Asal-Usul Gelar Bangsawan Abang Yang

Bahasa Indonesia/ English
 
Gelar Yang - Abang merupakan gelar kebangsawanan yang disandang oleh keturunan Encek Wan Abdul Hayat, di mana salah satu puteranya yaitu Encek Wan Abdul Jabar menjadi Mertua Dalam Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I. Gelar ini tidak terlepas dari sejarah perjalanan Sri Sultan sendiri ketika harus pergi meninggalkan  Kesultanan Palembang, saat tahtanya direbut oleh adik kandung ayahannya sendiri – Ratu Anom Kamaruddin. Untuk menghindari upaya pembunuhan yang berusaha dilakukan oleh pamannya sendiri, Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I berlayar dan meminta perlindungan dari Sri Sultan Johor. Namun, keberadaan Sri Sultan di Johor tidak lama, karena setelah menjadi karib Sri Sultan Johor, justru menimbulkan iri dan cemburu di kalangan bangsawan dan punggawa Kerajaan Johor. Atas tekanan dan permintaan para bangsawan dan punggawanya sendiri, Sultan Johor dipaksa untuk meminta agar Sri Sultan Mahmud Badaruddin I bersedia meninggalkan Kerajaan Johor. Sehingga akhirnya rombongan Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I berlabuh di daratan Siantan. 
         
Saat itu yang berkuasa atas Siantan adalah Kepala Negeri yang bernama Encek Wan Akub bin Encek Wan Awang. Maka diterimalah Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I untuk bertempat tinggal sementara di Siantan. Ketika bermukim di Siantan inilah Sri Sultan bertemu dengan salah satu istrinya yang bernama Baniah atau Zamnah yang merupakan putri dari Encek Wan Abdul Jabar, yang merupakan saudara dari Encek Wan Akub. Encek Wan Akub dan Encek Wan Abdul Jabar sendiri adalah keturunan dari Encek Wan Abdul Hayat seorang bangsawan Johor yang sebelumya adalah menteri besar dari kerajaan Cina yang membelot, dan membawa istri serta anak-anaknya untuk mendapat perlindungan dari Sri Sultan Johor. Di tanah Johor inilah menteri besar keturunan bangsawan Cina yang semula bernama Lim Taw Kian ini menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Encek Wan Abdul Hayat. Dengan mempertimbangkan latar belakang tersebut, Sri Sultan Johor mengangkatnya menjadi Kepala Negeri di Pulau Siantan.
         
Menurut cerita, setelah menikah, sesuai dengan adat raja pada waktu itu, maka Baniah atau Zamnah diberi gelar Mas Ayu Ratu. Sementara Encek Wan Abdul Jabar mendapat gelar Mertua Dalam, yang selanjutnya dikenal dengan nama Dato’ Dalam. Selang beberapa waktu, Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I mengajukan permintaan kepada Encek Wan Akub agar dapat dicarikan seseorang pimpinan yang pandai dan dapat membantu memerangi kerajaan Palembang dan merebut tahta. Bagi pihak yang membantunya akan diberikan sebagian wilayah yang ada di  pulau Bangka. Untuk itu Sri Sultan Mahmud Badaruddin I menulis surat kepada Sri Sultan Johor agar kiranya Kepala Negeri Siantan diizinkan membantu merebut kembali tahtanya. Dengan perkenan Sri Sultan Johor, berangkatlah Sri Sultan Mahmud Badaruddin I dengan istrinya Mas Ayu Ratu bersama kaum keluarganya dari keturunan Encek Wan Abdul Jabar dari pulau Siantan beserta pasukan. Alkisah, berdasarkan mimpi dari Mas Ayu Ratu (Zamnah), maka Sri Sultan Mahmud Badaruddin I berhasil merebut tahta tanpa susah payah.
         
Singkat kata, setalah kembali bertahta, Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I memerintahkan utusannya untuk menjemput Encek Wan Akub beserta keluarganya di pulau Bangka. Rupanya Sri Sultan telah melakukan rembuk dengan bawahannya untuk mengubah dan menentukan gelar yang akan dipakai oleh keturunan Encek Wan Abdul Hayat, yakni keturunan Encek Wan Abdul Jabar di kemudian hari, karena Sri Sultan beranggapan bahwa gelar Encek Wan yang merupakan gelar bangsawan Kerajaan Johor itu hanya patut digunakan dalam wilayah Kerajaan Johor saja, mengingat pulau Bangka bukan wilayah Kerajaan Johor, maka gelar tersebut haruslah diganti dengan gelar yang setara.
         
