AMRI RANI: Meneruskan Karya di Kota Pusaka

Bahasa Indonesia/ English
 
Chairul Amri Rani lahir dari pasangan Abdurrani bin Muhammad Ali dan Siti Rohani pada 16 Juni 1952 di kota Muntok, kota kecil di ujung paling barat Pulau Bangka. Walaupun hanya menghabiskan masa kecil hingga kelas tiga sekolah dasar di kota Muntok namun karena  terlahir dan tumbuh di tengah lingkungan masyarakat Muntok yang saat itu sudah sangat heterogen, membuat Amri kecil terbiasa dengan berbagai perbedaan dalam keseharian dan hal tersebut memberi kesan yang mendalam pada Amri kecil. Apalagi kedua orang tua mendidik Amri kecil dengan disiplin yang tinggi.
 
Masa Kecil
 
Kota Muntok terbentuk dari beberapa kawasan permukiman berdasarkan asal-usul masyarakat yang bermukim, yaitu permukiman orang Muntok asli yang berasal dari Siantan, permukiman keturunan orang China, dan permukiman orang Eropa. Kala itu, orang Muntok asli bermukim di tiga kampung yang merupakan cikal bakal berdirinya kota Muntok, yaitu permukiman yang didiami orang-orang Melayu, yaitu kampung Jiransiantan atau sekarang dikenal sebagai Kampung Tanjung, Kampung PEMUHUN yang dikenal sebagai Kampung Ulu, dan Kampung Petenun yang lebih dikenal sebagai Kampung Telukrubiah. Kampung-kampung Melayu ini berciri khas bangunan tinggal berupa rumah panggung yang terbuat dari papan/kayu dengan pekarangan luas yang dipenuhi pohon-pohon Pelam (sebutan untuk pohon Mangga), Sukun, Rambutan, Jambu Air, dan aneka buah lainnya. Teras rumah penduduk Kampung Melayu ini biasanya dihiasi oleh beraneka bunga.
 
Di antara perkampungan Melayu itu terselip permukiman yang didiami orang-orang China yang dikenal sebagai Pecinan. Pecinan yang memiliki bangunan khas berarsitektur China ini digunakan selain sebagai toko-toko tempat berdagang sekaligus sebagai tempat tinggal. Nun di atas bukit, merupakan tempat tinggal para petinggi perusahaan Tambang Timah Bangka yang dibangun oleh Banka Tin Winning, suatu perusahaan timah Belanda di zaman kolonial berupa bangunan-bangunan megah berarsitektur barat yang dahulu didiami orang-orang Eropa yang bekerja pada perusahaan Timah.
 
Kampung Telukrubiah atau Kampung Petenun yang menjadi tempat tinggal semasa kecil, merupakan salah satu pemukiman awal kota Muntok. Di kampung inilah rumah panggung orang tua Pak Amri berdiri. Rumah panggung berukuran besar itu posisinya langsung menghadap ke arah laut. Pun tepi laut tak jauh berada selemparan batu dari halaman rumah. Amri kecil sering diajak sang Abak (panggilan untuk ayah) menjala atau memancing ikan ke laut apabila pekerjaannya di TTB (sebutan PT Timah masa lalu) selesai. Kalau pun tidak, Amri kecil terkadang ikut membantu menarik pukat para nelayan. Perginya pun tak jauh-jauh, karena dahulu daerah ini masih asri, sungai dan laut pun penuh ikan. Warga pun kalau melaut hanya mengambil secukupnya. Tetapi Amri kecil paling suka bila diajak Abak jalan-jalan mengunakan mobil dinas TTB merk Chevrolet, misalnya ketika mengantar tamu ke Menumbing. Amri kecil pun sangat suka memperhatikan kalau Abak sedang mengutak-atik mesin mobil dan hal inilah yang membuat dia akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah jurusan teknik mesin di Pangkalpinang.
 
