto three big and small Chinese ocean-going junks to finally anchor to Karang Lintang port in Kuto Panji village, Belinyu. Thenceforth they lived in the northern part of Belinyu. This remote area was difficult to track by Chinese empire.
 
Bangka was under the authority of Palembang Sultanate ruled by Sultan Mahmud Badaruddin at that time. He permitted Bong to stay in Kuto Panji. Bong built a luxurious fortress shortly thereafter. It was constructed in 149 weeks consisting of nine rooms, eighteen wells, and gates facing to the northeast. 
Bearing a tittle as Kapitan Bong – commonly known as Bongkap – he started his business in tin mining, rubber plantation and pepper. His businesses employed so many Javanese coolies.  
 
According to some versions, Bong was killed by pirates, but some also said he absconded to the Malay Peninsula, while his daughter committed suicide by throwing herself into a well around the fortress. All of the gold and jewelries were taken with her. That’s why it’s believed the fortress hides priceless hidden treasure. Some even told stories about a mysterious opened-treasure box with shining jewelries in it which vanished when it was approached. Thus, this fortress is well known of being horrifying remains.
 
Bongkap started to lost his power around 17th century when Philippine’s pirates heard how rich he was in Bangka. The pirates attacked his fortress when he was selling his tin and pepper in Malaysia. Fortunately, the attack was failed because one of the pirate captains died stroke by falling mangrove fruit which trees grew so many at Karang Lintang port. However, the pirate’s plan terrified Bong’s daughter and forced her to put end of her life by throwing herself into a well. She was afraid of being caught, abused, and raped by the pirates. After that, Bongkap who was a miser changed into a generous person. Thenceforth, his health worsened day by day.
 
In the 17th century, this lowland area was previously part of Kelabat bay in Belinyu which became shallow waters because of sedimentation and turn into land. Since it was as same level as the sea, tin sedimentation was easily found here. It has been explored since Bongkap era and some tin had been given to Palembang Sultanate as tributes known as timah tiban. The assimilation and acculturation of Malay and Chinese has also started in 17th century.
 
The remaining of the fortress is still firmly standing in Kuto Panji village, Belinyu. To glorify his contributions, Bong was buried inside the fortress. A small Chinese temple – in which Pak Kung or Earth god taken from the mainland China are kept – built by him stands nor far from it. Besides the temple, there is a well dug also by Bong as a source of water for surrounding people. The well never runs dry even in dry season.

Naskah: Risnawati (diambil dari berbagai sumber)
Translator: SAS
Photo: Edo Martyno

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Kabupaten Bangka, Heritage
Kabupaten Bangka, Heritage
Kabupaten Bangka, Heritage
Kabupaten Bangka, Heritage
Culture and Arts, Kabupaten Bangka, Heritage