Maka dicarilah gelar yang dianggap setara dengan gelar Encek Wan. Kata Cek dan Wan pada Encek Wan sama artinya dengan kata Wan. Wan merupakan ringkasan dari kata Bangsawan yang berarti Mulia. Jadi Encek Wan itu artinya tuan Bangsawan atau Tuan Yang Bangsawan.  Dari makna tersebut, maka ditetapkanlah bahwa dari kata Tuan Yang Bangsawan itu, dibagi dua, kata Yang dijadikan gelar bagi perempuan, sementara perkataan Bangsawan diringkas menjadi Bang atau Abang, diperuntukan sebagai gelar bagi laki-laki. Gelar tersebut diberikan melalui  perjamuan besar dengan seluruh pegawai dan rakyat negeri. Selain itu pemberian gelar Yang – Abang kepada keluarga dari Encek Wan Abdul Hayat di kemudian hari, Sri sultan menabalkan sekali lagi Baniah/Zamnah diangkat menjadi Permaisuri yang kedua dengan gelar Mas Ayu Ratu.
         
Keputusan pemberian gelar Yang – Abang ditetapkan oleh Sri Sultan sebagai Undang-Undang yang harus dipatuhi, berisi antara lain:
  1. Kalau laki-laki bergelar Abang, sama tingginya dengan pangkat Mas Agus. Kalau perempuan bergelar Yang, maka sama  tinggi pangkatnya dengan Mas Ayu di Palembang;
  2. Tidak dibenarkan dan melarang orang lain menggunakan gelar itu, selain dari keturunan Encek Wan Abdul Hayat;
  3. Selain Sultan Palembang, juga tidak dibenarkan dari seorangpun pegawai di kerajaan Palembang maupun kaum keluarga sendiri menikah dengan perempuan berasal dari keturunan tersebut, kecuali apabila bersedia pergi keluar dari kerajaan Palembang dengan istri dan kaum keluarganya, atau menetap di negeri lain.
Kemudian Undang-Undang nomor 3 dipertegas lagi melalui yang berbunyi:
  • Dilarang keras dan diwaspadai sungguh-sungguh oleh Menteri Rangga agar semua raja-raja atau menteri-menteri, hulubalang dan bangsawan dari Palembang, supaya tidak menikah atau bersahabat dengan orang-orang bangsawan Mentok.
Atas pertimbangan Sri Sultan Mahmud Badaruddin I dan usulan Mas Ayu Ratu, dipilihlah pulau Bangka atau tepatnya semenanjung dengan latar belakang gunung Menumbing sebagai lokasi yang akan menjadi tanah tempat orang tua dan sanak keluarga Encek Wan Hayat bermukim. Sultan menamakan tempat tersebut dengan sebutan ENTO’, yang berarti ITU, yang selanjutnya berkembang dengan sebutan MENTO’ atau MENTOK, akhirnya menjadi pemukiman dan selanjutnya menjadi negeri atas perintah Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I. Seluruh keluarga Encek Wan Abdul Hayat pun berpindah dan menetap di Mentok. Dan dari keluarga inilah yang secara turun temurun menyandang gelar YANG – ABANG, yang hingga sekarang masih dipertahankan.
 
Referensi:
  1. Raden Achmad Abang Abdul Djalal, 1936,”Riwajat Poelau Bangka Berhoeoeng dengan Palembang”, tidak diterbitkan.
  2. Muhammad Arifin Mahmud,  1986. “Pulau Bangka dan Budayanya”, tidak diterbitkan.

 

 
Abang and Yang are honorary tittles given to descendants of Encek Wan Abdul Hayat. He was a noble whose one of his children was mertua dalam or father-in-law of Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I.
 
It was all started from the retreat of Sri Sultan from Palembang sultanate after being overthrown by his uncle, Ratu Anom Kamaruddin. To avoid assassination attempt, he sailed to Johor to live under the aegis of Sri Sultan Johor. Unfortunately, he could not stay long there because his close relation to Sri Sultan Johor caused Johor nobles and officials consumed by jealousy. Sri Sultan Johor was urged to ask Sri Sultan Mahmud Badaruddin I to leave. It inevitably forced Sri Sultan Ratu Mahmud and his entourage to sail and finally anchor in Siantan.
 