Pada masa itu tempat bermain serasa luas dan banyak, sungai yang mengalir membelah perkampungan Melayu pun masih deras, jernih, dan banyak ikannya. Sepulang dari Sekolah Rakyat dan kemudian menjadi sekolah dasar yang terletak di dekat permukiman Eropa. Terkadang Amri dan teman-temannya mandi di sungai atau pantai. Bosan mandi, mereka pergi mencari udang, lokan, kerang, kepiting yang banyak hidup di seputar sungai dan pantai. Kalau musim buah datang, mereka tinggal memilih untuk memanjat pohon yang ada di halaman rumah.
 
Masyarakat Melayu bisa disebut identik dengan orang Islam, karena itulah salah satu penanda perkampungan Melayu adalah keberadaan surau atau masjid. Masjid yang menjadi kebanggaan orang-orang Melayu Muntok adalah Mesjid Jamik yang lokasinya berada di kampung Tanjung. Menurut Pak Amri, cikal bakal kota Muntok ini berasal dari titah Sultan Mahmud Badaruddin I kepada Wan Akup, yang kala itu ditunjuk oleh sultan sebagai petinggi kesultanan Islam Palembang di Bangka untuk membangun tujuh rumah yang terletak di kampung Pekaumandalam (sekarang sudah menjadi perkuburan Kuteseribu), di samping beliau juga ditunjuk oleh sultan untuk mengoordinasi pertambangan timah setelah ditemukannya timah. Dimana pun Melayu berada, pastilah akan ada bangunan untuk beribadah, minimal surau. Dari surau inilah kemudian berkembang menjadi sebuah masjid yang sekarang dikenal sebagai Masjid Jamik Muntok. Yang istimewa, bahwa letak masjid ini persis bersebelahan dengan Kelenteng yang merupakan tempat beribadah orang-orang keturunan China dari kampung Pecinan. Hal ini menggambarkan bagaimana proses akulturasi berlangsung di Kota kecil ini.
 
Bagi Pak Amri dan teman-temannya, Masjid Jamik yang merupakan peninggalan leluhur orang-orang Melayu awal dari Siantan yang pertama bermukim di Kota Muntok ini menjadi bagian masa kecil yang tak terpisahkan. Halaman masjid ini menjadi tempat bermain, apalagi lokasi Mesjid Jamik tidak jauh dari sungai yang membelah tiga perkampungan. Bila Jumat tiba mereka biasa melakukan shalat di Mesjid Jamik yang terletak di Kampung Tanjung. Amri kecil pun sering bermain di perkampungan ini karena keluarga besarnya tersebar di ketiga Kampung Melayu tersebut. Apalagi rumah Abang tertua dari Mak, yaitu Hasan bin Muhammad Ali yang berjuluk Hasan Kengkang pun rumahnya di belakang Mesjid Jamik, selain itu tak jauh ke arah barat terdapat Tangga Seribu tempat permakaman kaum kerabat dimakamkan. Amri kecil bisanya pergi ke tempat ini mengikuti Mak yang biasanya berziarah setiap pagi Jumat.
 
Waktu yang paling ditunggu-tunggu semasa kecil adalah bulan Ramadhan, karena pada bulan inilah banyak kenangan asyik dan menyenangkan terjadi. Likuran, bermain meriam bambu, shalat tarawih di Mesjid Jamik, mengantar makanan ke para tetangga dan pulangnya membawa balasan, mengaji bersama-sama di surau, dan banyak hal lain yang justru tidak ditemui di bulan-bulan lainnya.
 
