3 Karya Budaya Belitung Timur Jadi WBTB Indonesia 2018

Pangkalpinang – Setelah Tari Serimbang asal Bangka Barat, kini Sidang Penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) memutuskan 3 karya budaya asal Belitung Timur lolos sebagai WBTB Indonesia 2018. Dengan demikian, ada 4 karya budaya Bangka Belitung yang menjadi WBTB Indonesia, yakni Tari Serimbang, Hadrah Gendang Empat, Emping Beras, dan Sepen Buding.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel) melalui Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan, Zuardi menyampaikan hasil Sidang Penetapan WBTB Indonesia 2018 yang berlangsung di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (2/8) lalu.

 

“Sebelumnya kan Tari Serimbang, itu statusnya memang sudah lolos sejak pembahasan pertama. Masih ada 5 karya budaya yang statusnya “Perbaikan”. Setelah kita melengkapi berkas “Perbaikan” di Sidang Penetapan kemarin, ternyata lolos lagi 3, yakni Hadrah Gendang Empat, Emping Beras, dan Sepen Buding. Sedangkan Akek Antak dan Pong Pong Alu tidak lolos,” jelas Zuardi yang diwawancarai di ruang kerjanya, kantor Disbudpar babel, Pangkalpinang, Selasa (7/8).

 

Selain berbangga hati, karya budaya yang belum lolos menjadi WBTB dapat diusulkan kembali di tahun berikutnya. Kajian yang lengkap dan juga video termasuk kelengkapan data yang sangat penting.

 

“Tentu saja kita bangga karena tahun ini ada 4 karya budaya Bangka Belitung yang sudah menjadi WBTB Indonesia. Karya budaya yang belum lolos masih punya kesempatan untuk diajukan kembali tahun depan. Tergantung kelengkapan data, seperti kajian dan juga video untuk mendukung karya budaya tersebut,” kata Zuardi.

 

Zuardi juga mengatakan bahwa selain Tari Serimbang, kelima budaya lainnya juga sudah melalui “perbaikan” yang diminta oleh Tim Penilai Sidang Penetapan.

 

“Kalau Tari Serimbang kan memang sudah lolos sejak tahap pertama pembahasan. Sedangkan lima lainnya harus diperbaiki dahulu,” katanya.

 

Sementara Hera Riastiana, Pengelola Urusan Kerjasama Pengembangan Seni dan Budaya menjelaskan mekanisme pengusulan karya budaya sebagai WBTB Indonesia.

 

“Sebelum kita mengusulkan karya budaya, biasanya kita mendapatkan surat Pengusulan WBTB dari Kemendikbud, dan surat ini kita jadikan dasar untuk kita teruskan ke kabupaten/kota. Kemudian, kabupaten/kota akan mengirimkan daftar usulannya, dalam waktu ±1 bulan. Dari daftar tersebut, kita seleksi dulu kelengkapannya, baru diusulkan,” jelas Hera.

 

Dalam pengusulan, karya budaya baru pun dapat diikutsertakan, meski pun belum memiliki data atau kajian yang lengkap. Hal ini dilakukan untuk dapat dicatat dalam Sistem Pencatatan WBTB Indonesia.

 

Berkaitan hal tersebut, Hera menjelaskan, “Kalau ada usulan karya budaya yang baru atau belum pernah diusulkan, bisa tetap kita ajukan walau pun datanya belum lengkap. Pengajuan ini agar karya budaya tersebut dapat dicatat di Sistem Pencatatan WBTB Indonesia dan dilindungi.”

 

Penilaian atau seleksi yang dilakukan di Provinsi tentu saja berbeda dengan Tim Penilai WBTB Indonesia. tim Penilai lebih menilai pada isi dan kelayakan. Sementara Provinsi melihat kelengkapan data pendukung.

 

“Kalau Tim Penilai WBTB Indonesia atau pusat lebih menilai pada isi dan kelayakan. Apakah suatu karya budaya yang diusulkan dari provinsi benar-benar pantas menyandang predikat WBTB Indonesia,” kata Hera.

Hadir bersama Zuardi saat Sidang Penetapan WBTB Indonesia 2018, yakni Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Bangka Barat Bambang Suseno, Pamong Budaya Belitung Timur Adi Guna, dan Hendri dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjung Pinang. Tahap terakhir dalam penetapan ini adalah penyerahan sertifikat WBTB yang akan dilaksanakan pada Oktober mendatang.

 

Penulis                   : Ernawati Arif (Pranata Humas)

Foto                        : kebudayaan.kemdikbud.go.id