Encek Wan Akub bin Encek Wan Awang, the ruler of Siantan, pleased him to stay for a while in his territory. During his stay, Sri Sultan Ratu Mahmud fell in love with Encek Wan Abdul Jabar’s daughter, Baniah or Zamnah, and married her. Encek wan Abdul Jabar and Encek Wan Akub were descendants of Encek Wan Abdul Hayat, a noble of Johor who was previously a minister in China. He defected from China along with his family to live under the aegis of Sri Sultan Johor where he embraced Islam and changed his name from Lim Taw Kian to Encek Wan Abdul Hayat. Considering his background, Sri Sultan Johor inaugurated him to rule Siantan.  
 
It was told that after getting married, Baniah or Zamnah bore a title of nobility Mas Ayu Ratu, while Wan Abdul Jabar bore a title Mertua Dalam which later known as Dato’ Dalam. After a while, Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I persuaded Encek Wan Akub to instruct a good commander to help him to get his throne back in Palembang sultanate. Those who helped him would get a territory in Bangka Island. For that purpose, he wrote a letter to Sri Sultan Johor to let Encek Wan Akub to help him. By the permission of Sri Sultan Johor, Sri Sultan Mahmud Badaruddin I, his wife, and descendants of Encek Wan Abdul Jabar sailed to Palembang to lead the arm forces. Guide by Mas Ayu Ratu’s dream, they could overthrow the throne without any difficulty.
 
In short, after having his power, Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I sent his men to pick up Encek Wan Akub along with his family to inhabited Bangka Island. He also discussed the appropriate noble title for them. He thought that title Encek Wan belonged to Johor kingdom and was only proper in Johor. Because they moved to live in Bangka, they needed to have a new equal title.
 
The word Wan, in Encek Wan, is an abbreviation of bangsawan which means noble. So, Encek Wan means Tuan Bangsawan or Tuan Yang Bangsawan. From the title, the word yang was decided for noblewoman and Bangsawan which was abbreviated into bang or abang is for nobleman. These titles were given in a grand feast attended by all officials and common people. Besides that, Sri Sultan also crowned Baniah as his second queen bearing a title Mas Ayu Ratu.
The royal decree of Yang and Abang was enacted in a law as follow.
  1. Nobleman bearing a title of Abang is equal to Mas Agus. Noblewoman bearing a title Yang is equal as Mas Ayu in Palembang;
  2. These titles were only for descendants of Encek Wan Abdul Hayat and therefore public cannot bear them;
  3. No one but Palembang sultanate, including the kingdom officials, is allowed to marry Yang unless the person is willing to leave the sultanate along with his family or live in other kingdom.
The third law was strengthen by the prohibition that “It is strictly forbidden and monitored by Menteri Rangga that all officials or nobles of Palembang to not marry or have a close relationship with Mentok nobles”.
 
Based on a deep thought of Sri Sultan Mahmud Badaruddin I and suggestion of Mas Ayu Ratu, Bangka Island was chosen to be the territory of Encek Wan Hayat’s family. The exact place was a peninsula with Menumbing hill as a background. Sultan named the place Ento, which means itu or that. This area, which then became Mento or Mentok, developed into a large settlement and established to be an independent territory by the order of Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I. All relatives of Encek Wan Abdul Hayat then migrated to Mentok. Descendants of this family bear the title of Yang and Abang to this present.
 
Reference:
Raden Achmad Abang Abdul Djalal, 1936. Riwajat Poelau Bangka Berhoeoeng dengan Palembang. Unpublished.
Muhammad Arifin Mahmud, 1986. Pulau Bangka dan Budayanya. Unpublished.
Translator : S.A. Sobri
Editors: Yuliarsih (Bahasa Indonesia)/ Rosy Handayani (English)
Penulis: 
Yuyun Tri Widowati

Artikel Lainnya

13 Jul 2017 | Rusni
10 Jan 2017 | Rusni
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati

Artikel Populer

07 Sep 2015 | Rusni
14 Jan 2015 | Syekh Ahmad Sobri (Translator)
09 Mar 2015 | BPS Babel dan Disbudpar Babel
27 Apr 2015 | DR. Budi Brahmantyo