Ketika duduk di kelas 3 SDN I Muntok, suasana kampung Telukrubiah dan sekitarnya yang begitu asri, dan teman-teman di SDN 1 Muntok pun harus ditinggalkan karena Abak yang menjabat menjadi Kepala Garasi di TTB dipindahkan menjadi Kepala Garasi TTB di Pangkalpinang. Sempat beberapa bulan bersekolah di SDN 3 Pangkalpinang, Amri kecil dipindahkan ke SDN 10 Bukitbaru karena anak-anak pegawai TTB rata-rata disekolahkan di sana di samping memang letak rumah yang lebih dekat ke sekolah yang baru ini. Ternyata tinggal di Pangkalpinang tidak lama hanya kurang lebih dua tahun, karena dua bulan sebelum ujian SD, Abak pun dipindahkan kembali, kali ini ke arah Utara Pulau Bangka, ke kota Belinyu. Di kota kecil di ujung Utara Pulau Bangka inilah, Amri kecil menghabiskan waktunya hingga usia remaja. Setelah menamatkan SMP nya dari SMP Negeri 1 Belinyu, Amri remaja meneruskan pendidikannya ke STM Negeri Pangkalpinang. Selama pendidikan ini, Amri mengikuti abangnya yang berdiam di Pangkalpinang.
 
Merantau
 
Berbincang-bincang dengan orang tua yang satu ini rasanya tidak membosankan. Cara bicaranya yang relatif halus dengan langgam Melayu Muntok yang cukup kental membawa suasana bahwa kita sedang berada di tanah Melayu. Pak Amri Rani memang dibesarkan dalam adat istiadat keluarga turunan Melayu yang sangat kental, cara bicara yang khas tersebut tidak hilang walau hampir dari separuh usia dihabiskan di Bandung, Jawa Barat.
 
Tak kurang lebih 31 tahun waktunya dihabiskan di tanah Sunda, karena setelah menamatkan sekolahnya di STM Negeri Pangkalpinang, pada usia 18 tahun, Amri remaja merantau ke Bandung. Semasa di Bandung, Amri bergabung dengan pelajar/mahasiswa asal Bangka di asrama ISBA Bandung. Sempat menjadi pengurus ISBA Bandung tahun 1972 s.d. 1976 Amri pun pernah menjadi pengurus himpunan dan terkadang terjun bergabung membantu berbagai organisasi selama masa kuliah di Bandung.
 
Tahun 1976 Amri diterima bekerja di Proyek Pengembangan Bendungan Serbaguna Jatigede yang kala itu berada di bawah Kementerian PU. Di masa di Kementerian PU inilah, Pak Amri banyak mendapatkan pembelajaran dan pengalaman dalam bekerja dikarenakan kegiatannya yang sering menjadi pendamping para pakar dari luar negeri serta kemudian mendapat kesempatan menyelesaikan pendidikan Pascasarjana jurusan Pengembangan Sumber Daya Air dari Universitas Roorkee, India (1993). Baru pada tahun 2002, ketika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah terbentuk, Pak Amri memutuskan untuk pulang kampung. Karirnya yang ditempuh di Kementerian PU dari 1976-2002 selama lebih dari 25 tahun pun ditinggalkan, karena pada 2002 usulan permohonan untuk pindah ke daerah diterima dan disetujui.
 
 
Pulang Kampung
 
Pada 2002-2006 Pak Amri berdinas di Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, saat itu sebagai Kabid Fisra. Setelah berdomisili di Pangkalpinang kurang lebih 4 tahun, Pak Amri memutuskan untuk pulang kampung ke kota kelahirannya, Muntok. Gayung bersambut, dari sisi pekerjaan niat untuk pulang kampung mendapat kesempatan dari pemerintah kabupaten Bangka Barat. Jadilah pada tahun 2006, Pak amri kembali memboyong keluarganya pindah ke Muntok.
 
Suami dari Sunar Wirati dan ayahanda dari Amnar Hafizh dan Anggun Hafizah ini pun kemudian mengabdikan dirinya pada pemerintah kabupaten Bangka Barat. Mendapat amanah untuk menjadi Kepala Bappeda Kabupaten Bangka Barat pada 2006-2009, kemudian 2009-2010 menjadi Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Informatika Kabupaten Bangka Barat. Sempat menjadi Kepala Dinas ESDM tahun 2011-2012, sebelum pensiun dari PNS pada bulan Juli 2012.
 
Sejak di Bangka Barat inilah, dorongan yang kuat untuk bisa berbuat lebih banyak bagi kota kelahiran kembali muncul. Bayangan kenang-kenangan keadaan kota Muntok dari masa kecil begitu kuat berakar, mengantarkan Pak Amri untuk mengangkat Kota Muntok yang dahulu begitu hidup karena pernah menjadi kota pusat perdagangan timah dan lada dunia kembali menjadi perhatian. Keprihatinan akan hilangnya jejak-jejak sejarah yang sebenarnya begitu penting dan strategis yang dimiliki Kota Muntok seperti banyak bangunan bersejarah rubuh karena dimakan usia maupun sengaja dirubuhkan tanpa ada keinginan untuk mengetahui sejarahnya, membuat keprihatinan akan nasib kota kecil ini semakin menjadi. Yang memprihatinkan pula, banyak anak-anak Muntok tidak mengetahui bahwa Kota yang berusia kurang lebih 281 tahun ini (hari jadi secara administratif tanggal 7 September 1734), pernah menjadi Pusat Perdagangan Timah (Muntok Tin) dan Lada Dunia (Muntok White Pepper); tidak tahu bahwa Kota ini pernah menjadi tempat Jepang menawan sekitar 1.000 tawanan perang dunia ke-2; pun tidak pula tahu bahwa di Kota ini pula Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta bersama beberapa pejabat penting lainnya pernah diasingkan pada tahun 1948-1949 selama kurang lebih 6 bulan setelah Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda yang memboncengi tentara Sekutu pada tahun 1948.
 
Muntok Heritage Community
Pengamatan dan pengalaman semasa menjadi Kepala Bappeda Kabupaten Bangka Barat menjadi bekal penting dalam langkah Pak Amri selanjutnya. Ruang dan jejaring pun semakin luas dan banyak. Ternyata bukannya masyarakat Muntok tidak peduli dengan kondisi Kotanya, tetapi rasa tidak berdaya, tidak tahu harus mulai dari mana, siapa yang bisa dijadikan tempat bertanya, siapa yang mau dan bisa menggerakkan pihak-pihak penting terkait keberadaan Kota Tua Muntok, siapa yang mau menjadi volunteer kerja bakti membangun Kota, dan masalah dana, serta banyak pertanyaan lain yang ternyata menjadi sumber masalah. Setelah bertemu dengan orang-orang inilah, mulai terangkai rencana yang kemudian disusun dan dilaksanakan menjadi kegiatan yang melibatkan tidak hanya pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat Muntok dan pihak swasta seperti yang dilakukan oleh PT Timah (Persero) Tbk, khususnya Unit Metalurgi Muntok.
 
Upaya untuk menjadikan Kota Muntok sebagai Kota Pusaka kemudian dirintis. Bersama-sama dengan berbagai pihak, berbagai upaya dan terobosan pun dilakukan. Antara lain, pada 2006-2008 upaya yang dilakukan adalah melakukan riset bekerja sama dengan Universitas Trisakti dalam rangka mendorong Cagar Budaya yang ada di Kota Muntok masuk sebagai warisan budaya dunia versi UNESCO. Selain itu dilakukan pula Pembentukan Lembaga Adat Kabupaten Bangka Barat. Tahun 2009 upaya yang dilakukan antara lain: mendaftarkan Kota Muntok sebagai anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI); menyelenggarakan Hari Jadi Kota Muntok; menyelengarakan pelatihan seni budaya serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang wisata dan kota pusaka. Pada tahun yang sama Pusat menetapkan enam bangunan bersejarah Kota Muntok menjadi Cagar Budaya, yaitu eks Kantor Banka Tin Winning, Pasanggrahan Muntok, Pesanggrahan Menumbing, Mesjid Jamik Muntok, Kelenteng Kong Fuk Miau, dan Rumah Mayor China.
 
Buku The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok Karya Kemas Ridwan Kurniawan
 
Ketika menjadi Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Informatika Kabupaten Bangka Barat, tahun 2010 dengan didukung oleh berbagai pihak dari masyarakat maupun swasta, untuk pertama kalinya dilaksanakan Festival Muntok “Kota Seribu Kue”. Pada festival ini juga dimunculkan beberapa perlombaan seperti lomba permainan rakyat, lomba Gasing dan lomba pantun bersahut. Festival Muntok “Kota Seribu Kue” pun memecahkan Rekor MURI. Namun sayangnya setelah festival yang cukup berhasil itu, program dan kegiatan yang fokus mengarahkan pengembangan dan pelestarian Kota Tua Muntok kembali lesu bahkan mati suri. Target menuju Kota Pusaka sempat tertatih.
 
Festival Muntok Kota Seribu Kue
 
Dari keprihatinan terhadap kurangnya kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap nasib Kota tua Muntok, pada 7 September 2011 bertempat di RM Roemah Keboen, lahir Muntok Heritage Communnity (MHC) yang digagas oleh antara lain: Sopian Sahaba, Rusli Rasyidie, Arman Abu Hurairah, Ir. M. Rizky, Fakhrizal Abubakar, dan Amri Rani, dengan tujuan untuk mendorong Kota Muntok sebagai heritage yang dikenal tidak saja di tingkat nasional bahkan dunia. Pada tahun inilah pada saat menyelenggarakan pameran foto zaman prakolonial, Perang Dunia II, Kemerdekaan, juga me-launching blogspot Muntok Heritage Community.
 
Setelah itu upaya-upaya yang dilakukan oleh Muntok Heritage Communnity (MHC) cukup signifikan dalam upaya mendorong Kota Muntok menjadi Kota Pusaka. Pada tahun yang sama (2011), diselenggarakanlah pameran foto yang memuat zaman prakolonial, kolonial, Perang Dunia II dan Kemerdekaan. Pada tahun 2012 diselenggarakan perlombaan permainan tradisional. Pada tahun 2013 MHC menyelenggarakan tidak kurang dari 15 kegiatan dalam upaya mendorong Kota Muntok sebagai Kota Pusaka. Kegiatan-kegiatan itu antara lain: melakukan konsultasi ke Balai Arkeologi Palembang; menyelenggarakan seminar menuju Muntok sebagai Kota Pusaka; melaksanakan lomba permainan tradisional dan lomba lagu Melayu; membentuk subunit heritage kampung Petenun (Telukrubiah); menyelenggarakan workshop dalam rangka mengungkit apresiasi pelajar terhadap sejarah dan cagar budaya; menyusun perencanaan guna revitalisasi/rehabilitasi/rekonstruksi kota tua Muntok; membentuk Tim Fasilitasi Pengelolaan Kota Pusaka; Melakukan konsultasi ke Balai Penelitian Nilai Budaya di Tanjungpinang; melakukan konsultasi ke Balai Pelestarian Cagar Budaya di Jambi; melakukan penelusuran jejak keberadaan makam Nek Senguk (ibunda SMB I), Ratu Iliring dan Rubia; Penyusunan buku The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok yang merupakan kerja sama antara Muntok Heritage Community (MHC) dengan PT Timah (Persero), Tbk dan Departemen Arsitektur Universitas Indonesia; melakukan sosialisasi dan edukasi di media massa melalui talkshow di radio dan koran lokal; melaksanakan jalan santai napak tilas ke klaster kampung Melayu; Pameran Seribu Kue serta Pameran Foto.
Pameran Foto-Foto Kota Muntok
 
Upaya ini kemudian berbuah setelah usulan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2013 untuk menjadikan Kota Muntok sebagai tuan rumah pelaksanaan Homestay Fair 2014 yang rencananyanya akan diikuti oleh 10 negara anggota ASEAN, diakomodasi oleh Kementerian Pariwisata yang menetapkan Muntok sebagai tuan rumah Homestay Fair 2015.
 
Pensiun dari PNS pada bulan Juli 2012 disongsong dengan niat untuk lebih fokus mengelola MHC, lelakon pun dilakukan seperti menjadi: narasumber untuk kegiatan Pemilihan Bujang-Dayang Kabupaten Bangka Barat; menjadi fasilitator sekaligus narasumber Kota Pusaka; pun menjadi narasumber tentang kepariwisataan dan Kota Pusaka bagi pelajar di Kabupaten Bangka Barat.
 
Chairul Amri Rani was born in 16 June 1952 into a high discipline family of Abdurrani bin Muhammad Ali and Siti Rohani, in Muntok, a small town situated at the westernmost point of Bangka Island. He spent his childhood in Muntok only until the third grade of primary school. However, since Muntok is a heterogeneous town, it affected him very much and made him use to diversity.
 
Early Life
Muntok was established by settlements based on their tribes such as settlement of native Muntok coming from Siantan, Chinese descents, and European settlement. The natives of this area previously lived in three villages or kampong, which later developed into Muntok. The three kampongs were Jiransiantan, known as kampong Tanjung at this present, kampong Pemuhun or kampong Ulu, and kampong Petenun which is familiarly known as kampong Teluk Rubiah. The typical of those kampongs was having wooden stage houses built on a large yard planted by kinds of trees such as mango (locally known as pelam), breadfruit, rambutan, rose apple, and others. Another characteristic was the floral terraces.
 
Amid the Malay kampong, there was a Chinese settlement known as Pecinan. The houses in this settlement had typical Chinese architectural buildings used for both trading and living. Far away on the hill, there was a housing complex of Bangka tin mining company officials. Built by Banka Tin Winning, a Dutch colonial tin mining, the grandeur western architectural buildings in the complex were dwelt by European employees.    
 
Little Amry lived in one of the Malay kampongs, Telukrubiah or Petenun, in where his parents’ big stage house stood facing the sea. His Abak, the call for his father, often asked him to catch fish with a casting net or bait after coming home from his work in TTB (the name of PT. Timah, a state-owned tin mining company in the old days). He sometimes helped fishermen to pull their dragnets. They only took fish adequately when they went fishing. He did not have to do it far from his house, because the environment was still green and the fish are easily to catch in both river and sea. His favorite thing was taken a ride by Abak on his Chevrolet official car, like driving guests to Menumbing. Amri loved to watch his father fixing the car. Therefore, he finally decided to continue his education to technical high school majoring in mechanics in Pangkalpinang.
 
There were many areas for playing, including fast-flowing clear water river with its fish in the middle of his kampong. Therefore, if Amri and his friends got bored swimming in the river and beach, they looked for shrimp, bivalve, mussel, or crab around the river and beach. If the seasonal fruit was ripening, they just chose what tree to climb in front of their houses.
 
Since Malay usually refers to Muslim, one of the landmarks of Malay settlement is mosque. The pride of Muntok Malay community is Jamik mosque in kampong Tanjung. According to Amri, it was all started from the order of Sultan of Palembang, Mahmud Badaruddin I, to his representation in Bangka, Wan Akup, to build seven houses in Pekaumandalam – known as Kuteseribu cemetery now – besides to manage the tin mining. He also built a surau or small mosque, which was then developed into Jamik mosque. Its location, which is right beside a Chinese temple for Pecinan people, makes it an extraordinary one. It shows how the cultures acculturate to each other in this town.   
 
For Amry and his friends, the Jamik Mosque that inherited from the ancestors from Siantan was an unforgettable part of their childhood. The mosque, which yard was their playground, was not far from the river flowing in the middle of the three kampongs. On Friday, they usually performed Jum’at prayer there. He liked to play in the three kampongs because his big family lived there. The house of his mother’s oldest brother, Hasan Bin Muhammad Ali known as Hasan Kengkang, was behind the mosque, and not far from the house there is Tangga Seribu, his relative cemetery. Little Amry usually followed his mother to this place in the west side of the mosque to visit the graves every Friday morning.
 
The most awaited moment for him was Ramadhan. Many fond memories of his childhood were in this month. Likuran, playing bamboo cannon, praying tarawih in the mosque, sending food to his neighbors and bringing home other food in return, and reciting Qur’an together in the mosque were among other things. Those would never be found in the rest months.
 
In spite of his love to his pleasing kampong and his friends, in his third grade of Elementary School 1 Muntok, he had to move to Pangkalpinang because Abak was reassigned there to hold the same position as the head of TTB workshop. Amri continued his study in an elementary school, namely SD 3 in this city for a few months then he moved to SD 10, not far from his house in Bukit Baru, in where the children of the TTB employees commonly studied. He only studied here for about two years before his father reassigned once again to Belinyu just two months before his examination. In that northernmost town of the island, Amri spent his childhood and teenage life. After graduating from the public junior high school (SMP 1), Amri lived in Pangkalpinang to continue his study to public technical high school (STM). He stayed with his brother in this city.  
 
Leaving the Homeland
Having a conversation with Amri will never be boring. His quite thick Malay accent in polite sentences will bring us to Malay land. It was because he was raised in a family strongly upholding the tradition. Therefore, he still has the accent even though he spent almost half of his age in Bandung, West Java.
 
He started to move or merantau to Bandung when he was 18, after graduating from STM, and lived there for about 31 years. In this place, he lived in ISBA dormitory together with other Bangkanese students. ISBA is Bangkanese Student Association. He even became its board in 1972 to 1976 besides involving in many organizations there. 
 
In 1976, Amri worked in the Jatigede Multipurpose Dam Development Project under the Public Works Ministry. During this time, he had many working experiences to accompany international experts. He also had an opportunity to get his master in Roorkee University, India, in 1993, to study about water resource development. In 2002, when Kepulauan Bangka Belitung was established, Amri decided to come home. He left his 26 years career serving in the ministry by becoming a regional employee.
 
Coming Home
In 2002 – 2006, Amri served in Provincial Development Planning Agency of Bangka Belitung as Infrastructure Division Head. After four years serving, he decided to move to his hometown, Muntok. His intention was approved by the regional government of Bangka Barat Regency. In 2006, he took his family with him to Muntok.
 
Amri, the husband of Sunar Wirati and the father of Amnar Hafizh and Anggun Hafizah, was then trusted to be the head of Regional Development Planning Agency in 2006 – 2009 and the head of Transportation, Tourism and Informatics Agency in 2009-2010. He ever led Energy and Mineral Resources Agency in 2011 – 2012 before retiring from civil servant in July 2012.
 
Living in Bangka Barat strongly increased his motivation to contribute more to his hometown. The memories of old Muntok that firmly rooted from his childhood encouraged him to promote Muntok which was already internationally well known for its pepper and tin trading. His concern over the town, which had a strategic and important position in the old days, was more encouraged by the fading of its history. The historical buildings are destroyed by nature due to the old ages or being torn down without any intention to know their stories. Furthermore, many of the young generation do not know if their 281-year-old town (administratively established on 7 September 1734) was the center world of tin trading (Muntok Tin) and pepper (Muntok White Pepper). They also know neither the city was used to imprison about a thousand WW II prisoners nor a place to exile President Soekarno, the Vice-president Hatta, and some of important political figures for about six months in 1948-1949 after Jogjakarta was occupied by Dutch and its alliance in 1948.
 
Muntok Heritage Community
His working experience, as the head of Regional Development Planning of Bangka Barat, is not only important in his life but also broadens his knowledge. He found out that Muntok people actually concerned about their town, but they were powerless and waited for an initiator to move the related important figures to build their old town, including collecting the fund and solving many other things. After meeting these people, a plan was set up and then executed not only by the regional government, but also by Muntok community and the state-own tin mining company, PT Timah, especially its Muntok Metallurgical Unit.
 
The efforts to make Muntok as one of the heritage towns were then started. Many breakthroughs were executed together with other parties such as establishing a customary law institution and conducting a research on heritage-listed sites with Trisakti University during 2006-2008 in order to make those cultural heritages as one of UNESCO world heritages. In 2009, the efforts were to register Muntok as a member of Indonesia Heritage Town Network (JKPI), to celebrate the anniversary of Muntok, to organize arts and culture workshop, and to educate the community on tourism and heritage. In the same year, the central government stipulated that six of historical buildings in Muntok are the cultural heritages, namely ex-Bangka Tin Winning office, Pesanggrahan (rest house) Muntok, Pesanggrahan Menumbing, Jamik Mosque of Muntok, Kong Fuk Miau Chinese temple, and Chinese Mayor House.
 
In 2010, Amri Rani also initiated the Festival of Muntok, namely Kota Seribu Kue, literary means a thousand snacks town, when he served as the head of Transportation, Tourism and Informatics Agency. Traditional games, spinning top, and pantun (quatrain of old Malay poem) were competed in the festival and the festival Kota Seribu Kue was able to break the record of MURI (Indonesian Museum of Record). Unfortunately, after the quite success festival, the programs and activities concerning developing and preserving the old town got slowdown – not to say almost stop. Thus, the process to be a heritage town was in fits and starts. 
 
Starting from his concern over the lack of government and public attentions toward the old town, Muntok Heritage Community (MHC) was established in Roemah Keboen restaurant on September 7th, 2011. Besides him, it was also initiated by Sopian Sahaba, Rusli Rasyidie, Arman Abu Hurairah, Ir. M. Rizky, and Fakhrizal Abubakar. It aims to put Muntok to be recognized nationally and internationally on the map. Therefore, they held a photograph exhibition of pre-colonial, WW II, and post-colonial era, and also launched blog of Muntok Heritage Community.
 
In fact, MHC had held quite significant events to support Muntok as a heritage town ever since. Besides performing the photograph exhibition in 2011, they also held a traditional games competition in 2012 and they continued by held 15 events in 2013 to encourage Mentok to be heritage town. The first five events consisted of consulting to Palembang Archeological Office, holding a seminar titled Muntok towards a Heritage Town, organizing the traditional game and song competition, establishing the heritage village of Petenun (Telukrubiah), and running a workshop in order to encourage student’s appreciation of history and cultural heritage. The second five events were setting up a plan to revitalize the old town, forming a team to manage the town, consulting the Preservation of Cultural Value Office Tanjungpinang, consulting Cultural Heritage Preservation Office of Jambi, tracing the existence of Nek Senguk (mother of Sultan Mahmud Badarudin I), Queen Iliring and Rubia graves. The last five were compiling the book of The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok (co-written with PT Timah, and the Department of Architecture of Indonesia University), organizing a dissemination and education in mass media such as talk show on the radio and publication in local newspapers, holding a fun walk to Malay kampong cluster, and performing Seribu Kue and photograph exhibition.
 
This effort turned out to be successful after the provincial government’s proposal in 2013 for Homestay Fair 2014 was approved by the Ministry of Tourism in the following year. Muntok was the host for the Homestay Fair 2015.
 
After retiring as a civil servant in July 2012, Amri Rani focuses on managing MHC by acting as a speaker at Bujang Dayang competition, Heritage town, and Tourism in Bangka Barat Regency.
Translator: Syekh Ahmad Sobri
English Editor: Rosy Handayani
Photo: Rusni
Penulis: 
Yuyun Triwidowati
Sumber: 
Interview oleh Yuyun Triwidowati (Disbudpar Babel, 2015)
Images: